Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Filsafat Memayu Hayuning Bawana

Yudha Ahmada Ariffakh Ruddin [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti muda IJIR []

Yudha Ahmada Ariffakh Ruddin [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti muda IJIR []

Orang Jawa memiliki pandangan adiluhung dalam falsafah memayu hayuning bawana. Itu merupakan sebuah falsafah kuno yang mengajarkan budi luhur bagi masyarakat Jawa. Dalam kepercayaannya, sebagai bentuk harapan akan harmoni kehidupan yang dapat memberikan kedamaian kepada seluruh alam.

Wujud memayu hayuning bawana adalah manusia harus sudah mengerti akan kebaikan yang terdapat pada dirinya, dan juga kebaikan jagat raya. Inilah telos masyarakat Jawa yang menciptakan makna bersosial, dan memberikan keselarasan bagi seluruh kehidupan.

Masyarakat Jawa sering mengunakannya untuk nasihat sosial: “memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara”. Artinya, kebajikan manusia atas bantuan-Nya untuk menumpas segala malapetaka dan keburukan.  Biasanya falsafah tersebut terus ditularkan dari generasi ke generasi berikutnya.

Falsafah inilah yang diwariskan orang tua kepada anak-anaknya, supaya mereka bisa menghargai sesama mahluk hidup. Budaya pitutur memang masih kental dilakukan oleh masyarakat Jawa. Kepercayaan bahwa dengan memahami falsafah kehidupan akan membawa hidupan yang lebih indah. Tak usang oleh zaman kalimat Memayu Hayuning Bawana berarti tiga hal.

Pertama, memayu berasal dari kata ‘mayu’ (cantik, indah, atau selamat) mendapat imbuhan ‘ma’ menjadi mamayu (mempercantik, memperindah, atau meningkatkan keselamatan) karena tradisi getok tular masyarakat Jawa kata mamayu menjadi memayu. Di sini mencerminkan perilaku positif dari manusia sosial dengan semangat kerekatan emosional sehingga melahirkan keharmonisan.

Kedua hayuning berasal dari kata ‘hayu atau ha’ dengan mendapatkan kata imbuhan ‘ning atau Ing’ (Allah atau Gusti Pangeran Maha Agung). Dalam falsafah tersebut memiliki arti cantik-Nya, indah-Nya atau keselamatan-Nya. Sehingga masyarakat Jawa dalam memaknai kata hayuning adalah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan tertuju kepada Sang Maha Kuasa.

Ketiga bawana memiliki dua ruang lingkup arti pada wujudnya. Pertama ruang bawah atau dunia dalam yang melingkupi batin, jiwa atau rohani. Sedangkan wujud kedua untuk ruang ragawi atau jasmaniahnya, karena mengunakan kata ‘buwono’ yang berati dunia fisik.

Buwono dalam aksioma masyarakat Jawa memiliki tiga makna. Pertama buwono alit (kecil) yang bermakna pribadi dan keluarga, kedua buwono agung (besar) yang berati masyarakat, bangsa, negara dan internasional (global), dan ketiga buwono langgeng (abadi) adalah alam akhirat atau Illah.

Dengan demikian falsafah tersebut memiliki hubungan kerekatan antara sosial budaya dan Tuhan. Bersama-sama masyarakat Jawa mayakini manusia mampu mengilhamkan keselarasan kepada seluruh alam semesta beserta isinya.

Karakter masyarakat Jawa bisa terlihat jelas, mereka mengunakan sistem pikiran sebagai fungsi ideologi. Seperti teorinya Baudrillard, suatu ideologi dipahami sebagai representasi pikiran. Orang bisa memiliki keyakinan sosial yang kuat berkat agama, mitos, prinsip moral, atau kebiasaan (Baudrillard, 1970: 135).

Menurut penulis teori ini menjadi titik awal sebuah reproduksi tatanan sosial, “setiap sistem disposisi individu adalah variabel struktural sistem disposisi yang lain, di mana terungkap kekhasan posisinya di dalam kelas dan arah yang dituju. Gaya pribadi, praktik-praktik kehidupan atau hasil karya, tidak lain kecuali suatu jarak terhadap gaya khas suatu zaman atau suatu kelas, sehingga gaya itu mengacu pada gaya umum, tidak hanya melalui keseragaman, tetapi juga melalui perbedaan yang menghasilkan pembawaan tertentu” (Bourdieu, 1980: 101).

Meskipun sudah diterima secara luas manusia memiliki kemampuan dan kesempatan unik dalam merawat alam, mereka juga dipandang sebagai mahluk yang bodoh dan bisa merusak. Manusia adalah mahluk mortal, dan serta perasaan mereka berubah-ubah sebagaimana angin. Sehingga, setiap makna yang bergantung pada opini manusia dengan sendirinya rapuh dan sesaat.

Contohnya dalam (Madan Sarup, 2008: 92), Foucault memaparkan di dalam bukunya Madness and Civilization, bagaimana kegilaan, bersama dengan kemiskinan, pengagguran dan ketidakmapanan kerja, pada abad ke-17 dipandang sebagai “masalah sosial” menjadi tanggungjawab negara.

Bila menghadapi persoalan terssebut, masyarakat Jawa sudah memiliki memayu hayuning bawana. Falsafat tersebut mengajarkan tentang kebenaran absolut, dan makna kehidupan atas alam semesta. Perilaku mereka didasarkan pada suatu hukum abadi yang keluar dari suatu sumber memayu hayuning bawana. Berperilaku dengan cantik, selalu menjaga keharmoisan sesama mahluk hidup dan menyatukan diri kepada Hayuning agar mendapat petunjuk kebenaran.

Hayuning meminta petunjuk kepada Sang Maha Kuasa untuk dibukakannya petunjuk. Melalui falsafah ini, masyarakat Jawa sebelum bertindak memikirkannya dengan perasaan yang bersih. Menanggalkan godaan-godaan dunia sejenak, masuk dalam relung hati paling dalam dan memusatkan daya pikiran (spiritual). []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme