Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tafsir Kiai Shaleh Darat [8]: Nikmat Hakiki dalam Ṣirāṭ al-Ladhīna An’amta ‘Alaihim

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Kecenderungan manusia untuk mengejar kebahagiaan serta kenikmatan adalah kelaziman. Namun, seringkali kenikmatan tersebut disamakan dengan kesenangan, terlebih kesenangan duniawi. Tak mengherankan jika akhirnya manusia berbondong-bondong mengumpulkan harta. Ironisnya, hal semacam itu seringkali dilakukan dengan cara yang tidak pantas, semisal dalam maraknya kasus korupsi.

Mengingat semua itu, perlulah kita belajar dari Tafsir Kiai Shaleh Darat ini terkait apa sebenarnya yang dimaksud dengan nikmat. Hal ini perlu dilakukan agar kita mengenal apa itu hakikat nikmat, tidak lupa diri dan menghalalkan segala cara dalam mengejar kenikmatan baik yang duniawi maupun ukhrawi.

Sebelumnya, pada penafsiran Ihdinā aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm dapat dipahami dalam ayat itu menggambarkan keadaan seorang hamba yang do’a agar ditunjukkan kepada aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm. Lebih lanjut, yang dimaksud dengan aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm (jalan yang lurus) adalah jalan orang-orang yang mendapat kenikmatan.

Orang-orang tersebut terdiri dari para Rasul, Nabi, Auliya’ serta Ulama’ yang dianugerahi dua nikmat yaitu, nikmat lahir berupa syarī’at dan nikmat batin yang berupa haqiqāt. Hal ini sebagimana tertuang dalam Surat al-Luqman Ayat 20 yang berbunyi: وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَة (Dan Allah menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.)

Namun, perlu ditekankan bahwa maksud dari nikmat dalam hal ini bukanlah suatu kesenangan yang bersifat duniawi. Bukanlah sesuatu yang bersifat hartawi maupun kesenangan fisik lainnya. Melampaui semua itu, ternyata nikmat lahir maupun batin memiliki bentuk sendiri dalam pandangan Kiai Shaleh Darat.

Sebelumnya perlu diperhatikan bahwa sebenarnya nikmat lahir dan nikmat batin memiliki beberapa tafsiran, setidaknya Ibnu Abbas juga pernah menafsirkan kedua kata itu. Menurutnya,  nikmat lahir adalah Islam serta budi pekerti baik, sedangkan nikmat batin adalah kebaikan Allah untuk menutupi perbuatan buruk serta aib seseorang. Begitu juga tafsir dari al-Muhasibiy. Menurutnya maksud dari nikmat lahir adalah nikmat dunia, sedangkan nikmat batin adalah nikmat akhirat. (al-Qurṭhubī: 2006, h. 486)

Berbeda dengan keduanya, Kiai Shaleh Darat menafsirkan nikmat lahir dan nikmat batin dengan redaksi bahasa Jawa betikut: “Anapun utawi ni’mah ẓāhirah maka ni’mah al-Anbiyā’ lan keparingan kitab lan iẓhār al-shari’ah wa ijābah al-haqq lan miturut as-sunnah lan ngedohi bid’ah lan miturut nggahutane ẓāhir marang perintahe shari’ah lan ngedohi cegahe shari’ah lan netefi ‘ubūdiyyah marang Pengerane. Anapun itawi ni’mah bāṭinah maka iku setuhune Allah subḥānahu wata’ālā aparing ing ruh e wong kang kabeh ing ndalem ‘alam fiṭrah, den paringi kelawan den ciprati nur e, maka sepiro qodar e nurulllah maka semonolah makrifate ing  Allah subḥānahu wata’ālā”.  (h. 22)

Dari penafsiran itu, dapat dipahami bahwa, nikmat batin kenikmatan yang berupa Islam dalam segi aspek formalnya, semisal melakukan perintah serta menjauhi larangannya. Sederhananya, adanya syari’at itu sendiri serta sumber hukum yang berupa kitab. Berlainan dengan itu, nikmat batin adalah derajat makrifat seseorang karena percikan nur Ilahi yang diperoleh sejak penciptaan. Semakin banyak seseorang menerima kadar nur Ilahi, maka semakin tinggi pula derajat ke-makrifatannya.

Saat seseorang mencapai kemakrifatan, maka ia enjadi ridla dan menerima semua kehendak Tuhan, baik enak maupun tidak. Hal ini sebagaimana keadaan sebagian Nabi-Nabi yang mendapat cobaan berat, namun menerima semua ketentuan itu. Keadaan semacam ini disinggung dalam tafsir Kiai Shaleh Darat sebagai berikut:

Maka dadi pada ridla lan bungah lan pada miturut apa perintahe Bendarane lan nerima apa kersane Bendarane enak utawa ora enak. Maka ana setengah e para Anbiya’ (para Nabi) iku ana ingkan den jeguraken geni kaya Nabi Ibrahim ‘Alaih as-Salam, lan ana ingkang den jeguraken segara den pangan iwak kaya Nabi Yunus ‘alaih as-salam, lan ana kang den balangi watu hingga runtuh untune lan hingga gubras getih sukune kaya sayiidina Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.”

Keadaan semacam itu, sebenarnya dikarenakan para Rasul, Nabi, para Wali dan ‘Ulama’ billah telah mendapat nikmat batin. Semakin banyak  kadar nur Ilahi yang diperoleh seseorang, maka seperti itulah cobaan dan nikmat yang ia terima.

Dari sini dapat dipahami bahwa, nikmat yang hakiki dalam pandangan Kiai Shaleh Darat tidaklah seperti kata nikmat yang sering dipahami selama ini. Nikmat, menurutnya tidak selalu “enak”, nikmat yang sesunguuhnya adalah kerelaan seseorang untuk menerima semua ketentuan Tuhan.

Bahkan, menurutnya seseorang yang menerima nikmat nur Ilahi, maka ia akan mendapat cobaan yang semakin berat. Untuk hal ini, Kiai Shaleh Darat menyitir sebuah Hadits yang berbunyi: “Ashaddul balā’i al-Anbiyā’ tsumma al-Auliya’ fal amtsal fal amtsal” (Seseorang yang paling berat cobaannya adalah Para Nabi, Para Wali, seterusnya dan seterusnya).

Belajar dari tafsir Kiai Shaleh Darat ini, maka perlu direnungkan lagi bahwa harta serta kesenangan duniawi bukanlah kenikmatan yang hakiki. Lantas untuk apa kita menghalalkan segala cara untuk mengejar nikmat tersebut, terlebih cara yang merugikan banyak pihak semisal korupsi. Semoga kita terhindar dari segala perbuatan yang tidak indah itu. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme