Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Filsafat Sangkan Paraning Dumadi

Ahmad Zaini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III - Staf Magang IJIR []

Ahmad Zaini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III – Staf Magang IJIR []

Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius. Salah satu ciri kereligiusannya adalah, bahwa mereka memiliki kepercayaan terhadap suatu kekuatan di luar alam yang menguasai mereka. Keadaan tersebut menjadi satu faktor  yang paling banyak mempengaruhi filsafat Jawa.

Di antara sekian banyak filsafat jawa, ada satu ajaran atau pengetahuan yang paling terkenal yakni  “sangkan paraning dumadi” ( asal mula keber-ada-an). Sebelum manusia memikirkan tujuan dan berancang-ancang akan kehidupan di dunia, seyogyanya  manusia mengerti jati dirinya terlebih dahulu, siapa mereka, berasal dari mana, baru kemudian tujuan hidupnya diarahkan kemana dan untuk apa.

Meski orang Jawa mempercayai adanya Tuhan yang mengatur laku alam, manusia tetap diberikan kebebasan pilihan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Pelbagai upaya manusia untuk memahami keber-ada-annya di antara semua makhluk yang ada di jagad raya, telah membawa manusia dalam perjalanan pengembaraan yang tak ada ujungnya.

Pertanyaan mengenai siapa, dari mana dan mau kemana (sangkan paraning dumadi) terus ada dari zaman ke zaman. Yang dicari sebenarnya adalah Tuhan, sang Sangkan dan sang Paran. Dialah Sang Hyang Sangkan Paran. Dia adalah asal, Dia satu dan yang selalu dituju. Wujud sang Sangkan Paran tak terdefinisikan, rasionalitas Descartes pun tak mampu menerima, apalagi sampai terealisasikan dalam pengalaman empiris. Kata-kata tak mampu menggambarakan kebenarannya karena kata-kata hanyalah produk pikiran. Karena itu orang Jawa menyebut sang Hyang dengan “tan kena kinaya ngapa” (tak dapat diandaikan) (Layungkuning, 2018).

Aristoteles dalam  teleologinya berpandangan bahwa dunia berdiri memliki suatu tujuannya sendiri. Perkembangan dunia pastilah sangat selaras dan mengikuti tujuannya (telos). Manusia merupakan bagian kecil daripada alam, tapi manusia menjadi salah satu faktor besar yang bisa mempengaruhi perkembangan dunia. Aristoteles justru berpandangan kalau setiap benda dan badan bergerak seakan mengejar tujuannya. Alam bertindak seolah ia mengetahui konsekuensi dari perbuatannya (Bertens, 1975).

Maksudnya adalah peristiwa-peristiwa alam atau yang biasa disebut peristiwa alamiah tidak terjadi dengan kebetulan semata, melainkan berjalan sesuai dengan kodratnya masing-masing, penentu kodrat adalah Gusti kang murbeng dumadi (penentu nasib semua makhuk). Pohon kecil menjalankan kehidupannya sebagai pohon besar, membuahkan benih kemudian tua dan mati, begitu pula manusia akan berjalan sesuai kodratnya, hanya saja manusia memiliki akal yang membuatnya lebih leluasa dalam memilih dan menentukan jalan hidupnya.

Adapun pada fase pembentukan cosmos (jagad) selalu terdapat cause (penyebab utama) atau anasir yang membentuknya. Menurut Aristoteles anasir yang membangun alam ada 4, yaitu api, udara, tanah dan air. Semua badan yang terdapat di bumi ini merupakan badan tunggal atau badan majemuk. Satu anasir yang membentuk badan tunggal dan dua atau lebih anasir yang membentuk badan majemuk.

Setiap anasir selalu menuju kepada tempat kodratinya. Tanah dan air bersifat berat, tentunya suatu yang berat akan menuju ke bawah (gravitasi), sedang udara dan api sifatnya ringan dan tujuan kodratnya menuju ke atas. Saya menganalogikan manusia adalah sebagai badan majemuk, alasannya karena memungkinkan keempat anasir itu ada pada diri manusia. Ketika manusia meninggal dunia jasadnya yang bersifat berat layaknya tanah dan air akan tetap pada bumi, sedangkan sifat api dan udara ada pada jiwa yang terlepas menuju ke atas, kembali kepada pangkuan Sang Hyang Sangkan Paran atau “manunggaling kawula-Gusti” .

Dengan kemenyatuan kembali antara kawula dan Gusti, maka berakhir juga proses perkelanaan panjang yang dilakukan manusia. Sangkan paraning dumadi telah ditemukan, tetapi hal tersebut bukanlah akhir kehidupan. Orang Jawa mempercayai adanya kehidupan selanjutnya setelah kematian, tetapi kehidupan sebelum kematianlah yang menentukan nasib hidup manusia dikehidupan selanjutnya. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme