Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Beragama Cara Sehat ala Jawa

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Keberadaan Islam di Jawa memiliki ciri khasnya sendiri. Salah satu ciri yang menonjol adalah kekayaan penafsiran atas Islam yang berpadu dengan kebudayaan Jawa. Cara orang Jawa beragama juga sangat selaras dengan akar kebudayaannya sendiri. Hasilnya cara ber-Islam demikian telah melahirkan kepribadian yang sehat, dan terbebas dari ragam represi agama.

Pandangan tentang represi dalam beragama itu berpangkal pada pandangan Sigmund Freud. Ia temasuk tokoh yang masyhur karena pandangannya bahwa agama adalah sumber penyakit bagi manusia.

Belakangan, pandangan tersebut mulai mendapat banyak gugatan. Banyak fakta menegaskan bahwa manusia akan terbebas dari analisis Freud bila memeluk agama dengan cara yang dewasa, terutama kepribadian yang berkembang dan tidak terhambat. Hambatan pada perkembangan menyebabkan seseorang mengalami fiksasi.

Fiksasi, ketika perkembangan kepribadian berkutat di pemenuhan wilayah fisiologi (oral, anal, genital) saja. Jika dihubungkan dengan cara beragama, kepribadian yang mengalami fiksasi mengakibatkan beragama hanya sebatas sublimasi, pengganti kebutuhan fisiologis yang tidak terpenuhi. Beragama didorong untuk mendapatkan surga—kebebasan pemenuhan jasmani.

Karena secara filosofis manusia terdiri dari ruh dan jasad, keduanya memiliki kebutuhan tersendiri. Sedangkan hakikat kemanusiaan itu berada di dalam ruh. Ketika manusia mampu melampaui kebutuhan jasmani, hal itu membuatnya berbeda dengan makhluk lain.

Pandangan Psikologi Humanisme menyebut kebutuhan Jasmani atau fisiologis sebagai kebutuhan rendah. Sebab posisinya dalam hierarki kebutuhan berada di tingkat bawah. Manusia yang tidak beranjak pada kebutuhan rendah akan mengalami D-kognisi (Deficiency). Hidupnya hanya didorong untuk memenuhi kekurangan.

Kehidupan manusia yang berkutat untuk memenuhi kekurangan hanya mengantarkan manusia pada penderitaan. Karena hakikatnya pemenuhan kebutuhan jasmani hanya berputar pada lingkaran keseimbangan (equilibrium) semu, saat tubuh terpenuhi kebutuhannya. Karena sifatnya yang sementara, tapi ketika kebutuhan itu sulit terpenuhi, maka manusia mengalami kecemasan dan trauma.

Kecemasan ini hadir justru ketika agama dijadikan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan manusia. Tidak dihayati ketika menjalankannya, hanya semacam tuntutan melaksanakan perintah. Tidak didorong oleh usaha untuk menemukan kesejatian diri. Hal ini tidak ubahnya seperti anak kecil yang tidak memahami setiap perbuatan yang dilakukan. Begitulah pola umum manusia dalam menjalankan perintah agama.

Berbeda dengan manusia Jawa, gerak kehidupannya cenderung didorong untuk melatih diri. Mengontrol kebutuhan jasmani dengan masuk ke alam kekosongan. Seperti Werkudara yang masuk dalam perut Dewa Ruci, masuk dalam alam tidak terbatas. Alam itu sesungguhnya ada di dalam diri setiap manusia.

Untuk memasuki alam tidak terbatas tersebut, manusia Jawa menekankan diri pada harmoni. Melalui pandangan hidup masyarakat Jawa bahwa realitas tidak hanya sisi luar tetapi juga dalam. Seperti halnya para sufi yang memandang kenyataan manusia pada ruhnya. Ruh bagi orang Jawa, seperti pandangan sufi, terikat oleh nafsu. Karenanya kehidupan manusia Jawa, dioreintasikan semata-mata untuk menghaluskan nafsu-nafsu yang ada pada dirinya.

Untuk memperhalus nafsu, sarana yang digunakan orang Jawa melalui olah “rasa” atau dalam tasawuf dikenal sebagai olah hati spiritual. Di Jawa, rasa tidak semata dipahami sebagai “perasaan”, tapi lebih luas lagi, pada tingkatan inderawi, “rasa” membuat orang peka terhadap keadaan sekitar, sedangkan pada tingkat batin merujuk pada perasaan intuitif. Menggunakannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, pemenuhan tertinggi kebutuhan rohani manusia.

Tapi keberadaan nafsu bisa menghalangi manusia pada sifat kemanusiaan. Seperti pandangan para sufi, nafsu senantiasa mengantarkan manusia pada keburukan, hal ini juga ditemukan dalam praktik-praktik beragama karena melupakan tujuan manusia—yang oleh orang Jawa disebut, Sangkan Paraning Dumadi. Islam menyebutnya sebagai al-takǎmul al-rǔẖǎni—proses penyempurnaan rohani.

Melalui pandangan normatif tersebut, kepribadian orang Jawa semata-mata hanya didorong untuk mencapai kesempurnaan rohani., sekaligus menandakan terpenuhinya kebutuhan batin manusia. Ketika kebutuhan tersebut terpenuhi, istilahnya tentrem ing manah, maka hilanglah ketegangan. Ketiadaan tersebut melebihi keterpenuhan kebutuhan jasmani. Agama tidak lagi menjadi penghalang (anti-catexis) pemenuhan kebutuhan jasmani.

Beragama bagi orang Jawa adalah penghayatan. Jalannya ditempuh dengan menemukan ke-diri-annya di dasar batin. Beragama bukan semata sebuah teori tapi praktis dalam kehidupan yang bermakna. Menafikan segala pembatasan yang bersifat dogmatis, menghindari kesibukan memurnikan agama, semata hanya membersihkan diri mencapai yang Illahi. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme