Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

‘Patah Tumbuh Hilang Berganti’: Dinamika Seni Tradisi

Itulah tema Jagongan Budaya edisi perdana yang diselenggarakan oleh Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung, Senin, 10 Desember 2018, pukul 19.00 WIB. Jagongan Budaya sendiri dirancang sebagai forum yang mempertemukan budayawan dan pekerja seni di Tulungagung, dan akan digelar secara berkala.

Hadir sebagai pembicara, Drs. Untung Mulyono, M.Hum, pakar seni tradisi asli Tulungagung dan dosen senior di ISI Yogyakarta. Pembicara juga dikenal sebagai pendiri Sanggar Tari Kembang Sore. Berbekal pengalaman sebagai pelaku seni tradisi sejak usia belia, Untung Mulyono berbagi perspektif tentang fenomena seni tradisi yang ‘patah tumbuh hilang berganti’, di hadapan 40an peserta Jagongan Budaya.

JAGONGAN BUDAYA KECIL

Diskusi yang berlangsung selama tiga jam tersebut mencatat sejumlah hal penting terkait dengan dinamika seni tradisi, khususnya yang berkembang di Tulungagung. Berikut ini merupakan pokok-pokok pikiran Jagongan Budaya. Pertama, seni tradisi merupakan representasi dari jiwa, pikiran, dan penghayatan masyarakat atas hidup dan kehidupan yang sangat kontekstual dengan zamannya. Di dalam semua jenis seni tradisi, terkandung bukan hanya pakem-pakem kesenian, tetapi juga falsafah, pandangan hidup, dan nilai-nilai.

Sayangnya, peralihan generasi tidak selalu berhasil mentransformasikan kedalaman falsafah, pandangan hidup, dan nilai-nilai tersebut. Akibatnya, ragam seni tradisi mungkin saja masih bertahan hidup akan tetapi falsafah dan nilai-nilainya tidak lagi dimengerti oleh masyarakatnya sendiri.

Maka tidak mengherankan bila pada akhirnya, banyak kesenian tradisi yang mulai kehilangan ruhnya. Bagaimanapun, seni pada akhirnya menyerupai manusia yang memiliki batas dan usia untuk bertahan hidup. “Tidak perlu menangisi apa yang sudah mati,” begitu tegas Untung Mulyono dalam menegaskan bahwa di dalam diri masyarakat sendiri sesungguhnya terdapat daya dan kemampuan untuk melestarikan dan merevitalisasi ragam seni tradisi yang masih kontekstual dengan zaman.

Selagi masih ada kreatifitas yang berkembang dalam masyarakat, maka semua genre seni tradisi tetap akan memiliki harapan untuk revital.

Kedua, banyak seni tradisi yang memiliki kaitan langsung dengan spiritualitas—sehingga pada masanya seni hadir dengan segenap sakralitasnya. Meski begitu, arus modernisme akan terus menggerus apa yang dianggap sakral oleh masyarakat. Semakin lama, dimensi sakralitas dalam ragam seni tradisi juga akan mengalami penggerusan yang sama. Sekali lagi, faktor yang menyelematkan proses revitalisasi menurut Untung Mulyono adalah daya kreativitas masyarakat itu sendiri.

Ketiga, sejauh seni merupakan jiwa dan representasi kesadaran masyarakat, ragam seni tradisi akan tetap hidup dengan atau tanpa dukungan dan fasilitasi pemerintah. Kebudayaan dan kesenian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, sehingga dukungan pemerintah sesungguhnya tidak pernah menjadi faktor yang menentukan bagi keberlangsungan kesenian dan kebudayaan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme