Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tārīkh al-Auliā’ [3]: Leluhur Para Wali, Antara Nasab dan Ngunduh Wohing Pakerti

 

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Yen kang tuwa karya becik, saturune manggih arja, yen kang tuwa karya awon, turune kasurang-surang, pramilane wong gesang, den enget pitutur luhung, ing wuri tan wurung panggya” (Naskah Sanguloro, bait 36)

Itulah salah satu falsafah hidup orang Jawa. Mereka menyakini bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya. “Ngunduh Wohing Pakerti”.  Begitulah orang Jawa menyebutnya. Balasan dari perbuatan itu tak selalu diterima oleh pelakunya, tapi bisa saja diterima oleh oleh anak-cucunya, seperti kisah para Wali tanah Jawa.

Mayoritas Wali di Jawa adalah satu keluarga, atau kerabat dekat. Para Wali semisal Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati,  Sunan Giri,  merupakan anak atau cucu dari Maulana Ibrahim Asmaraqandi dan Maulana Ishaq. Mereka berdua adalah Syekh Jumadil Kubro yang nasab-nya tersambung kepada Rasulullah.

Meski begitu, bukan berarti selain keturunan Rasulullah tidak bisa mencapai maqam spiritualitas yang luhur, semisal derajat kewalian. Terekam apik dalam kitab Tārīkh al-Auliā’, bahwa sebagian Wali sama sekali bukan keturunan Rasulullah, semisal Raden Patah dan Sunan Kalijaga. Raden Patah adalah ketuturnan Prabu Mundiwangi, sedangkan Raden Rahmat adalah keturunan Arya Banjaran. Dengan begitu, keduanya adalah keturunan Raja Pajajaran bernama Prabu Mundisari.

Raden Rahmat dan Raja Pandhita

Salah seorang anak Syekh Jumadil Kubro bernama Ibrahim Asmaraqandi menikah dengan putri Campa dan dikaruniai tiga anak. Namun, di antara ketiga anaknya itu, Raden Rahmat adalah Wali yang sering disebut-sebut namanya. “Sunan Ampel” dengan mana itulah orang-orang sering menyebutnya.

Kedua saudara Sunan Ampel bernama Raja Pandhita dan Siti Zainab. Sayangnya, kitab Tārīkh al-Auliā’ tidak sempat merekam kisah keduanya. Meski begitu kitab tersebut telah berhasil merekam keturunan Raja Pandhita. Disebutkan bahwa ia memiliki tiga anak, Haji Utsman, Utsman Haji dan Nyai Gedhe Tandha.

Haji Utsman juga dikenal dengan nama Sunan Manyoran, Mandalika. Ia menikah dengan supupunya sendiri yaitu, Siti Syari’ah–putri Sunan Ampel. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai satu anak bernama Amir Hasan.

Seperti halnya kakaknya, Usman Haji juga dikenal dengan  nama lain, yaitu Sunan Ngudung. Ia menikah dengan Dewi Sari—anak Tumenggung Wilatikta, dan dikarunia  dua anak bernama Dewi Sujinah dan Amir Haji (Sunan Kudus). Sedangkan Nyai Gedhe Tandha menikah dengan Sunan Kertayasa  dan memiliki satu anak bernama Khalifah Sughra.

Itulah beberapa keturunan Raja Pandhita bin Asmaraqandi, kakak lelaki Raaden Rahmat. Sedangkan Sunan Ampel sendiri memiliki tujuh anak dari pernikahannya dengan Dewi Candrawati binti Arya Teja dan Dewi Karimah binti Ki Bang Kuning.

Dari pernikahan dengan Dewi Candrawati, Sunan Ampel dikaruniai lima anak, tiga perempuan dan dua lelaki. Ketiga putrinya bernama Siti Syari’ah, Siti Mutmainnah, dan Siti Hafsah. Sedangkan kedua putranya bernama Raden Ibrahim (sunan Bonang) dan Raden Qasim (Sunan Drajat).

Putri pertama Sunan Ampel–Siti Syari’ah, menikah dengan putra Raja Pandhi bernama Haji Usman atau Sunan Amnyoran.  Sedangkan putri keduanya–Dewi Mutmainnah, menikah dengan Sayid Muhsin (Sunan Wilis, Cirebon) dan memilik anak bernama Amir Hamzah. Putri ketiganya—Siti Hafsah, menikah dengan  Sayid Ahmad (Sunan Malaka) dan tak memiliki anak. Kedua menantu Sunan Ampel itu juga merupakan muridnya yang berasal dari Yaman.

Putra keempat Sunan Ampel—Raden Qasim (Sunan Drajat) menikah dengan Dewi Sofiyah, putri Sunan Gunung Jati dan memiliki tiga anak: Pengeran Trenggana, Pangeran Sandi dan Dewi Wuryan. Sedangkan Raden Ibrahim (Sunan Bonang) menikah putri Raden Jakandar bernama Dewi Hirah dan memiliki satu anak bernama Dewi Ruhil.

Dari pernikahannya dengan Dewi Karimah binti Ki Bang Kuning, Sunan Ampel dikaruniai dua putri bernama Dewi Murtasiyah dan Dewi Murtasimah. Dewi Murtasiyah menikah dengan Raden Paku (Sunan Giri) dan dikaruniai empat anak.  Sedangkan Dewi Murtasimah menikah dengan Raden Patah dan memiliki lima anak yaitu; Pangeran Purba, Pangeran Trenggana, Raden Bagus Sidakali, Raden Kenduruhan dan Dewi Ratih.

Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu

Selain Ibrahim Asmaraqandi, Syekh Jumadil Kubro juga memiliki anak lain bernama Maulana Ishaq.  Ia diyakini sebagai orang yang meng-Islamkan Kerajaan Pasai. Sebelum sampai Jawa, ia telah memiliki dua anak bernama Sayid Abdul Qadir dan Dewi Sarah. Sedangkan Raden Paku adalah putra ketiganya dari ibu Dewi Sekardadu, putri Minak Sembuyu-Blambangan.

Maulana Ishaq menginjakan kaki di Jawa saat Raden Rahmat (Sunan Ampel) telah mendirikan pesantren di Ampeldenta. Selain ingin mengunjungi keponakannya itu, sebenarnya tujuan utama kedatangan Maulana Ishaq adalah menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Diceritakan, Maulana Ishaq sampai di Ampeldenta saat Raden Rahmat hendak shalat ‘Ashar. Saat itu, hanya tiga santri yang ikut menjadi makmum, Wirajaya, Abu Hurairah dan Ki Bang Kuning. Singkat cerita, setelah Maulana Ishaq bertemu dengan raden Rahmat, ia memutuskan untuk beristirhat sementara waktu di Ampeldenta.

Tak sampai sebulan di Ampeldenta, maulana Ishaq berpamitan karena ingin meneruskan perjalanan ke arah Timur-Selatan. Perjalanannya itu tak lain karena keinginannya untuk menyebarkan Islam di daerah tersebut.

Melihat keadaan masyarakat Jawa saat itu, Maulana Ishaq merasa bahwa keingiannya itu tidaklah mudah untuk dikakukan. Saat itu, mayoritas orang Jawa bergama Hindu-Buddha. Hal itu membuatnya gelisah, lalu ia memutuskan untuk bertapa dan menjalankan tirakat di Gunung Selangu.

Singkat cerita, kegelisahan Maulana Ishaq telah menuai jawaban. Di Blambangan ada seorang Raja bernama Minak Sembuyu. Ia memiliki seorang putri bernama Dewi Sekardadu yang sedang menderita sakit. Banyak tabib telah didatangkan dan berbagai obat telah dicoba, namun semuanya hasilnya nihil. Dewi Sekardadu tetap belum tersembuhkan.

Keadaan itu mebuat  Sang Raja panik, ia pun mengeluarkan sayembara. Siapapun yang mampu menyembuhkan putrinya, maka akan dinikahkan dengannya dan diberi separuh kerajaan. Begitulah titah Sang Raja Minak Sembuyu.

Mendengar sayembara itu, Maulana Ishaq bersyukur. Ia merasa bahwa pertolongan Tuhan telah dekat. Tak lama lagi, keinginannya untuk menyebarkan Islam di Jawa akan terlaksana. Maulana Ishaq mengikuti sayembara dan Dewi Sekardadu pun berhasil disembuhkan.

Sesuai titah Minak Sembuyu, Maulana Ishaq akhirnya dinikahkan dengan Dewi Sekardadu serta mendapat separuh kerajaan Blambangan. Sesuai cita-cita awal, rakyatnya telah memeluk Islam di bawah kepemimpinan Maulana Ishaq. Namun hal itu tak lantas membuatnya puas. Sang Raja Minak Sembuyu sendiri, saat itu belum memeluk Islam.

Karena hal itu, Maulana Ishaq memutuskan untuk mengambil langkah lain. Ia menemui Raja Minak Sembuyu dan mengajaknya untuk memeluk Islam. Namun, keinginan Mulana Ishaq itu ditolak. Minak Sembuyu marah dan bahkan ingin membunuhnya. Akhirnya, Maulana Ishaq pergi meninggalkan Blambangan saat Dewi Sekardadu sedang hamil tujuh bulan.

Raden Paku

Tak lama setelah kepergian Maulana Ishaq, Blambangan mengalami pageblug. Orang sakit di pagi hari mati di sore hari, begitu juga sebaliknya. Mengetahui hal itu, Minak Sembunyu menyangka  bahwa pageblug  disebabkan oleh bayi yang dikandung Dewi Sekardadu. Minak Sembuyu bertitah agar kelak ia dibuang ke samudera saat dilahirkan.

Titah Minak Sembuyu itu benar-benar diwujudkan. Saat jabang bayi dilahirkan, ia dimasukkan dalam peti dan dihanyutkan ke laut.  Peti mengapung di lautan, bergelut dengan ombak, hingga akhirnya  menepi di pantai Gresik.

Di pinggir pantai, peti itu ditemukan oleh seorang Janda bernama Nyai Penatih. Dengan rasa penasaran Nyai Penatih mengambil peti itu kemudian membukanya.

Peti itu berisi bayi lelaki yang masih segar, kulitnya pun putih bersih. Saking bahagianya Nyai Penatih, kemudian mengambilnya sebagai anak dan menamainya “Raden Paku”. Ialah putra Maulana Ishaq yang kelak akan dikenal sebagai seorang Wali bernama Sunan Giri.

Raden Paku menikah dengan Dewi Murtasiyah, putri Sunan Ampel dari ibu Dewi Karimah. Ia dikaruniai empat anak bernama: Raden Prabu, Raden Misani, Raden Guwa dan Dewi Retnawati.

Putra lain dari Maulana Ishaq adalah Raden Abdul Qadir. Ia menetap di Cirebon dan dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Hal ini tentu agak berbeda dengan versi sejaran mainstream yang mengatakan bahwa nama asli Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah.

Sunan Gunung Jati menikah dengan Dewi Hisah, putri kedua Raden Jakandar.  Ia dikaruniai dua anak yaitu: Raden Abdul Jalil dan Dewi Sufiyah. Kelak, Raden Abdul Jalil inilah dikenal dengan nama Syekh Siti Jejar atau Sunan Jepara.

Terakhir, kakak perempuan Raden Paku yang bernama Dewi Sarah menikah  dengan Raden Syahid, putra Tumenggung Wilatikta yang kelak dikenal dengan nama Sunan Kalijaga.

Raden Syahid

Melihat garis keturunan para Wali di atas, sekilas akan tampak bahwa mereka bukan orang asli keturunan Jawa. Malah, mereka adalah keturunan Syekh Jumadil Kubro yang bersambung nasabnya hingga Rasulullah. Namun  tak begitu halnya dengan Raden Syahid juga Raden Patah. Keduanya adalah keturunan Raja Mundisari dari Pajajaran.

Diceritakan bahwa, Mundisari selain memiliki anak bernama Mundiwangi (kakek ketiga Raden Patah), ia juga memiliki anak bernama Arya Banjaran dan Arya Metahun. Arya  Metahun memiliki anak bernama Arya Randu Kuning. Ia memiliki tiga anak bernama Arya Galuh, Arya Tanduran dan Arya Bangah.

Arya Galuh memiliki dua anak bernama: Arya Penanggungan dan Ranggalawe. Arya Penanggungan memiliki tiga anak; Arya Baribin, Arya Teja dan Ki Ageng Tarub. Arya Baribin memiliki dua anak bernama Raden Ayu Maduretna—Istri Raja Pandhita bin Ibrahim Asmaraqandi, dan Raden Jakandar—mertua Sunan Gunung Jati. Sedangkan Arya Teja memiliki dua anak bernama Dewi Candra Wati—istri Sunan Ampel, dan Raden Sahur.

Raden Sahur juga dikenal dengan nama Tumenggung Wiklatikta. Ia menikah dengan Dewi Nawang Arum, putri ketiga Ki Ageng Tarub. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai dua orang anak; Dewi Sari (istri Sunan Ngudung) dan Raden Syahid (Sunan Kalijaga). Dari pernikahannya dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishaq, Raden Syahid memiliki tiga anak bernama: Raden Sa’id (Sunan Muria), Dewi Ruqaiyyah dan Dewi Sofiyyah.

Dengan begitu dapat dikatakan bahwa Raden Syahid adalah Wali yang lahir dan berasal dari keturunan Jawa. Tak seperti para wali umumnya, ia tak memiliki nasab yang bersambung pada Rasulullah.

Begitu juga dengan Raden Patah, meski ibunya berasal dari China, bagaimanapun ia diyakini sebagai putra Raja Kertawijaya Majapahit. Dengan begitu, kakek buyutnya adalah Raja Mundiwangi, sepupu Arya Banjaran yang merupakan leluhur Raden Syahid. Mundiwangi dan Arya Banjaran adalah anak Raja Papajaran bernama Prabu Raja Mundi Sari. Dengan begitu, dilihat dari garis ayah, Raden Patah juga tak memiki garis nasab yang bersambung ke Rasulullah.

Meski begitu, Raden Patah dan Raden Syahid telah membuktikan bahwa dalam hal spiritualitas, nasab tak bisa dijadikan sebagai ukuran. Ketiadaan nasab yang bersambung ke Rasulullah sama sekali tidak menghalangi keduanya untuk mencapai tingakatan spiritualitas tertinggi.

Tak tanggung-tanggung, Raden Syahid merupakan salah seorang Wali yang “dituakan” di antara para Wali lainnya. Begitu juga Raden Patah, Ia pernah didapuk untuk menggantikan Sunan Ampel sebagai khalifah/pemimpin para Wali pasca wafatnya Sunan Ampel.

Rupanya, nasab bukanlah segala-galanya dalam menentukan dimensi spiritualitas seseorang. Hal lain yang tak kalah pentinggnya adalah budi pekerti yang baik. Ia akan membimbing seseorang untuk memperoleh keutamaan, bahkan bisa diwariskan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme