Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tunas-Tunas Baru Seniman di Jumenengan Rakyat Kebudayaan Tulungagung 2018

Hajatan kebudayaan yang dilakukan oleh Institute for Javanese Islam Research (IJIR) pada tanggal 26 Desember 2018 minggu lalu, melibatkan berbagai elemen masyarakat Tulungagung termasuk anak-anak dan para remaja. Tak hanya ada penampilan jaranan, angklung, ansamble, dan juga paduan suara yang pemainnya didominasi oleh para remaja, pesta rakyat ini dilanjut pada malam hari dengan penampilan Kentrung kreasi yang juga ditampilkan oleh anak-anak dan juga remaja.

Penampilan Seni Kentrung kreasi ini dibawakan oleh murid-murid Sanggar Seni Gedhang Godhong (SSGG) asuhan Yayak Priasmara. Para remaja ini datang dari daerah Ngingas Campurdarat Tulungagung. Tampil dengan gaya khas anak-anak dan remaja yang ceria serta energik, kentrung dengan lakon Diah Ayu Gayatri Rajapathni disajikan dengan apik dan berbeda.

Tanpa mengurangi kesakralan nama besar Gayatri Rajapatni, lakon ini ditampilkan dengan sedikit guyonan khas remaja milenial. Arum sang dalang kentrung kreasi, tampak beberapa kali melempar candaan yang menyentil penonton dan menggoda para panjak serta para parogo yang sedang memainkan perannya. Penonton nampak seksama mendengarkan, dan tak jarang para penonton terpingkal-pingkal karena guyonan para senimannya.

Parogo yang didapuk menjadi menjadi tokoh Gayatri dalam pementasan ini adalah Latifa Siswi, kelas 8 SMPN Campurdarat. Sedangkan pemeran Tokoh Raden Wijaya yakni Tomas, Siswa SMK Siang Tulungagung. Pemain lainnya yakni Kelfin, pemeran Jaya Negara siswa SMKN 1 Bandung, Fera SMPN 1 Campurdarat dan Ines Siswi SMPN 2 Campurdarat yang didapuk sebagai tokoh pemberontak.

Permainan kentrung berlangsung selama kurang lebih 25-30 menit. Seperti penampilan kentrung tradisi, kentrung kreasi ini juga beberapa kali diselingi dengan lagu-lagu berbahasa Jawa yang mudah dipahami. Lagu-lagu ini banyak berisi tentang ajakan untuk melestarikan seni tradisi terutama Kentrung yang memang sudah hampir menghilang, terlebih di Tulungagung. Ajakan ini, juga ditekankan oleh Arum, yang dipanggil kembali oleh MC acara untuk maju ke panggung seusai tampil. Sang dalang kentrung muda ini mengajak para pemuda untuk tetap melestarikan berbagai seni tradisi yang sudah mulai terlupakan.

Akhol Firdaus, Direktur IJIR yang juga menjadi salah satu inisiator Jumenengan Budaya, menyatakan kebanggaannya dengan para remaja yang sudah memiliki kesadaran untuk melestarikan seni budaya. Ia berharap, kesadaran ini dimiliki oleh para remaja Tulungagung, menggunakan berbagai bentuk kreatifitas dan inovasi khas milenial untuk melestarikan kesenian-kesenian yang ada di Tulungagung.

Dalam jumenengan sesi malam hari ini turut hadir pula budayawan dan juga seniman kawakan Tulungagung, yakni Mbah Widji seniman Tulungagung, Wawan Susetya budayawan, Mbah Bibit Seniman Kentrung Tradisi, serta Pak Wit seniman Jedor Tulunggung. Para sesepuh ini nampak antusias dan sangat bangga dengan anak-anak muda yang kreatif membawakan seni tradisi Kentrung yang hampir menghilang. Kekhawatiran mereka tentang siapa penerus seni tradisi Tulungagung nampak terobati dengan penampilan kentrung kreasi SSGG yang memukau seluruh penonton ini. []

 

Masruroh-Peneliti IJIR

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme