Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Senjakala Jaranan

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Ini adalah sepotong catatan di balik layar dalam Seminar Budaya bertajuk “Kethoprak dan Kajian Sejarah Ephos Panji Patipati dan Amukti Palapa” pada 27 September 2018 kemarin. Seminar diadakan sebelum pagelaran Kethoprak Nyiswobudoyo dengan lakon “Panji Patipati Maniti Amukti Palapa” pada Sabtu, 29 September 2018.

Sunarko yang menjadi pembicara dalam seminar tersebut menyatakan, Kethoprak akan dipentaskan dengan menyertakan unsur-unsur Jaranan dan Reog. Hal ini memantik obrolan ringan soal ingatan masa lalu tentang Jaranan.

Dulu pada periode 1960-an, komunitas-komunitas seniman Jaranan banyak berkembang di desa-desa. Mereka menjamur di mana-mana.

Banyaknya kesenian Jaranan ini diklaim terkait erat dengan lembaga kebudayaan yang identitik dengan partai politik. Meski tidak seiya-sekata, partai politik kala itu memang ‘dianggap memiliki’ lembaga yang konsen pada kebudayaan.

Di antaranya ada Lekra yang dikaitkan dengan PKI, Lesbumi sebagai underbow NU, dan LKN di bawah PNI. Namun demikian, tidak semuanya dikaitkan Jaranan. Diantara sekian lembaga kebudayaan, barangkali hanya Lekra yang paling banyak disebut-sebut memiliki hubungan mesra dengan Jaranan.

Sampai-sampai, Sunarko menyebut bahwa kala itu di setiap dusun pasti memiliki kelompok seni Jaranan.

Bisa dibilang, ini adalah titik puncak bagi seni Jaranan. Meski banyak yang mengatakan Jaranan menjadi alat propaganda politik, namun tidak bisa dipungkiri ini merupakan masa yang gilang-gemilang bagi Jaranan.

Situasi segera berbalik paska tragedi kemanusiaan 1965. Banyak korban berjatuhan. Banyak yang dirugikan, tidak terkecuali bagi seni Jaranan.

Atas nama entah, semua-mua yang dianggap berbau PKI dihabisi. Jaranan yang mengandung unsur trance segera dicap bertentangan dengan agama, abangan. Belum lagi sejak awal ada relasi kompleks antara Jaranan, Lekra, dan tentu saja PKI.

Semua seakan semakin meyakinkan bahwa Jaranan adalah PKI, maka senimannya juga harus dihabisi.

Ini yang membuat para seniman Jaranan tiarap kala itu. Tak ada yang berani main Jaranan. Mereka sembunyi. Dalam titik yang ekstrem, para seniman ini sampai membakar seluruh properti dan perlengkapan Jaranan.

Semua dilakukan dalam rangka menyelamatkan nyawa. Mungkin, yang terbesit kala itu adalah yang penting hidup. Akhirnya, sebagian manusia tersisa, namun seni Jaranan menjadi tumbalnya.

Reda dari kemelut, pada tahun 1970an kelompok seni Jaranan segera menyusut tajam. Selangkah menuju punah.

Tapi, tak bisa dipungkiri bahwa darah seni tetap mengalir di nadi masyarakat. Mereka yang selamat dari amuk pembantaian, membawa serta sisa-sisa seni Jaranan dalam ingatan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme