Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

“Pancasila sebagai Basis Kebudayaan”

Transkrip Pidato Eva Kusuma Sundari, Kaukus Pancasila MPR RI, pada acara “Jumenengan Rakyat Kebudayaan Tulungagung 2018” berjudul “Pancasila sebagai Basis Kebudayaan,” 26 Desember 2018.

 

Assalamualaikum wr wb.

Rahayu..

Bapak/Ibu yang saya cintai. Yang saya hormati Pak Rektor IAIN Tulungagung dan jajaran, poro pini sepuh serta teman-teman sekalian. Saya akan mulai dengan salam Pancasila.

Salam Pancasila! Salam Pancasila, Merdeka (semua audiens menjawab).

Bapak/Ibu yang saya hormati, saya merasa tersanjung berada di hadapan semua. Bahwa pada kali ini saya hanya akan mengurai saja yang sudah saya percayai dan yang sudah saya praktikkan, yang saya anggap ini sebagai praktik kebudayaan walaupun kontribusinya sangat kecil. Saya selaku Ketua Kaukus Pancasila mempercayai bahwa kebudayaan yang akan kita bangun sebagai mimpi masa depan, sebagai strategi, maupun sebagai inspirasi adalah budaya Pancasila.

Kata pidato Bung Karno sangat jelas ketika mengurai awal mula pidatonya bahwa untuk menjawab dasar negara beliau menyatakan, “saya sudah melakukan penggalian dari berbagai daerah dan bertemu dengan semua orang dari Indonesia Timur, Utara, Barat, Selatan dan semuanya saya catat mempunyai lima karakteristik.” Dalam hal ini maka Pancasila sebagai kebudayaan harus bergerak, ia harus mampu merespon semua tantangan zaman.

Dan sampai saat ini Pancasila sudah mampu menjawab tantangan-tantangan, baik di dalam negeri maupun dari  luar. Kekuatan-kekuatan tersebut berasal dari tiga hal yang menurut saya Tulungagung sangat terhubung dengan warisaan sejarahnya yang memiliki kaitan dengan tiga hal tersebut.

Pancasilla sebagai kebudayaan harus bisa menjawab tantangan-tantangan zaman. Ini berhubungan dengan toleransi dan kesetaraan.  Hal ini seperti yang terdapat dalam kerajaan Majapahit dengan semboyannya Bhinneka Tunggal Ika Tanhana Dharma Mangrwa. Tanhana Dharma Mangrwa itulah yang akan  saya uraikan untuk menjawab bagaimana kebudayaan kita. Tanhana Dharma Mangrwa berarti tak ada keutamaan yang mendua . Pancasila sebagai ideologi dan dasar nasionalisme maka keutamaannya ditujukan pada sang Pencipta.

Pancasila berada di atas agama-agama yang ada di Indonesia. Spiritualitas Pancasila dapat mempersatukan agama maupun ideologi-ideologi yang lain. Religiusitas dan spiritualitas merupakan prinsip kebahagiaan dari keutamaan Pancasila.

Tiga hal keutamaan dalam ideologi Pancasila. Pertama, kebahagiaan mewujud dalam pembebasan. Kita melawan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, artinya kita harus bekerja keras agar kebahagiaan dapat  diraih. Karena tidak mungkin orang yang berdiam diri atau statis akan mendapat kebahagiaan.

Kedua, kebahagian mewujud pada subyek manusia. Ideologi Pancasila tidak melayani pasar. Ideologi Pancasila tidak berkehendak menyama-ratakan seluruh manusia, tetapi menyetarakan kemartabatan seluruh manusia. Tentu dalam hal ini ada elemen kepantasan. Nggak pantas kalau rakyat Indonesia nggak bisa makan, membaca, berbaju dan nggak ngerti teknologi.

Ketiga, tansendental. Bung Karno memiliki istilah revolusi dinamis, aksi-refleksi terus menerus hingga ada kelayakan martabat bangsa yang terpenuhi. Ada kepantasan, ada kemajuan dan kerja keras serta daya yang tidak mau menyerah pada status quo.

Tiga keutamaan itulah menjadi roh bagi kebudayaan yang akan kita bangun.  Pancasila harus menjadi orientasi ke arah mana  kebudayaan akan kita bangun. Selain itu juga merupakan metode penyelesaian masalah yang dimiliki bangsa ini. Prinsipnya musyawarah mufakat. Jangan menyelesaikan masalah seperti negara dengan klien. Mengapa musyawarah mufakat? Karena orang bisa bicara dengan apa maunya. Yang miskin bisa duduk dengan yang kaya. Yang cacat bisa berkumpul dengan yang lainnya.

Lalu ke manakah masyarakat akan dibangun? Yaitu masyarakat yang egalitarian dan demokratis seperti nilai sila ke-4 Pancasila. Tetapi jangan lupa bahwa Bung Karno menyatakan kenapa musyawarah mufakat harus menjadi dasar, agar dicari hikmah. Hikmah itu adalah solusi beyond individual. Jadi, apa yang sebaiknya yang terbaik untuk kita semua. Yang bisa digunakan untuk merespon kepentingan-kepentingan individu. Penyelesaian inilah yang menurut saya disebut spiritual emotion atau kecerdasan spiritual di dalam ideologi  yang berbasis pada nasionalisme religius.

Meski demikian Soekarno menunjukkan bahwa relevansi musyawarah mufakat itu akan bisa menjawab tantangan zaman. Dan sekarang semua ahli politik sedang mengelaborasi demokrasi deliberatif. Isinya society based on concensus, society based on commitment, dst. Ini sudah dibicarakan Soekarno bahwa pengambilan keputusan terbaik adalah musyawarah mufakat.

Bung Karno menguraikan bahwa ia mengambil ide musyawarah dari spiritualisme karena semua agama menginginkan demokrasi. Demokrasinya adalah adanya kesetaraan, yakni musyawarah mufakat. Itulah yang kemudian mengilhaminya. Bung Karno menyindir juga bahwa setiap manusia merupakan tempat ketidaksempurnaan karena kesempurnaan itu hanya milik Allah, Yesus, Sang Hyang Widi, dst, maka musyawarahlah kamu untuk saling melengkapi, menyempurnakan sehingga mencapai kesepakatan, konsensus.

Konsep musyawarah mufakat ini sudah dipraktikkan di negara-negara  Skandinavia, di mana negara-negara ini dikategorikan sebagai negara yang nol kemiskinan, nol Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), nol kekerasan dan negara yang paling layak untuk dihuni. Di sana social protection-nya tinggi. Setiap orang harus dijaga martabatnya sehingga bisa makan dengan layak, pendidikan layak. Jadi, negara mengadopsi hak dasar rakyat. Indonesia harus melihat itu karena keadilan sosial sebagaimana didefinisikan Bung Karno persis yang dipraktikkan negara-negara Skandinavia. Apa keadilan sosial itu? Keadilan sosial itu adalah ketika tidak ada satupun warga negara yang kelaparan karena nggak bisa makan, kedinginan karena nggak punya baju, sakit karena nggak punya rumah.

Bagaimana mencapai keadilan itu? Musyawarah mufakat dan demokrasi. Demokrasi itu diilhami dari kita semua tempat dari ketidaksempurnaan maka musyawarahlah. Jadi, kalau sampai ada yang ngomong Pancasila itu tidak sama dengan Islam, itu orangnya pasti keblinger karena benci dengan Pancasila. Karena Pancasila itu adalah substansi dari semua agama. Tidak ada agama yang anti-demokrasi, tidak ada agama yang suka dengan perpecahan. Semua menginginkan persatuan. Tidak ada agama maupun ajaran filosofi manapun yang tidak mempercayai kekuatan di luar manusia yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bapak/Ibu sekalian, di situlah sebenarnya kekuatan ideologi kita. kekuatan dari kepribadian kita untuk menjadi substansi kebudayaan karena sudah membuktikan bahwa Pancasila mampu menjawab tantangan-tantangan zaman.

Yang pertama, tantangan melawan kolonialisme. Dengan Pancasila ini dipersatukanlah 700 suku Indonesia dengan berbagai bahasa dan agama. Dengan Pancasilalah kita mampu melayani dan menjawab bahkan mempertahankan NKRI tatkala seluruh dunia mengalami balkanisasi, keruntuhan negara-negara besar karena tidak mampu mengelola perbedaan. Yugoslavia pecah menjadi 5 negara,  Rusia pecah menjadi 12 negara, dst. Indonesia tetap kuat karena mampu mengelola perbedaan dalam kesetaraan melalui gotong royong.

Tantangan kedua, ketika negara-negara sedang pusing mengalami konflik antar-agama bahkan permusuhan rakyat seagama, Indonesia mampu mempertahankan kestabilan dan kesatuan dengan Pancasila. Dan yang terakhir, Pancasila mampu menunjukkan Indonesia itu negara paling demokratis di dunia dengan Pemilu yang paling komplek di seluruh dunia.

Ini laporan indeks demokrasi dunia. Pemilu yang paling kompleks karena empat Pemilu dilaksanakan bersamaan, nanti 2024 tambah lima lagi karena Pilkada juga mau disamakan. Paling kompleks karena menjangkau wilayah yang luas. Mencapai 400 distrik, kabupaten/kota. Dan paling kompleks karena jumlah yang terlibat dalam pemilu adalah paling besar di dunia.

Jadi mungkin saja nanti di bulan April 2019 akan ada orang yang mau belajar bagaimana menyelenggarakan Pemilu yang paling kompleks di dunia ini ke Indonesia, karena itu hanya terjadi di Indonesia. Itulah yang seharusnya membuat kita bangga. Indonesia mampu memastikan bisa menjawab tantangan-tantangan dunia dan zaman dengan kebudayaan yang isinya adalah nilai-nilai Pancasila.

Lalu bagaimana dengan masa depan? Setelah kita membuktikan bahwa dunia sekarang telah mempraktikan demokrasi deliberatif, dan semua setuju keadilan sosial, dan semua setuju juga bahwa dalam menyelenggarakan ini harus berbasis musyawarah. Maka pada masa depan, kita akan membuat berbagai strategi kebudayaan dengan nilai-nilai Pancasila untuk memastikan bahwa kita bisa menaklukkan dunia. Laporan terakhir, ini harus saya verifikasi, kira-kira tiga minggu yang lalu saya masih berkesimpulan Indonesia itu mencapai 16 besar ekonomi dunia. Laporan terakhir kita sudah berada di 5 besar perekonomian dunia.

Fungsi Pancasila salah satunya adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Karena pusat Pancasila itu adalah ngopeni manungso supaya hidupnya bermartabat.

Jadi religiusitas dan spiritualitas bukan agama yang tekstual karena Bung Karno mengingatkan bahwa kita umat beragama dan berkeyakinan tetapi jangan egois. Jangan kemudian karena kamu gak sama dengan yang lain maka kamu sesat kamu haram, dst. Inilah yang juga dilakukan ketika Majapahit. Tidak ada pertumpahan darah ketika Majapahit menaklukan Myanmar, Kamboja, dst. Semua happy melalui perkawinan dst. sampai pada Madagaskar di Afrika Timur.

Di Penataran terdapat relief yang menunjukkan diplomasi Majapahit kepada seluruh dunia. Ada yang mukanya mirip China, seperti Afrika, seperti Indian, seperti Israel. Jadi ada kesimpulan dari arkeolog Jerman Bahwa relief Penataran memang lebih kompleks dari cerita Mahabharata dan Ramayana.

Baik, sekarang kembali ke tugas saya untuk mengurai kebahagiaan. Kita paham bahwa happines adalah ketika orang diorangkan, martabatnya dihargai. Tidak dinomorduakan. Dan ajaran yang menjadi inspirasi saya adalah ketika saya membaca Memayu Hayuning Bawana. Bagaimana ketika kita membuat kebaikan-kebaikan. Itu ada dalam ajaran islam, Kristen, dst. Dan Memayu Hayuning Bawana jika saya telusuri lebih dalam caranya. Apa? Pesan ini bertemu dengan istilah Ibu Bumi-Bopo Angkoso. Bagaimana kita merawat bumi karena merupakan sumber makan, sumber kita menumbuh-kembangkan kemudian merawat, itulah bumi. Lalu apa boponya? Itu oksigen. Apa maksut dari Ibu Bumi-Bopo Angkoso sebetulnya? Sebenarnya adalah kelahiran atau kehidupan. Dan itu ternyata dipakai Soekarno untuk mencari bendera (merah-putih), menemukan motto Bhinneka Tunggal Ika.

Semuanya berporos pada kehidupan. Memelihara dan merawat kehidupan. Itu yang membuat saya mendapat inspirasi untuk membuat gerakan-gerakan yang sesuai dengan tuntunan tadi. Dan itu sesuai dengan omongan dari Dirjen Kebudayaan: Kebudayaan itu based-nya adalah tradisi-kearifan lokal.

Konsep Ibu Bumi-Bopo Angkoso pun dikenal juga di Papua tetapi dengan bahasa berbeda, begitu juga konsep yang sama dikenal di Kalimantan, bahasa berbeda dengan isi sama. Intinya, bagaimana menyelaraskan tiga hal sekaligus: hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan hubungan dengan alam.

Teman-teman sekalian, ibu-bapak dan juga adik-adik yang saya hormati. Kalau kita bicara kebudayaan itu terukur, ada dampaknya. Kalau kita komitmen kepada kebudayaan, itu ada perbaikan-perbaikan yang kita kontribusikan, Memayu Hayuning Bawono. Dan salah satu yang saya himbau, bisa diukur, kebaikan tersebut. Tapi kalau hanya ngomong-ngomong dan tidak ada kontribusinya, maka kita belum berbudaya. Budaya itu praktik, budaya itu konkret karena menyumbang kebaikan-kebaikan.

Salah satu yang ingin saya himbau, kebudayaan itu erat hubungannya dengan kesejahteraan. Kesejahteraan salah satu fungsi dari kebahagiaan. Jadi kalau miskin, trus gini, jangan ngomong kebudayaan dulu. Kita berdaulat dulu, kemudian mandiri secara ekonomi, baru kita ekspor kebudayaan kita. Jadi teman-teman sekalian, berbudaya dan martabat tinggi itu, jangan ada hutang dan kemiskinan. Oleh karena itu kenapa Jokowi ngoyo untuk bikin kesejahteraan itu naik? Alasannya supaya bangsa kita bermartabat di hadapan dunia.

Di microcosmos kita, logikanya harus sama, mandiri ekonomi. Supaya kita ngomong, ”ayo musyawarah mufakat, itu didengar orang.” Tapi kalau kita tidak mandiri secara ekonomi, lalu mengajak untuk kembali ke ajaran adiluhung, ini konsep musyawarah, maka tidak didengar orang.

Model kepemimpinan by model, jadi saya himbau semua, kalau mencintai Pancasila, mencintai NKRI, majukan kesejahteraan kita, lingkungan kita, dan juga masyarakat kita. Inilah yang akan menjadi energi untuk kemudian saling mengangkat kita bersama-sama. Karena di dalam gotong royong tidak ada ceritanya satu maju sendirian, harus bersama-sama, maju bersama, maju bersama-sama, pinter bersama-sama. Jadi kenapa kita mengenal asih, asah, asuh, itu karena kita pengen bersama-sama maju.

Baik Bapak Ibu sekalian, ini perspektif dan cara saya membaca tentang kebudayaan itu adalah strategi untuk menghadapi tantangan dan menaklukan tantangan.  Dan ideology yang saya percayai adalah Pancasila, karena sudah membuktikan dirinya sakti. Dengan melampaui dan menang dalam berbagai  tantangan dunia, sementara banyak negara lain berantakan (karena tidak berhasil mengelola perbedaan). Kita bisa menunjukkan kedigdayaan kita sebagai bangsa yang religius tapi bergotong royong. Pro kepada kesejateraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jadi bagaimana masyarakat yang bahagia? Martabatnya terjaga. Bagaimana masyarakat yang bahagia? Dia menyandang kepada keutamaan yang tunggal, yaitu Tanhana Dharma Mangrwa. Tidak ada kebenaran yang dobel. Lalu apa kebagiaan itu? Kesejahteraan untuk menjaga kemartabatan tersebut. Jadi saya ingin kita semua mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh Jokowi. Satu, kerja keras, cerdas, orentasinya jelas. Tiga hal ini outputnya kemudian juga jelas. Seluruh tambang migas sekarang dikelola oleh Pertamina. Tepuk tangan dulu.

Anda tahu berapa potensi dari 51 persen saham yang diperoleh oleh Indonesia, mencapai 80 Trilyun. Insyaallah akan masuk APBN kita. Itu akan jadi energi konkret untuk membiayai pembangunan, kesehatan dan pendidikan dan seterusnya. Tetapi Jokowi cerdas, bagaimana mengakali Freeport, Jokowi tenang aja, tidak mengancam-ngancam, tenang, kalem, dan selesai. 51 persen bisa didapat pemerintah Indonesia.

Kenapa kemudian tidak melakukan nasionalisasi? Kita bisa dibawa ke arbritase, pengadilan dunia, seperti dalam kasus Venezuela. (potensinya) Kalah kita. Karena logikanya apa?  Freeport ke sini membawa alat, aset, itu milik Freeport. Yang perlu kita kuasai adalah tanahnya. Jadi kita harus pintar-pintar. Jadi Bapak/Ibu sekalian. Di masa yang akan datang, indonesia masuk menjadi negara industri. Karena satu, investment rate kita bagus, tidak ada korupsi, sehingga orang percaya untuk menanam (modal). Yang terakhir I-phone membangun pabriknya di sini, itu karena sudah melihat, indikator-indikator positif.

Tapi semua potensi untuk menjadi negara kelima terbesar di dunia (sebagaimana tergambar tersebut), akan hilang dan hanyut kalau tren saat ini tidak bisa dipertahankan. Satu, negara tidak ada konflik, tidak ada konflik di dalam. Kedua, korupsi membaik terus menerus—indeks korupsinya bukan korupsinya. Ketiga, infrastruktur. Keempat adalah energi, tidak byar-pet lagi, ini sudah dikuasai oleh pemerintah hari ini. Tapi kalau manusianya tidak cerdas, kerja keras, orientasi jelas seperti Jokowi, kita akan berat (di masa mendatang).

Jadi kedepan, APBN termasuk yang ada di dana desa, alokasinya untuk pembinaan, pendidikan, pelatihan, dan untuk memastikan kita menjadi manusia yang cerdas jasmani, cerdas otak, dan cerdas mental, cerdas spiritual. Dari mana saja saya mengurai inspirasi ini? Dari sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa, lalu sila keduanya, berperikemanusiaan yang adil yang beradab. Ini syarat mutlak untuk melakukan gotong royong. Di sini ruang menjadi nyaman bagi para perempuan. Di manapun selalu tidak ada diskriminasi.

Sila kedua Pancasila inilah yang memberikan jaminan dan ini sangat Illahiah. Jadi Tuhan itu tidak diskriminatif, negara tidak (boleh) diskriminatif, dan Pancasila tidak diskriminatif. Jadi bagi para perempuan, Pancasila adalah ideologi yang nyaman untuk dikembangkan menjadi dasar gerakan. Karena Bung Karno dengan jelas menyatakan, perempuan dan lelaki ibarat dua sayap dari burung Garuda. Keduanya harus kuat, kalau salah satu saja yang kuat, tidak bisa terbang Garuda itu. Jadi lelaki dan perempuan harus kuat, supaya bisa mengarungi angkasa.

Bapak/Ibu sekalian, demikian dari saya. Dan sekali lagi bahwa Pancasila harus dipastikan sebagai inspirasi dan orientasi. Dan di dalam Nawacita, kebudayaan itu juga menjadi tujuan agar menjadi paradigma dalam melaksanakan pembangunan.

Kebudayaan yang bagaimana? Yaitu kebudayaan yang mengangkat martabat manusia. Intinya di situ.

Baik Bapak/Ibu sekalian, saya minta kita semua bertekad, membulatkan tekad untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi, sebagai kepribadian, juga sebagai bintang penuntun. Dia sebagai orientasi, dia sebagai inspirasi. Kalau mainstreaming Pancasila sudah jalan di pendidikan, di politik, di pelayanan birokrasi, dan berbagai sektor yang lain, di komunikasi dan teknologi, maka Pancasila sudah menjadi kebudayaan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme