Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Semesta Al-Fatihah [1]: Tafsir Sufistik-Kejawaan Manuskrip Kiai Mustojo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia lewat Nabi Muhammad Saw sebagai pedoman hidup. Oleh karena itu, al-Qur’an haruslah bersifat ṣāliḥ likulli zamān wa makān. Al-Qur’an juga menjadi sebuah pondasi dan pijakan kehidupan teologi umat manusia maupun kehidupan sosial kemasyarakatan manusia (Q.S. Al-Baqarah (2): 2, 183).

Al-Qur’an hanyalah sebuah teks yang bisu ketika tidak adanya sebuah dialog antara teks, mufasir dan realitas. Karena teks begitu rigid dan statis, sedangkan realitas selalu dinamis dan fleksibel, sehingga dibutuhkan sebuah proses dialektika antara teks, akal dan realitas secara terus-menerus.

Proses interpretasi (penafsiran) atas al-Qur’an ini melibatkan berbagai kalangan sejak diturunkannya wahyu tersebut. Proses ini dimulai sejak zaman kenabian, kemudian dilanjut oleh sahabat sampai tabi’in (kurang lebih abad 11 H). Proses interpretasi akan menjadi proyek yang tidak akan habisnya.

Perkembangan tafsir di Indonesia, sebenarnya telah dimulai pada abad ke-16 M. Pada periode tersebut ditemukan sebuah tafsir surah al-Kahfi yang tidak diketahui nama pengarangnya.

Diduga tafsir ini  ditulis pada masa awal pemerintahan sultan Iskandar Muda (1607-1636), di mana mufti kesultanannya adalah Syamsuddin as-Sumatrani, atau bahkan sebelumnya, Sultan Alaudin Riayat Syah (1537-1604), di mana mufti kesultanannya adalah Hamzah Fansuri (Ahmad Atabik, 2014: 305-324).

Satu abad kemudian muncul karya tafsir Tarjuman Al-Mustafīd yang ditulis oleh Abdurrouf al-Singkili, kemudian di penghujung abad ke-18 Syeikh Nawawi Banten menulis tafsir yaitu Marāh Labīb Likasfi Ma’na Al-Qur’ān Al-Majīd diterbitkan di Mekkah pada tahun 1880, tafsir ini di tulis dalam bahasa arab (Iskandar, 2015: 189-200).

Kemudian pada awal abad 19 K.H. Muḥammad Sāliḥ bin ‘Umar as-Samaranī (1820-1903)—dikenal juga dengan nama Kiai Saleh Darat—menulis tafsir Faiḍ al-Raḥmān fī Tarjamāh Kalām Mālik al-Dayyān (Islah Gusmian, 2016: 141-168).

Sedangkan beberapa mufassir di Jawa cenderung menggunakan corak tasawuf dalam menafsiri al-Qur’an. Tasawuf yang dipakai merupakan perpaduan antara tasawuf Islam dan tasawuf mistik Kejawaan yang bertolak pangkal kepada konsep manunggaling kawula-Gusti yang dirintis oleh Syekh Siti Jenar.

Salah satunya tafsir dengan corak tersebut adalah tafsir yang ditulis oleh Kiai Mustojo. Tafsir Kiai Mustojo merupakan salah satu manuskrip abad 19 M yang ditemukan di Ponorogo.

Dalam membaca surat al-Fatihah, beliau sama sekali tidak menampakkan penafsiran yang memuat konten kebahasaan, juga tidak menguraikannya sebagaimana para mufasir lain yang lebih mementingkan sinkronitas antara teks dan konteks yang melingkupi teks tersebut. Akan tetapi, beliau lebih mebaca al-Fatihah dalam hal pelungguhan (kedudukan) tiap kata dari al-Fatihah dalam tubuh manusia.

Penafsiran yang dimunculkan oleh seorang sufi memang tidak mudah untuk dipahami, apalagi jika penafsirannya dipengaruhi ajaran sufi Jawa yang kental dengan nuansa ajaran manunggaling kawula-Gusti. Pemikiran Kejawaan yang cenderung logosentris ini akan selalu digunakan dalam membaca apapun yang dilihatnya, mulai dari manusia sampai teks suci. Ajaran ini menganggap bahwa Tuhan merupakan jiwa alam atau dzat kosmis, dan dzat Tuhan ada di mana-mana termasuk dalam diri manusia.

Dari pemikiran di atas muncullah pemahaman bahwa manusia pada dimensi esoteris merupakan gambaran dari Tuhan itu sendiri, sehingga antara Tuhan dan manusia bisa menyatu (biasanya disebut sebagai tingkatan Ma’rifat), dan manusia tidak lagi akan memburu ritual ibadah yang berdasar syari’at.

Kiai Mustojo

Bagi para ahli sufistik-Kejawaan, seseorang yang  berada di tingkatan ini haruslah cerdas secara intelektual, spiritual, maupun emosional, sehingga tidak sembarangan dalam membaca teks al-Qur’an dengan pemahamannya yang rawan dengan kesalahpahaman. Orang yang berada dalam tingkatan ini dalam menerangkan dan menafsiri al-Qur’an pun terkesan nyeleneh dan berbeda dari para penafsir lainnya, karena melihat bahwa al-Qur’an akan selalu bersifat terbuka dengan proses dialektika dengan pemahaman sufistik-Kejawaannya.

Dalam menemukan biografi Kiai Mustojo, penulis sangat kesulitan karena memang dari keluarganya atau anak cucunya banyak yang tidak tahu detail perjalanan hidupnya. Mereka hanya tahu garis besar perjalanan hidupnya saja, seperti pernikahan, bahkan tahun kelahiran dan kematiannya pun tidak diketahui.

Menurut keterangan dari Mi’atus Solihah salah satu cucunya, Kiai Mustojo menikah dua kali namun tahun berapanya ia tidak tahu, dari istri pertama yaitu mbah Tuwiyah, ia mempunyai 4 anak, yaitu Pingah, Musman, Kasmilah, dan Marto Alim. Kemudian istri pertamanya meninggal lalu menikah lagi dengan mbah Solemah, putri Kiai M. Abu Hasan, Carangrejo, Sambit. Dari pernikahannya yang kedua ia memiliki 7 orang anak, yaitu Ngatun, Simar, Tumirah, Iskak, Abdul Rahman (Dul), Isman dan Tusirah.

Sedangkan menurut Siti Aminah, Kiai Mustojo berasal dari Demak dan diutus dari pesantren tempat ia belajar dulu untuk babad dusun Mojo, Kepuhrubuh, bersama tiga saudaranya, yaitu Mbah Nanung dan yang satu tidak diketahui identitasnya. Ia juga mendirikan sebuah musholla di Dusun itu. Menurut penuturan Siti Aminah ia meninggalkan manuskrip ini dan juga musḥaf al-Qur’an tulis tangan namun keberadaan musḥaf al-Qur’an tersebut sekarang hilang, entah kemana.

Sebenarnya manuskrip naskah ini tidak berjudul, karena tidak ditemukan sampul ataupun kata yang menunjukkan judul dari naskah tersebut. Maka dari itu, penulis memberi nama naskah ini sesuai nama pengarangnya yaitu Kiai Mustojo. Kiai Musjoto merupakan mbah canggah penulis.

Sepertinya naskah ini merupakan naskah pedoman sebuah tarekat tertentu, mungkin saja tarekat Shaṭṭāriyya jika dilihat dari ajaran martabat tujuhnya atau bisa jadi tarekat Akmāliyya/Kamāliyya seperti yang telah disebutkan pada bab tranmisi sanad di manuskrip ini.

Keadaan naskah kurang baik. Karena tidak ada sampulnya jadi bagian belakang dan depan naskah sudah terlihat usang, bahkan pada bagian tertentu sudah berjamur. Lembarannya pun banyak yang terlepas dari jilidan, bahkan pada halaman terakhir terdapat lobang dan bagian kertas yang sobek. Ukuran naskah  17 cm x 21 cm. Ukuran teks 12,5 x 16 cm. Tebal naskah 44 halaman (40 halaman isi dan 1 halaman kosong). Jumlah baris per halaman rata-rata 12 baris, kecuali halaman yang berisi gambar dan bagan. Teks ini ditulis dengan aksara Jawa-Pegon.

Kiai Mustojo memisahkan basmalah dari al-Fatihah atau tidak memasukkannya ke dalam al-Fatihah, karena beliau memberikan penafsiran tersendiri kepada basmalah. Penafsiran beliau tentang basmalah sebagai berikut:

Bismi,bā-né atuduhå maring badan alus. Sin atuduhå marang råså têtêlu ånå manuså kabèh. Alipé atuduhå maring sejatiné manuså. Awakémīm atuduhå maring kåwulå-Gusti ora kênå pisah-pisah, balungémīm atuduhå maring ati gêtih wadhahé ruh nênêm nålikå aturu, buntuté mīm atuduhå maring ruh kang mêrsulå kang dadiangipi. Allāh, utawi lafadh Allah atuduhå maring kang murbå miséså. Al-Raḥmān, utawi lafadh al-raḥmān atuduhå Allah aparing murah ing donyå. Al-Raḥīm, utawi lafadh rahīm iku atuduhå Allah asih ing akhéråt. (hal. 8)

[Bismi, bā-nya menunjukkan kepada badan halus (astral). Sin menunjukkan kepada tiga rasa yang ada dalam diri semua manusia. Alif menunjukkan kepada kesejatian manusia sebenarnya. Mīm menunjukkan kepada kawula-Gusti yang takkan bisa pisah, tulang mīm menunjukkan kepada hati, darah, tempatnya ruh yang enam ketika tidur dan ekor mīm menunjukkan kepada ruh yang menjelma menjadi mimpi. Allāh, atau lafaz Allah menunjukkan kepada Yang Maha Meliputi Sesuatu. Al-Raḥmān, atau lafaz al-raḥman menunjukkan Allah Maha Pemurah di dunia. Al-Raḥīm, atau lafaz rahīm itu menunjukkan Allah Maha Pengasih di akhirat.]

Dengan melihat tafsir di atas, tampak Kiai Mustojo menafsiri basmalah secara perkata, bahkan dalam lafadz Bismi per-huruf. Bisa dilihat huruf yang ditafsiri hampir keseluruhan merupakan simbol insān kāmil dalam dunia sufi. Hal ini cukup menjelaskan bahwa penafsiran Kiai Mustojo ini merupakan penafsiran sufistik naẓariy, karena lebih memaksimalkan pembacaan ayat al-Qur’an dengan pengetahuan teoritis sufistiknya (Al-Dhahabiy, (Juz 2), hal. 339).

Kemudian Kiai Mustojo menafsirkan ayat 2-7, penafsirannyaterhadap ayat ini cenderung ingin membaca manifestasi kalimat al-Qur’an dalam bagian tubuh manusia seperti berikut:

Al-Ḥamdu (badan); Lillāh (hati); Rabbi (nyawa); Al-‘Ālamīn (rasa); Al-Raḥmān (cahaya); Al-Raḥīm (kulit); Maliki (darah); Yaumiddīn (otot); Iyyaka (daging); Na’budu (kepala); Waiyyāka (bulu); Nasta’īn (pengucap); Ihdinā (penciuman); Sirāṭ (penglihatan); Al-Mustaqīm (pendengaran); Sirāṭ (limpa); Al-ladhīna (punggung); An’amta (para nabi); ‘Alaihim (para wali); Ghairi (para sahid); Al-Maghḍūbi (tulang); ‘Alaihim (sumsum); Wa lāḍḍallīn (penerimaan); Āmīn (permintaan).

Penafsiran di atas tentunya tidak terlepas dari konsep insān kāmil sebagai wujud kemanunggalan. Insān kāmil merupakan perpaduan dimensi fisik dan astral, dan seluruh penafsiran di atas merupakan manifestasi dari perpaduan kedua dimensi tersebut. Sama seperti penafsiran atas basmalah, hal ini cukup menjelaskan bahwa penafsiran Kiai Mustojo ini merupakan penafsiran sufistik naẓariy yang lebih memaksimalkan pembacaan ayat al-Qur’an dengan pengetahuan teoritis sufistiknya. []

Bersambung…

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme