Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Trance (Jaranan) dalam Ragam Perspektif

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Kehidupan masyarakat Jawa selalu lekat dengan unsur mistis. Salah satunya keberadaan trance atau ndadi dalam Jaranan. Sebagai bagian dari Jaranan, ndadi menjadi unsur menegangkan dalam pertunjukan kesenian tersebut. Karena saat ndadi para pemain mampu melakukan sesuatu yang ekstrem dan terkadang berbahaya. Seperti memakan ayam hidup-hidup, makan tanaman senthe, dan bahkan bermain api.

Tidak hanya sebagai hiburan, keberadaan ndadi di Jaranan bisa juga menjadi sarana berhubungan dengan dunia gaib. Karenanya Jaranan terkadang diadakan untuk bersih desa, terutama pada bulan purnama. Saat-saat dilanda wabah penyakit, gagal panen, serangan hama dan kesulitan yang bersifat komunal lainnya (Mauricio, 2002: 32).

Ndadi dapat dipahami sebagai istilah lain dari kesurupan, tapi dalam konteks Jaranan. Kesurupan atau possesion berdasarkan catatan Clifford Geertz, masyarakat Jawa melihatnya sebagai perjumpaan tidak sengaja dengan makhluk halus. Keadaan tersebut menyebabkan makhluk halus masuk ke tubuh seseorang. Penyebab lainnya bisa karena mengganggu tempat tinggal makhluk halus, rumah mereka terkadang di pohon besar atau rumpun bambu. Dampak dari kesurupan ini membuat seseorang sakit, gila, bahkan kematian (Clifford Geertz, 2014: 13).

Berkaitan ndadi di dalam Jaranan, makhluk halus tersebut sengaja diundang untuk masuk ke tubuh pemain. Untuk berhubungan dengan hal gaib, masyarakat Jawa biasanya dibantu oleh seorang dukun. Kesenian Jaranan mengenalnya sebagai tukang gambuh. Peran sentralnya tidak hanya mengundang, tapi juga menyembuhkan pemain yang kesurupan. Ibaratnya sebagai negosiator terhadap keberadaan makhluk halus dalam permainan Jaranan.

Tidak hanya dukun, untuk mencapai trance, pemain Jaranan dibantu oleh suara musik gamelan. Selain itu, ada hubungan kuat antara keadaan trance yang dicapai dengan orkestra gamelan.  Musik pada Jaranan menjadi pengantar para pemain Jaranan mencapai trance.

Saat pemain Jaranan mengalami trance, menurut Victoria M. Clara van Groenendael para pemain akan menunjukkan beberapa karakteristik tertentu. mereka mengalami emosi yang meluap-luap, disorientasi, kehilangan memori dan berkurangnya sensor sensitivitas (Clara, 2008: 19).

Trance di Jaranan seperti pengalaman dalam ritual keagamaan. Hal ini seperti dalam catatan Clara, menurut seorang ethnomusicologist Gilbert Rouget menyatakan bahwa trance dalam konteks tersebut memiliki ciri; para pelakunya akan kehilangan dirinya, merasa terasing dengan sekitarnya, mengalami kekacauan neurophysiological, dan kesulitan membedakan antara realitas dan imajinasi.

Kajian ndadi atau trance dalam Jaranan merujuk pada David E. Mauricio, para ahli  psikologi dan antropologi bersepakat keadaan tersebut diistilahkan dengan Altered States of Consciousness. Menurut Daniel Halperin berdasarkan Penguin Dictionary of Psychology’s mendefinisikan trance sebagai “kondisi disosiasi yang ditandai oleh kehilangan kemampuan gerakan dalam bertindak secara otomatis dan berpikir, diilustrasikan oleh kondisi hipnotis dan mediumistic.” []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme