Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

“Gayatri Rajapatni sebagai Pondasi Kebangsaan Indonesia”

Transkrip Pidato Dr. Maftukhin, M.Ag, Rektor IAIN Tulungagung, pada acara “Jumenengan Rakyat Kebudayaan Tulungagung 2018” berjudul “Gayatri Rajapatni sebagai Pondasi Kebangsaan Indonesia”, 26 Desember 2018

 

Assalamu’alaikum wr. wb.  

Yang saya hormati Bu Eva Kusuma Sundari selaku Ketua Kaukus Pancasila MPR RI, serta nara sumber dari Kementerian Kebudayaan.

Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada para pejabat pemerintah sipil maupun militer. Saya tidak akan berpidato tentang kebudayaan, tetapi saya hanya ingin menyambut para tamu agung yang datang ke IAIN. Kami menyebut tempat ini sebagai paseban, meski biasanya paseban berupa taman di alun-alun tetapi di IAIN ini kita berada di gedung besar IAIN Tulungagung.

Para rawuh sederek sedoyo, perbedaan merupakan sebuah keniscahyaan. Itulah semangat yang bisa diwarisi dari sosok spiritualis perempuan bernama Sri Gayatri Rajapatni. Pada tahun 1309 M, kira-kira di usianya yang ke-34 tahun, beliau sudah menjadi bhiksuni dan  tidak lagi berbaur dengan urusan duniawi. Maka, mengagungkan Gayatri dengan simbol-simbol kemegahan duniawi, kayaknya kuranglah tepat.

Menjadikan nama Gayatri sebagai nama dari segala hal yang berbau dunia seperti nama terminal, pasar, nama batik dan sebagainya, juga kurang tepat karena figurnya—bahkan ketika masih di usia yang masih muda kala itu—tidak lagi berpikir masalah baju, pakaian. Pengagungan Gayatri di Tulungagung adalah mengakui bahwa ia seorang spiritualis murni di mana baju, pakaian dan semua hal yang bersifat duniawiah telah ia tinggalkan.

Sebaliknya, beliau harus diposisikan sebagai guru dari orang-orang hebat yang sekarang masih kita rasakan kehebatanyya. Murid beliau, ia didik ketika ia sudah menjadi rohaniawan dan menghilangkan diri dari keraton Majapahit. Sejarah mencatat murid-murid beliau adalah tokoh-tokoh bersar seperti Mpu Prapanca, Mpu Tantular dan Gajah Mada.

Semua memahami, Mpu Prapanca mengarang Kitab Negarakertagama yang bercerita tentang sistem politik dan ketatanegaraan. Jadi, Negarakertagama merupakan kitab tentang ketatanegaraan. Jika menurut Bu Eva K Sundari bahwa kerajaan Majapahit sampai di daratan Afrika maka menurut penelitian/riset terbaru dengan arkeologi-linguistik, orang Jawa dulu menguasai wilayah hingga sampai Hawai. Hal ini dibuktikan dari bahasa asli mereka sebelum penjajah Inggris datang. Sebelumya, mereka menggunakan hitungan yang sama dengan orang Jawa dalam peneyebutan angka seperti siji, loro, telu dst.

Jadi, orang Jawa dahulu, bisa menguasai wilayah yang begitu luas. Bahkan ketika Mongolia berusaha menguasai Jawapun tidak terbukti bisa berhasil. Ketika Kubilai Khan cicitnya Jenghis Khan dari China dapat dikalahkan oleh pasukan yang selama itu tidak diperhitungkan. Mereka adalah pasukan Majapahit pertama. Itulah kali pertama pasukan Mongolia dikalahkan oleh pasukan orang bertubuh hitam, pesek, kecil-kecil (sambil bercanda dan audiens tertawa).

Saya agak berbeda dengan Bu Eva, bahwa Majapahit sebenarnya tidak memiliki negara jajahan, tetapi negara federasi dengan membagi negara  menjadi beberapa macam: istilah nagari untuk menyebut wilayah di dalam kekuasaan Majapahit semisal: Lasem, Pajang, Tumapel dll. Ada yang disebut mancanegari artinyaa negara yang telah berhasil dikuasai oleh Majapahit mulai dari Madura, Bali hingga ke arah timur hingga Papua Nugini, Vietnam (dulu bernama Champa), Kamboja, China (wilayah langit) yang masing-masing memiliki hukum berbeda-beda.

Di atas banyaknya wilayah yang berbeda-beda itulah Gayatri mengajarkan konsep Ketatanegaraan kepada Mpu Prapanca yanag kemudian ditulis menjadi kitab Negarakertagama.

Murid kedua adalah Mpu Mada atau Gajah Mada yang menulis kitab Kutara Manawa yang menggubah sastra India yang berisi 267 pasal yang mengatur tentang hukum dan hukuman bagi masyarakat waktu itu. Termasuk di dalamnya berisi tentang kovensi, etika perang dll. Selain itu, berisi beberapa hal di bidang hukum, pertahanan dan keamanan. Sebagai contohnya di dalam kitab tersebut ditemukan hukuman bagi pencuri, perampok, koruptor yang memiliki kadar hukum masing-masing. Terdapat pula Hukum picisan (hukuman yang  digelar di tempat umum (alun-alun) menggunakan kulit bambu. Karena itulah ia menjadi ahli tata negara, ahli di kelautan.

Murid ketida adalah Mpu Tantular pengarang kitab Sutasoma yang terkenal dengan semboyannya Bhinneka Tunggal Ika Tanhana Dharma Mangrwa. Kutipan ini menjadi karya besarnya yang kemudian dikutip oleh Ir. Soekarno menjadi motto bangsa.

Ketiga sosok di atas merupakan tiga orang berpengaruh dalam kerajaan Majapahit yang kemudian dapat kita ketahui bagaimana peran Sri Gayatri Rajapatni. Sri Gayatri Rajapatni adalah seorang Guru maka ia terus membawa dirinya sebagai orang yang memiliki sifat profetik/kenabian, dalam bahasa keagamaan.  Pada zamannya, ia membawa berkah bagi seluruh manusia dan alam.

Kalau kemudian ditanya mengapa IAIN Tulungagung mau menerima orang dengan agama, kebudayaan dan watak yang beragam maka jawabannya adalah karena IAIN Tulungagung adalah guru. Dalam istilah kerajaan Majapahit istilah guru disebut sebagai Brahmana. Istilah Guru memiliki persamaannya dengan beberapa istilah dalam sejarah Islam misalnya wali. Wali Sanga berasal dari kata Wali dan Sangha yang berarti Wali artinya guru dan Sangha artinya Suci.

Tugas Guru yang memiliki sifat profetik adalah mengajarkan agama, mengayomi semuanya, tidak membeda-bedakan manusia. Itulah peran yang harus bisa dimainkan oleh IAIN Tulungagung.

Bapak/ibu yang saya hormati, sebelum membahas soal kebhinnekaan kita perlu membahas ketaanegaraan. Karena itu, kecerdasan Rajapatni telah memberi masukan kepada seluruh penguasa Majapahit dimulai dengan mengatur tata sosial serta menghilangkan pembedaan antarmanusia. Di berbagai belahan dunia ada pembedaan antara mereka yang asli dan di luar mereka misalkan dalam tradisi Arab ada istilah ’ajam, aryan atau barbar. Di India juga terdapat juga pembedaan kasta sosial yang berbasis material.

Dalam kerajaan Majapahit, pembagian kasta didasarkan pada tingkat spiritualitas manusianya. Itulah juga merupakan ajaran yang dibangun oleh seorang Gayatri Rajapatni. Ada kasta Brahmana, Rsi, Guru. Kelompok ini seluruh hidupnya ditanggung oleh kerajaan. Hidupnya digunakan untuk mengajarkan hikmah kepada manusia. Mereka adalah orang-orang suci dan tidak boleh mendapat tanah sejengkalpun dari kerajaan.

Ada kasta Ksatria, yakni kasta yang merupakan bagian dari pemerintah yang mungkin padanannya sekarang adalah aparatur sipil negara. Mengajarkan agama juga kepada masyarakat. Ia juga tidak boleh mempunyai harta dan tanah. Ada kasta Waisya, yakni para pedagang. Ada kasta Sudra, yakni orang-orang yang memilki tanah. Kasta ini tidak boleh berbicara soal agama. Ada kasta Candala yakni para penjegal, pencuri. Beberapa di antaranya merupakan pembunuh. Ada kasta Mleccha, yakni orang asing yang tidak boleh menguasai sejengkal tanahpun. Orang pribumi dilarang mengikuti mereka. Ada pula kasta Tuccha, yakni para pencoleng, perampok dan sebagainya.

Itulah tata sosial yang dibedakan berdasarkan tingkat spiritualitasnya. Kemudian, dalam ketatanegaraan dan kebangsaan  mengacu pada hal yang disebut sebagai Bhinneka Tunggal Ika. Kelahirannya berkenaan dengan bagaimana kala itu, agama dijadikan sebagai alat politik, yakni Raja Kertajaya dari Kediri diberontak oleh Tumapel. Orang mengenalnya dengan pemberontakan yang dilakukan Ken Arok atau Ranggah Rajasa. Pemberontakan tersebut terjadi lantaran Prabu Kertajaya menggunakan agama sebagai alat kekuasannya untuk menekan masyarakat. Para pendeta dihukum jika mereka tidak mempercayainya. Agama dijadikan sebagai alat untuk menaklukan orang lain.

Pada hakikatnya baik Siwa maupun Buddha sesungguhnya tidak ada bedanya. Hanya simbolah yang berbeda. Maka lahirlah narasi Bhinneka Tunggal Ika. Dalam konteks negara Indonesia merupakan landasan bagi keragaman bangsa. Di Indonesia terdapat 4 pilar kebangsaan yaitu: UUD 1945, Pancasila, NKRI. Bhinneka Tunggal Ika. Ini merupakan dasar spiritualitas ketata-negaraan Indonesia.

Filosofi Kebhinnekaan juga tampak seperti dalam potongan bait lagu Indonesia Raya tiga stanza yang kita nyanyikan tadi di pembukaan. Bhinneka Tunggal Ika itu meliputi cipta, rasa, karsa, dan budi. Cipta, rasa, karsa merupakan wujud kebersihan rohani sedangkan budi merupakan pewujudan empiris dari kebersihan rohani. Dalam lagu Indonesia Raya ada bait, “sadarlah jiwanya sadarlah budinya”.

Majapahit bisa menjadi kerajaan besar karena membangun penyadaran jiwa kemudian budi sebagai pengejawentahannya. Indonesiapun bisa menjadi besar substansi tersebut kembali diwujudkan. Kita harus bersatu untuk mewujudkan hal tersebut.

Bapak/Ibu sekalian, hal terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, hal pertama yang harus dilakukan agar orang dapat bersatu adalah setiap orang harus memiliki visi untuk bersatu di tengah beragam perbedaan. Maka NKRI dapat utuh jika di dalamnya terdapat orang-orang yang kesadaran cipta, rasa, karsa dan budi. Siapapun harus memilikinya, dari struktur bawah hingga atas.

Rajapatni mengajari masyarakat dengan spiritual yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat pada masa itu. Ajaran spiritual akan melahirkan kebudayaan yang spiritualis. Kebudayaan dan kesenian dapat berkembang sangat dinamis, ia merupakan representasi kesadaran spiritualitas manusianya. Setiap bangsa yang tidak lagi memiliki kebudayaan adiluhung itu bertanda telah mengalami kemerosotan, dan bangsa yang mengalami kemerosotan spiritualitas, sungguh tengah di ambang kehancuran.

Bapak/Ibu sekalian, oleh karena itu, jika di Tulunagagung sebagai pusat spiritualias dan kemudian kebudayaannya hilang maka spiritualitas masyarakatnya sesungguhnya telah mengalami kemerosotan. Setiap bangsa yang tidak memiliki kebudayaan dan spiritualitas maka ia akan segera hancur. Indonesiapun akan hancur tatkala kebudayaan tidak lagi diperhatikan.

Bapak ibu saudara, dulu saya pernah berkata bahwa menjadi seorang penguasa di Tulungagung bukan hanya menjadi penguasa politik melainkan juga pemangku kebudayaan. Karena kebudayaan adalah inti dari kerja politik, kenegaraan, juga kerja pengetahuan. Jika dahulu konsep dari Gayatri dapat menyejarah dan me-Nunsantara maka kita saat ini harus bisa mewarisinya Tulungagung menjadi spirit, mengembalikan kegemilangan kebudayaan dan peradaban. Tulungagung dalam Jawa kuno berarti sumber yang besar. Sumber pengetahuan dan keadaban. Bhinneka Tunggal Ika kita akui bersama dialiri oleh kesadaran spiritual para leluhur yang berada di tanah Karsian ini. Bhinneka Tunggal Ika, bertumbuh salah satunya dari bumi Tulungagung, dari Tulungagung untuk Nusantara.

Ihdinas-shirotol mustaqiem. Wassalamualaikum wr. wb. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme