Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kelahiran dan Peringatan Atasnya

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Tidak terasa, Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung, telah genap berusia dua tahun. Tanggal 3 Januari 2019 adalah ulang tahun kedua lembaga ini. Kelahiran dan peringatan atasnya, masih saya rasakan sebagai hal sakral.

Kami orang Jawa, dan terus berupaya bisa berpikir dan bertindak layaknya orang Jawa. Kelahiran menjadi sakralitas tersendiri bagi orang Jawa karena kelahiran dianggap sebagai perwujudan Sang Hyang Tunggal di jagad wadag, mungkin juga di jagad intelek. Begitulah cara saya memahami semua kelahiran, tidak terkecuali kelahiran IJIR dua tahun lalu. Ia menjadi hal sakral karena mewakili yang Ilahiah.

Mungkin, bukan hanya orang Jawa yang punya kesadaran demikian. Banyak kebudayaan manusia di berbagai belahan bumi mungkin juga memiliki pandangan yang mirip, dan karenanya kesadaran yang Ilahiah atas kelahiran itu telah menjadi semacam rasionalitas universal.

Orang Jawa, sekali lagi, memaknai kelahiran sebagai manifestasi ke-Tuhan-an yang kompleks karena bersifat kosmologis. Setiap kelahiran selalu diinsyafi sebagai keterkaitan total manusia di dalam cosmos. Setiap jelmaan yang lahir di jagad hanya mungkin karena ada pelantar. Ibu dan bapak. Sperma dan ovum. Pelantar yang bertemu di dalam naungan cahaya Ilahiah itu yang memungkinkan jabang bayi hadir di muka bumi. Begitu juga dengan entitas-entitas lainnya.

Orang Jawa punya narasi khas untuk menggambarkan yang sakral itu, ibu bumi bopo angkoso. Saya mendapat pengayaan atas alegorisme tersebut dari banyak tokoh adat dan tradisi, juga Mbak Eva K. Sundari yang mengaku tengah menggali makna filosofis alegorisme tersebut. Bumi—tumpah darah ini, menyediakan semua anasir yang dibutuhkan jabang bayi untuk mengada di ruang wadag. Anasir-anasir itu menjelma menjadi spermata dalam bahasa Anaxagoras—penganut Mazhab pluralisme dalam khazanah pemikiran Yunani kuno.

Sementara itu bopo angkoso mewakili unsur udara yang menyelimuti semesta dan kehidupan. Mirip imajinasi Anaxemenes yang melihat segala sesuatu hanya mungkin mengada karena anasir udara. Bumi tumpah darah dan udara beserta dengan kompleksitas anasir-anasir semesta itulah yang memungkinkan semua jabang bayi (calon) mungkin mewujud di jagad wadag. Yang Ilahiah menjelma dalam tata cosmos dan itulah pelantar bagi semua kelahiran.

Pada masa Majapahit, konon, alegorisme tersebut diwujudkan dalam simbol merah putih. Merah ovum ibu, putih sperma bapak. Simbol itu berpadu dan sekaligus menggambarkan kemegahan Wilwatikta di masa lalu. Simbol yang sama juga digali oleh Soekarno dan para pendiri bangsa menjadi sangsaka merah-putih, salah satu pondasi kebangsaan Indonesia modern hingga hari ini.

Melalui merah-putih, ada kesadaran ke-Tuhan-an, kemanusiaan, dan kebangsaan yang khas dan teologis. Manusia selalu menghunjam pada akar bumi tumpah darah, dan hanya mengada di dalam horizon udara yang sediakan oleh ibu Pertiwi. Kita representasi Tuhan pada saat bersamaan sekaligus mengakar pada kesejarahan bumi yang kita pijaki.

Kelahiran juga bisa bermakna intelek. Seperti paham pantheisme, semua jagad pikiran manusia adalah manifestasi Tuhan juga. Setidaknya Benedict de Spinoza dan Ibn Arabi meyakini bahwa tidak ada gugus pikiran apapun yang bisa mengada kecuali dalam rentang samudera pikiran Ilahi. Kami menginsyafi pikiran demikian, dan karena itu setiap capaian berpikir selalu memiliki ikatan dengan mata rantai pikiran manusia yang sedemikian kompleks. IJIR sebagai gagasan dan pikiran selalu kami posisikan dalam kesadaran demikian. Sebagai entitas pikiran,  pergulatan intelektual apapun yang berkembang di IJIR hanya mungkin lahir karena pelantar. Itulah mengapa kami selalu menegaskan bahwa belajar dan menjalani ilmu harus ditempuh dengan menelusuri sanad jelas.

Orang harus mengakar pada bumi Pertiwi, orang juga harus terhunjam dalam sanad pengetahuan yang tak terbilang panjangnya.

Ibu bumi bopo angkoso sekaligus menggambarkan pemahaman teleologi yang khas Jawa. Dinarasikan menjadi Sangkan Paran Dumadi. Setiap orang harus memiliki kesadaran dari mana dan mau ke mana dalam melakoni hidup ini. Bila kesadaran itu hilang, maka hilang pula seluruh kebermaknaan hidup. Itulah dasar bagi semua kearifan hidup orang Jawa karena kesadaran keterpautan terus menerus pada sumber kehidupan.

Dalam soal intelek juga demikian. Sangkan Paran Dumadi, bisa juga bermakna dari sumber ilmu, demi ilmu, dan untuk ilmu itu sendiri. Suatu keberadaan intelek murni yang tetap memihak pada sejarah dan kehidupan karena semua yang mengada selalu terpaut pada kenyataan Tunggal.

Pada akhirnya, setiap peringatan kelahiran yang sakral itu, sesungguhnya sekaligus sarana untuk mengingat keterpautan total ilmu dan sumber-sumber kehidupan, sekaligus sarana pengingat agar kita tidak lupa dari mana dan mau ke mana ketika melakoni kiprah kehidupan ini.

Selamat ulang tahun IJIR. []

 

Sumenep, 3 Januari 2019

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme