Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Semesta Al-Fatihah [2-Habis]: Tafsir Sufistik-Kejawaan Manuskrip Kiai Mustojo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Mempertimbangkan penafsiran Kiai Mustojo yang penuh dengan ajaran manunggaling kawula-Gusti, maka penafsirannya akan selalu ingin mengungkap makna di balik makna literal sebuah kata dalam al-Fatihah yang sesuai dengan ajaran yang beliau anut tersebut.

Meski memiliki makna yang lebih dari makna literal (makna konotatif), bukan berarti makna literal (makna denotatif) yang ada dalam al-Qur’an tidak begitu penting. Sebab makna literal dari sebuah kata yang ada dalam al-Qur’an menjadi pintu gerbang bagi masuknya pemahaman terhadap makna-makna lainnya.

Makna konotatif dari sebuah kata yang digunakan dalam penafsiran sebuah kata dalam al-Qur’an juga tidak terlepas dari pengalaman personal dan kultural si penafsir seperti yang telah dijelaskan di atas. Misalnya, dalam menafsirkan kata “al-maliki” dengan darah. “Al-maliki”, mempunyai arti literal menguasai, merajai, dan mengatur. Al-Ṭabariy dalam tafsirnya menafsiri kata “al-maliki” dengan “al-mulk” (raja) (Al-Ṭabariy, 1994, Juz 1, hal. 65).

Inilah rujukan pertama yang secara konvensional diterima oleh orang Arab. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah Tuhan sedang membicarakan tentang rujukan tersebut atau tidak? Ataukah kata “al-maliki” dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang lain?

Kiai Mustojo menangkap makna “al-maliki” dengan pemahaman sufistik-Kejawaannya dengan mengatakan bahwa “al-maliki” bermakna darah. Ia mencoba mencari makna konotatif menggunakan pendekatan ajaran keagamaannya tentang manunggaling kawula-Gusti. Kiai Mustojo menafsirkan “al-maliki” dengan darah karena fungsinya sebagai pengatur kebutuhan jaringan tubuh manusia, dan hal ini sama dengan “al-maliki” yang mempunyai makna denotatif (literal), yaitu mengatur.

Hal ini sesuai dengan makna dari penafsiran tersebut, karena memang fungsi darah memenuhi kebutuhan jaringan tubuh, termasuk zat makanan ke jaringan tubuh, memelihara lingkungan yang sesuai di dalam seluruh jaringan tubuh agar sel bisa bertahan hidup dan berfungsi secara optimal.

Kalimat “an’amta ‘alaihim ghairi” oleh Kiai Mustojo ditafsiri dengan para Nabi, para Wali, para sahid. Padahal makana literal dari kalimat tersebut adalah “yang engkau beri nikmat dan bukan”. Hubungannya para Nabi, Wali dan sahid dengan pemberian nikmat karena para Nabi, para Wali, dan para sahid merupakan perwujudan insān kāmil.

Nikmat yang diberikan kepada insān kāmil adalah rasa kemanunggalan dengan Tuhan. Dalam kondisi manunggal, manusia akan mengalami sebuah kondisi ektase dan segala pikiran, perkataan, dan perbuatannya tidak lain adalah pikiran, perkataan, dan perbuatan Tuhan.

Kiai Mustojo

Yang lebih unik, dalam penafsirannya atas “bismi” dalam basmalah jauh dari makna literalnya dengan menafsirinya per huruf. Seharusnya makna literalnya adalah “dengan nama” atau “bersumpah dengan nama”, karena huruf merupakan salah satu huruf sumpah (qasam), akan tetapi ia menafsirkannya dengan badan halus.

Hal di atas bisa dijelaskan lewat pemahaman sufistik tentang makna dari simbol huruf. Huruf ditafsirkan sebagai badan (dimensi) astral manusia. Karena yang bisa manunggal hanya dimensi astral (ruhani) manusia dan dimensi fisik tidak bisa manunggal dengan Tuhan, dalam tafsiran ini kemanunggalan disimbolkan dengan . Pada hakikatnya juga merupakan emanasi dari alif yang Ilahi. sesungguhnya adalah alif yang mendatar dan memiliki titik. kehilangan identitas keilahiannya karena ia memiliki titik. Titik merupakan kekuatan yang dapat memisahkan dari kebersatuan alif.

Huruf sin merupakan pertanda tiga rasa yang harus ada dalam diri manusia. Kiai Mustojo sudah menegaskan tentang ketiga rasa ini, yaitu ketika membahas sembah puji sebagai manifestasi dari martabat waḥdat. Sembah Puji adalah berwudlu dalam air kehidupan dan bisa merasakannya.

Rasa yang dirasakan adalah jangan merasa memiliki pekerjaan (af’al/perilaku), kedua jangan merasa memiliki wujud, dan jangan merasa memiliki hidup. Maksudnya sudah sirna kemahlukan dan pada hakikatnya menyempurnakan hal yang baru (ḥadith/ḥuduth) dan menegaskan yang qadim (hal. 25). Atau dalam kata lain orang yang sudah manunggal akan mengalami sebuah kondisi ektase dan segala pikiran, perkataan, dan perbuatannya tidak lain adalah pikiran, perkataan, dan perbuatan Tuhan.

Sedangkan alif ditafsiri sebagai kesejatian manusia itu sendiri, yakni ketika manusia sudah mencapai tingkatan insān kāmil. Insān kāmil biasa disimbolkan dengan huruf alif, karena alif merupakan huruf aḥadiyyat, kesatuan, kebersatuan, kemanunggalan, sekaligus merupakan huruf transendensi. Alif merupakan huruf Ilahi, dan huruf lain kehilangan wujud aslinya karena tidak mau menurut perintah.

Sedangkan Mīm menunjukkan kepada kawula-Gusti yang tak mungkin bisa pisah. Mīm juga merupakan simbol kemanunggalan, yakni simbol dari Muḥammad yaitu perwujudan dari insān kāmil itu sendiri. Seperti dalam puisi: taruhlah mīm dalam jiwamu, dan alif di hadapannya. Huruf ini digunakan Tuhan untuk mewujudkan diri-Nya melalui simbol pribadi Muḥammad.

Seperti dalam sebuah hadith qudsi: Anā Aḥmad bilā mīm, atau Aku Aḥmad tanpa mīm, yakni Aḥad, esa. Huruf mīm ini merupakan satu-satunya penghalang antara Tuhan dan hamba-Nya. Hal ini sesuai dengan tahap pemancaran Ilahi oleh para mistikus, Nūr Muḥammad sebagai awal tahap emanasi seperti dalam Wirid Hidayat Jati.

Sedangkan yang dimaksud sebagai tulang mīm adalah bagian dari mīm yang berbentuk lurus mendatar. Posisi mendatar ini seperti posisi tidur, yaitu telentang. Ketika tidur maka ruh pun akan selalu berada dalam tubuh kita. Keenam ruh tersebut adalah ruh nabati, ruh hewani, ruh jasmani, ruh ruhani, ruh nurani, dan ruh qudus (hal. 6-7).

Sedangkan ekor mīm adalah bagian akhir dari huruf mīm. Ekor mīm menunjukkan kepada ruh yang menjelma menjadi mimpi. Satu-satunya ruh yang bisa menjelma menjadi mimpi adalah ruh rahmani. Karena ruh ini terletak di unyengan (pusaran rambut) yang berada di ubun-ubun manusia (hal. 7). Kadang kalanya Tuhan memberikan petunjuk-petunjuknya juga lewat mimpi.

Dengan demikian, penafsiran Kiai Mustojo atas al-Fatihah tidak menyalahi syarat diterimanya tafsir bāṭiniy seperti apa yang sudah dijelaskan al-Dhahabiy. Penafsiran Kiai Mustojo tidak keluar dari makna literal dalam bahasa Arab. Ia menggunakan makna literal dari sebuah kata yang ada dalam al-Qur’an menjadi pintu gerbang bagi masuknya pemahaman terhadap makna lain (konotatif) yang kental dengan ajaran manunggaling kawula-Gusti.

Memang sekilas penafsirannya aneh dan terkesan tidak bisa sesuai makna ẓāhir, akan tetapi jika dibaca dengan kejernihan hati dan keterbukaan pikiran serta pemahaman sufistik yang mendalam makna tersebut bisa diterima secara logis. Makna (penafsiran) tersebut tidak harus ditolak, namun demikian tidak diwajibkan untuk diikuti, sebab makna yang demikian itu adalah makna yang diperoleh dari ilham bukan dari ketentuan yang telah ditetapkan oleh para ulama.

Dengan begitu sudah jelaslah penafsiran Kiai Mustojo menggunakan ajaran manunggaling kawula-Gusti untuk menafsiri setiap kata dalam al-Fatihah. Dan ia tenggelam dalam teori sufistiknya, sehingga ia menafsiri al-Fatihah dengan anatomi tubuh manusia. Firman Tuhan dalam hal ini adalah al-Qur’an harus terejawantahkan (termanifestasikan) dalam perbuatan dan disatukan dengan anatomi tubuh manusia, sehingga melahirkan sebuah kemanunggalan.

Jika “kitab kering” adalah teks suci al-Qur’an, maka ada yang disebut “kitab basah” yaitu jasad manusia sebagai wujud dari sifat Tuhan dan merupakan simbol dari sistem surat dan ayat dari al-Qur’an. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme