Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Jaranan Bangkit dari Kematian

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Seni lahir dari hati nurani masyarakat”, demikian ungkap Sujito pada Rabu, 10 Oktober 2018. Dengan mempertimbangkan bukti-bukti sejarah, kiranya ungkapan Sujito tidaklah berlebihan.

Sebelumnya, telah digambarkan bagaimana sejarah kelam Jaranan paska tragedi kemanusiaan 1965 (lihat kembali Senjakala Jaranan). Jaranan pada periode itu telah sampai pada jurang kepunahan. Namun faktanya, kini Jaranan telah hidup kembali, bangkit dari kematian. Bagaimana ini bisa terjadi?

Penjelasan paling sederhana atas fakta ini bisa dilihat sebagaimana ungkapan Sujito di atas. Seni (spesifik dalam konteks ini adalah Jaranan) yang lahir dari hati nurani masyarakat, maka akan tetap hidup di dalam hati nurani masyarakat tersebut.

Pada konteks seperti ini, kita seperti disuguhi dua lapis fakta Jaranan. Pertama, Jaranan yang abadi dalam hati nurani masyarakat. Dua, Jaranan yang terus mengalami dinamika dalam pergolakan sejarah.

Dalam konteks pergolakan sejarah, kebangkitan Jaranan bisa dilacak sampai pada awal tahun 1970an. Ini adalah periode Orde Baru di bawah kuasa The Smiling General, Soeharto.

Menurut banyak sumber, periode ini Negara secara massive merevitalisasi kelompok Jaranan. Mungkin, ini adalah titik balik kehidupan Jaranan. Para seniman Jaranan dulu dihabisi, kini ‘dihidupkan’ kembali.

Dulu Jaranan menjadi ritual dalam desa (Pigeaud: 1938. Javaanse Volksvertoningen). Bukan hanya itu, Jaranan juga menjadi pentas seni harian yang digelar oleh masyarakat. Tidak berlebihan, kesenian ini seringkali digelar di halaman-halaman rumah warga.

Jaranan sebagaimana digambarkan di atas, barangkali merupakan Jaranan yang hidup dalam hati nurani dan kesadaran masyarakat. Meski tidak sepenuhnya hilang, namun Jaranan pada periode Orde Baru dianggap sedikit bergeser orientasinya.

Di bawah rezim Orde Baru, banyak kalangan menyebut, Jaranan digunakan sebagai alat propaganda pemerintah. Bukan hanya itu, Jaranan juga menjadi basis seni untuk menjaring massa di akar rumput.

Di Tulungaggung, pada tahun 1970an tempat yang kala itu sering digunakan untuk bermain jaranan adalah eks-gedung DPD Golkar lama. Tempatnya sekitar 200m sebelah selatan perempatan Jepun, barat jalan.

Secara politis, upaya itu disebut-sebut berada di bawah bayang-bayang Golkar sebagai partai penguasa. Ada pula peran militer dalam upaya menjaga kesenian ini. Upaya menghidupkan kembali Jaranan ini dianggap tidak lepas dari kepentingan kuasa. Kepentingan ini tidak lain adalah upaya menjaga status quo.

Para seniman itu bukan hanya diberi panggung, namun juga tetap dikontrol. Skema kontrol ini dijalankan dengan memberlakukan aturan tentang Nomor Induk Kesenian. Berbekal Nomor Induk Kesenian, para seniman Jaranan dapat dipantau terus perkembangan dan gerak-geriknya.

Sejak periode itu, Jaranan akhirnya bisa survive sebagai seni. Dan kini, Jaranan terus berkembang. Jumlahnya terus bertambah, visinya juga bisa berubah. Jaranan tidak selamanya menjadi corong kekuasaan. Melampaui semua itu, yang paling penting, Jaranan telah hidup kembali. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme