Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tārīkh al-Auliā’ [2]: Garis Keturunan dan Penafsiran

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

“Sejak Erlangga, kita mewarisi ajaran luhur, bahwa kerajaan-kerajaan di Jawa terus dibingkai dalam konsep kosmologi yang khas. Kerajaan dianggap sebagai replika semesta. Raja dianggap sebagai titisan dewa-dewa”.

Begitulah Akhol Firdaus memaparkan pendapatnya tentang penyelenggaraan kekuasaan di Jawa dalam “Titisan Wisnu”.

Pandangan semacam itu tampaknya masih berlaku, bahkan saat di Jawa telah muncul kerajaan Islam. Para raja dan penyebar agama, selalu menegaskan diri sebagai keturunan orang suci. Tak hanya dewa, seringkali garis keturunannya dipertemukan dengan para Nabi. Secara implisit, kitab Tārīkh al-Auliā’ memberi penggambaran semua ini.

Raja Kuntara

Alkisah, kurang lebih tahun 1300 M, negeri Campa dipimpin oleh seorang raja bernama Kuntara. Ia memiliki tiga anak.  Si Sulung bernama Darawati Murdaningrum, istri Prabu Kertawijaya dari majapahit. Si bungsu bernama Raden Cingkara. Di antara keduanya adalah Dewi Candrawulan yang menjadi istri Maulana Ibrahim Asmaraqandi, empunya para Wali di tanah Jawa.

Maulana Ibrahim Asmaraqandi adalah seorang muballigh (penyebar Islam) yang datang dari tanah Arab. Suatu hari, ia datang ke negeri Campa untuk berdakwah. Ia mengajak raja Kuntara untuk memeluk Islam (hlm. 3-4). Begitulah kitab Tārīkh al-Auliā’ menuturkan kisah Raja Kuntara.

Kisah di atas, juga terlukis dalam “Babad Demak Pesisiran” dalam Pupuh Asmaradana baris 53-58. Diceritakan, sesampainya di Campa, Maulana Ibrahim Asmaraqandi menghadap raja Kuntara di paseban.  “Darwis, sapa arahmu, pan apa kang sira seja? Sira marek maring mami, teka gati lampah” tanya Raja Kuntara kepadanya.

“dhuh Gusti nami kawula Sayid Ibrahim Asmara, dateng kawula pan estu semeja ngajak sang nata (55) Manjinga agama suci, sarengat Nabi Muhammad. Ngucap kalimat kalih, anla ilaha illa allah, Muhammad Rasulullah, punika ing lafalipun, rukune agama Islam (56). Lan nyembah lan amuji, dumateng Allah tangala, anuta ing penggawene Muhammad nabi pungkasan, sampun nyembah ing berahala, punika agama kufur, nyembah muji ing berahala (57)”. Jawab Ibrahim Asmaraqandi memeperkenalkan diri, lantas ia menjelaskan maksud kedatangannya.

Raja Kuntara menerima ajakan itu, begitu juga dengan rakyatnya. Masjid-masjid mulai didirikan di Campa. Ibrahim Asmaraqandi didapuk untuk mengajarkan agama Islam, hingga akhirnya ia dinikahkan dengan Dewi Candrawulan. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai tiga putra; Raden Raja Pandhita, Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Siti Zainab.

Brawijaya dan Raden Patah

Sebelumnya telah disinggung Darawati Murdaningrum telah diperistri oleh Prabu Kertawijaya dari Majapahit. Ialah raja sang Brawija, raja agung yang pernah ada di Jawa. Dari pernikahan ini, Kertawijaya ia dianugerahi tiga anak, Putri Had–istri Adipati Pengging, Lembu Peteng (Madura), dan Raden Gugur.

Versi Tārīkh al-Auliā’ menyatakan bahwa sebenarnya Prabu Kertawijaya memiliki banyak keturunan, namun sebagaian saja yang sering dikisahkan.  Di antara keturunannya yang sering disebut adalah Arya Damar, seorang Adipati di Palembang. Ia berasal dari ibu bernama Dewi Padmi. Selain itu, Prabu Kertawijaya juga memiliki dua putra istri Ponorogo, Bathara Katong dan Adipati Luwana.

Mengenai hal di atas, tentunya tak mungkin untuk tidak  menyebut Sultan pertama kerajaan  Demak, yaitu Raden Patah. Terlahir dari rahim seorang ibu dari campa, namanya disebut-sebut sebagai anak Prabu Kertawijaya.  Melengakapi kisah itu, Tārīkh al-Auliā’ memaparkan garis keturunan sebagai berikut;

Raden Fatah bin Kertawijaya bin Raden Suruh (Raja Majalengka) bin Mundiwangi (Raja Pajajaran) bin Mundisari (Pajajaran) bin Laliyyan (Pajajaran) bin Rawis Rengga (Jenggala) bin Tebu bin Lembu Amiluhur (Jenggala) bin Resi Gentayu bin Gendihawan bin Srimapunggung bin Silajalu bin Pancadriya bin Citrasoma bin Suma Wicitra bin Gendrayana bin Jaya Amijaya bin Jaya Dharma bin Hudayana bin Parikesit bin Angka Wijaya (Abimanyu) bin Arjuna bin Pandu Dewanata (Hastina) bin Abiyasa bin Palasara bin Raden Sakri bin Reden Sekutrem bin Raden Sutapa bin Raden Manawasa bin Marigana bin Hyang Trustithili bin Srikati bin Wisnu bin Sang Hyang Guru bin Sang Hyang Tunggal bin Sang Hyang Wening bin Sang Hyang Wenang bin Sang Hyang Nur Rasa bin Raden Nur Cahya bin Nabi Adam”.

Versi di atas memang agak berbeda dari versi sejarah mainstream. Babad Demak Pesisiran mengisahkan bahwa ibu Raden Patah bukan berasal dari Campa, melainkan dari Cina. Putri Cina itu dititipkan kepada Arya Damar saat mengandung Raden Patah. “Arya Damar ingsun anitip dumateng peken nira, puteri wangrawat sepuh, puteri adi saking Cina, poma-poma aja sira senggamani yen durung babar puteranya’. (Pupuh 2, Peksi Nala, 6)

Begitu juga, babad Tanah Jawi dan Serat Kanda menyebutkan bahwa raja-raja Demak menyatakan dirinya sebagai keturunan Prabu Brawijaya raja Majapahit. Bahkan dalam Purwaka Caruban Nagari, dengan gamblang disebutkan bahwa, Raden Patah merupakan anak dari Prabu Brawijaya, namun bukan Kertawijaya tapi Kertabumi. “…tumuli hana pwa ya sang Patah ika anak ira Sang Prabu Brawijaya Krětabumi kang runuhun mastri lawan putri Cina” (Poesponegoro & Notosusanto: 1992, II, 450).

Maulana Ibrahim Asmaraqandi

Alih cerita, Tārīkh al-Auliā’ berkisah tentang Ibrahim Asmaraqandi. Telah disebutkan sebelumnya, bahwa ia merupakan muballigh dari tanah Arab yang menyebarkan agama Islam di Campa. Ia menikahi Dewi Candrawulan, putri kedua Raja Kuntara. Dari pernikahan inilah dilahirkan Raden Rahmat, salah seorang Wali yang masyhur dengan nama Sunan Ampel.

Tak ada yang tahu persis dari daerah mana ia berasal. Adanya beberapa nama yang disematkan telah menimbulkan berbagai asumsi tenang asal-usulnya. Semisal nama “Syeikh Magribi” menimbulkan asumsi bahwa ia berasal dari tanah Maghrib, Maroko. Begitu juga “nama Asmaraqandi” diasumsikan bahwa ia berasal dari Samarkand-Asia Tengah. Sedangkan di Jawa sendiri, ia juga sering disebut dengan Sunan Gresik.

Menurut catatan Raffles, berdasarkan cacatan lokal Ibrahim Asmaraqandi merupakan pandhita dari tanah Arabia, keturunan Zainal Abidin dan sepupu Raja Chermen (Sunyoto, 2012: 64). Versi inilah yang mendekati dengan informasi dalam kitab Tārīkh al-Auliā’ mengenai Syeikh Ibrahim Asmaraqandi. Disebutkan Maulana Ibrahim Asmaraqandi memiliki dua saudara yaitu Maulana Ishaq dan Siti Asfah. Babad Demak juga meneyebutkan hal itu. Dalam Tārīkh al-Auliā’ disebutkan bahwa secara lengkap garis keturunan Ibrahim Asmaraqandi disebutkan sebagai berikut;

“Maulana Ibrahim Asmaraqandi iki putera Maulana Muhammad Jumadi Kubro bin Sayyid Zainul Husain bin Sayyid  Zainul Kubro bin Sayyid Zainul ‘Alim bin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Husain bin Siti Fathimah binti Muhammad Rasulullah bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin bin Qusaiyy bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luaiyy bin Ghalib bin Fihrin bin Malik bin Nadlar Kinanah bin Huzaimah bin Mudrikah bun Ilyas bin Mudlar bin Nazar bin Ma’ad bin ‘Adnan, sakteruse nganti tekan Nabi Isma’il bin Ibrahim AS, sakteruse nganti tekan Nuh AS, sakteruse nganti tekan Nabi Idris AS, sakteruse nganti tekan Nabi Anwas bin Nabi Syits bin Nabi Adam AS”.

Sejauh merujuk pada Babad Demak, akan ditemukan nama-nama yang tidak disebutkan dalam versi Kiai Bishri Musthofa di atas.  Disebutkan, di antara nama “Adnan” dan “Nabi Ismail” yaitu, Raden Mutawab, Raden Pahur, Raden Yarab, Raden Yasjab, dan Raden Sabit bin  Nabi Isma’il AS. Di antara Nabi Ibrahim dan Nabi Nuh yaitu:  Patih Azar, Raden Pahur, Raden Sarah, Raden Rangu, Raden Palya, Raden Sangid, dan Raden Sam bin Nabi Nuh AS.

Di antara Nabi Nuh dan Nabi Idris ada beberapa nama yaitu; Raden Musalik, Raden Sahur, dan Raden Malha bin Nabi Idris AS. Ayah Nabi Idris bernama Raden Majid, dan ke atas akan ditemukan nama lain yaitu; Raden Mustalil bin Raden Kinad bin Anwasa bin Nabi Syits AS. Raden Anwasa memiliki adik lelaki bernama  Nurcahya.  Konon, Nurcahya inilah yang menjadi leluhur para raja Jawa.

Itulah sepenggal kisah yang sampai kepada kita. Kebenarannya adalah kebenaran tafsir dari serpihan sejarah yang berhamburan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme