Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tārīkh al-Auliā’ [4]: Menepis Prasangka Hurgronje tentang Islamisasi

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Bangsa dan masyarakat muslim Nusantara adalah komunitas rendahan dibandingkan dengan komunitas muslin lainnya. Itulah maksud implisit yang disuguhkan C. Snouck Hurgronje saat membangun teorinya tentang Islamisasi di Indonesia. Teori itu, terpapar pada tulisannya berjudul “De Islam in nederlandsch-Indie”  dalam Groote Godsdienten, seri II (S. Gunawan, 1973).

Pada prinsipnya, teori tersebut menyatakan bahwa proses Islamisasi di Indonesia berlangsung sejak abad 13 Masehi. Proses Islamisasi berlangsung tanpa campur tangan kekuasaan Negara dan sentuhan kelompok intelektual. Islamisasi di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan pulau lainnya semata-mata merupakan usaha dari para saudagar dan pedagang dari negara-negara di kawasan India. Inilah yang menjadikan kelompok muslim Nusantara ditetapkan sebagai bangsa rendahan secara intelektual.

Mula-mula, para saudagar dan pedagang (muslim) asing itu menetap bersama penduduk lokal. Meski begitu, mereka berusaha menciptakan komunitasnya sendiri, setidaknya lingkungan keluarga. Mereka tak akan menikahi perempuan setempat, kecuali jika sudah memeluk Islam. Setelah memperistri perempuan setempat, kemudian mereka akan mengajak keluarga istrinya untuk memeluk Islam pula.

Hal itu sangat mungkin terjadi karena adanya anggapan yang dipercaya oleh para saudargar bahwa, penduduk setempat memiliki martabat lebih rendah. Selain itu, peroses stigatisasi itu juga didukung oleh kenyataan bahwa, penduduk Nusantara sesungguhnya masih mencari bentuk dalam perkembangan rohaniahnya.

Jelas sekali bahwa teori Hurgronje di atas telah meyisakan problem terutama terkait terbentuknya mental inferior masyarakat lokal. Paparan Hurgronje secara tidak langsung telah mendudukan bangsa ini dalam posisi yang serba rendah, setidaknya dalam dua lapis identitas.

Lapis pertama, Identidas bangsa ini sebagai pemeluk agama (Islam) tidaklah otentik, bahkan juga bisa dikatakan sebagai pemeluk Islam kelas dua. Hal ini disebabkan karena Islam yang ada di Nusantara ini bukanlah Islam otentik yang datang dari pusat perdabannya yaitu Arab. Berikutnya, penyebar Islam itu adalah para saudagar yang jelas-jelas dalam sistem kasta dapat dikategorikan sebagai sudra dan jauh dari jaringan intelektual.

Kedua, Identitas bangsa ini sebagai penduduk asli pun (entah Jawa, Sumatra, atau yang lainnya) juga dipandang rendah. Hal ini terihat dalam penerimaan penduduk asli terhadap para sudagar asing yang dianggap memiliki martabat lebih tinggi. Dengan ceroboh, Hurgronje telah mendefinisakan bangsa ini sebagai bangsa yang berperadaban lebih rendah daripada bangsa-bangsa asing yang datang ke Nusantara.

Melihat implikasi dari pandangan Hurgronje di atas, maka tak mengherankan jika Hamka mengatakan bahwa teori Hurgronje itu lebih bersifat politis daripa akademis. Teorinya bertujuan meleburkan kepercaayan diri penduduk negeri-negeri Melayu dan Nusantara akan adanya hubungan rohaniah yang baik dengan tanah Arab sebagai sumber pertama Islam (Hamka, 1976: 8-42).

Selain itu, teori Hurgronje juga cenderung dipupuk oleh prasangka. Menurut Taufik Abdulah, teori Hurgronje tidak sekadar lemah dalam pendekatan dan metodologi. Lebih dari itu, kecerobohan Hurgronje juga tampak pad acara dia mengabaikan sumber-sumber lokal semisal tambo, hikayat atau babad (Rosita Baiti, 2014; 133).

 

Dengan begitu, teori Hurgronje tak sekedar memberi stigma terhadap penduduk Nusantara, namun ia juga menegaskan keangkuhan intelektual di hadapan masyarakat Nusantara. Apa yang ditulis Hurgronje  tidaklah merepresentasikan kesadaran penduduk Nusantara yang tertuang pada sumber-sumber lokal, salah satunya adalah kitab Tārīkh al-Auliā’ ini.

Islamisasi Versi Kiai Bishri Musthofa

Berbeda dengan Hurgronje, Kiai Bishri Musthofa memiliki versi sendiri dalam memandang proses Islamisasi di Nusantara, khususnya Jawa. Paparan beliau dalam Tārīkh al-Auliā’ seakan ingin menegaskan bahwa penduduk Nusantara tak serendah banyangan Hurgronje, begitu juga dengan Islam yang ada di Nusantara ini.

Keinginan Kiai Bisri Musthofa itu, dapat kita lihat pada sebuah bab yang berjudul “Mlebune Agama Islam Ing Indonesia”. Ia menuliskan bahwa, sepeninggal Nabi Muhamad, para Sahabat serta Tabi’in melanjutkan dakwah Nabi hingga berbagai negara. Pada akhirnya Islam pun mencapai zaman keemasan.

Selain itu, para Mubaligh dan penganjur Islam juga telah berkelana untuk menyebarkan agama Islam sampai di kawasan terjauh. Kawasan Nusantara tak terlewatkan dari misi dakwah tersebut. Indonesia kedatangan para muballigh ulung, yaitu para Wali. Para wali di sini semisal Maulana Ibrahim Asmaraqandi, Maulana Ishaq, Sunan Ampel juga para keturunannya.

Menurut Kiai Bishri Musthofa, para muballigh dan Wali itu sengaja datang ke Indonesia bukan dalam rangka berdagang. Para Wali datang ke Indonesia untuk tujuan tabligh (menyebarkan Islam), seandainya di antara mereka ada yang berdagang, hal itu semata-mata hanya penyamaran.

Dari sini, dapat kita pahami bahwa Islamisasi di Indonesia tidak dilakukan oleh para saudagar, melainkan oleh para mubaligh yang sejak awal telah membawa misi penyebaran agama Islam. Para Wali pun menyebarkan Islam dengan cara damai.

Mula-mula, para Wali menyebarkan agama Islam dengan cara diplomasi dengan mendatangi para raja, kemudian mengajaknya memeluk Islam. Hal ini dilakukan dengan harapan jika sang raja telah bersedia memeluk Islam, maka dengan sendirinya rakyatnya pun akan mengikuti. Jika ajakan itu ditolak para Wali juga hanya akan mengatakan “ya uwis” (ya sudah).  Begitu Kiai Bishri Musthofa menggambarkan cara dakwah para Wali.

Meski terlihat sederhana, rupanya cara seperti itulah yang justru menjadikan para raja dan adipati itu segan. Sehingga, meskipun sang raja tidak mememuk Islam, para Wali tetap mendapat tempat yang spesial. Kelembutan dakwah para Wali itu salah satunya dapat dilihat pada kisah Sunan Ampel dan Prabu Kertawijaya.

Suatu hari, Sunan Ampel menyuguhkan agama Islam kepada Prabu Kertawijaya-Majapahit. Sunan Ampel memberi penjelasan tentang apa itu agama Islam. Sayangnya, ajakan Sunan Ampel itu tak bisa dipenuhi Prabu Kertawijaya karena suatu alasan. Prabu Kertawijaya tak bisa meninggalkan agama yang telah dipeluk oleh para leluhurnya.

“Sak benere yen ingsun rasa-rasaake, agama Islam iku bagus banget. Nanging bae kapekso ingsun ora bisa ninggalaken agama kang wus ingsun peluk wiwit timur mula lan kang wus dirungkebi dening eyang-eyang ingsun” begitu jawab Prabu Kertawijaya.

Dari cerita ini, dapat pula kita pahami bahwa penduduk Nusantara tidak bermental inferior seperti digambarkan Hurgronje. Prabu Kertawijaya menolak ajakan Sunan Ampel dengan bahasa yang dipomatis. Selain itu, yang dalam percakapan itu Prabu Kertawijaya mengatakan bahwa Islam adalah agama yang baik. Ia tidak mengatakan bahwa orang Arab atau saudagar asing manapun memiliki maratabat yang lebih tinggi atau sejenisnya.

Alasan penolakan Prabu Kertawijawa adalah bahwa ia tidak dapat meninggalkan agama yang telah dipeluk oleh para lelulurnya. Bagaimana mungkin bangsa yang sangat menghargai leluhurnya seperti ini dikatakan sebagai bangsa yang tidak berperadaban. Untuk itu, sungguh konyol pendapat Hurgronje yang sedari awal memang telah berambisi mempertebal stigma inferioritas bangsa ini. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme