Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Benarkah Ndadi itu Kesurupan?

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, peneliti muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, peneliti muda IJIR []

Ndadi merupakan pertunjukkan khas ala Jaranan. Kebanyakan orang selama ini memahami ndadi dalam perspektif tunggal yakni kesurupan. Lalu, apakah teori ini benar-benar sudah final? Tentu saja tidak. Pada bulan September lalu, saya berbincang-bincang dengan salah seorang pegiat Jaranan, namanya Yahmi. Salah satu obrolan seriusnya adalah membahas soal ndadi dalam pagelaran Jaranan.

Menurut Yahmi, ndadi bukanlah pertunjukkan yang murni diidentifikasi sebagai kesurupan. Menurutnya, ndadi adalah kegiatan sadar peraganya. Ia menegaskan lagi bahwa ndadi ibarat akting dalam seni Jaranan. Pandangan ini bukan tanpa sebab, pasalnya terdapat beberapa hal yang bisa dijadikan pertanggungjawaban argumentasinya.

Pertama, pelaku ndadi haruslah orang yang memiliki ilmu kanuragan. hal ini didasarkan pada adegannya ketika pelakunya memakan kaca, besi, bahkan api (mowo)  tanpa efek berarti. Faktanya, orang ndadi tidak terluka sesudah ritualnya selesai digelar. Jika adegan ndadi hanya dimaknai sebagai kesurupan tanpa melibatkan kanuragan peraganya, sungguhlah akan merusak tubuhnya. Hal ini mengantar kita pada kesimpulan bahwa tidak mungkin orang biasa secara lawaran menjalani laku ndadi.

Kedua, fakta lapangan membuktikan bahwa seorang peraga ndadi tidak pernah melukai penonton. Ini memungkinkan tafsir baru bahwa pelaku ndadi tidak sepenuhnya berada dalam kondisi kesurupan atau tidak sadar. Mereka memang melakukan aksi magis bahkan merusak benda-benda sekitar, namun mereka tidak pernah melukai penikmat Jaranan. Disengaja atau tidak, ritual ndadi selalu menjaga kontak antara peraganya dan penonton sehingga pagelaran Jaranan tetap berlangsung hingga tuntas.

Informan menambahkan lagi bahwa ndadi kemudian diekspresikan oleh peraganya sebagai penampilan layaknya pertunjukkan magis sehingga meninggalkan kesan bahwa ia sedang kesurupan. Kita dapat  melihat di sini bahwa keberingasan, keganasan pelaku ndadi dimungkin sebagai salah satu aksi menarik minat masyarakat pada kesenian Jaranan.

Akhirnya, peraga ndadi harus memiliki kanuragan yang mumpuni sekaligus beradegan frontal untuk menyerupakan diri sebagai orang yang kesurupan. Mereka juga harus mengatur ritme pementasan supaya segalanya berjalan rapi. Selain itu, peran pawang yang nampak sebagai penenang pemeran ndadi adalah bagian dari drama untuk melengkapi adegan tersebut.

Argumentasi di atas akan mudah dimengerti apabila Jaranan kita pahami sebagai seni. Setiap kesenian memiliki daya tarik tersendiri. Begitu pula dalam kesenian Jaranan, ndadi adalah bagian dari sesi Jaranan yang melibatkan kreatifitas peraganya, sehingga kesan-kesan kesurupan itulah yang menarik minat penonton. Selain itu, ndadi adalah ikon Jaranan. Inilah yang membedakan kesenian Jaranan dengan kesenian lainnya. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme