Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Ludruk, Teater Masyarakat Urban

Anugrah Yulianto Rachman--Nugi [] Mahasiswa Antropologi, FISIP Unair Surabaya; Jaringan Penulis IJIR []

Anugrah Yulianto Rachman–Nugi [] Mahasiswa Antropologi, FISIP Unair Surabaya; Jaringan Penulis IJIR []

Ludruk merupakan teater masyarakat urban. James L. Peacock menggambarkan fenomena tersebut dalam artikel berjudul Comedy and Centralization in Java: The Ludruk Plays (1967). Pada artikel tersebut, Peacock ingin menunjukan bahwa Ludruk sebagai rite of separation. Ia membandingkannya dengan ritus slametan milik Geertz.

Van Gennep menyebut slametan dengan rites of incorporation. Ritus itu berfungsi menyakralkan kampung, guna meminta keselamatan. Melalui Van Gennep, Peacock membedakan antara rites of incorporation (slametan) dengan rites of separation (Ludruk). Rites of separation diartikan oleh Peacock sebagai ritus pemisahan masyarakat dari kampung.

Peacock mengartikan Kampung sebagai tempat yang berada di pinggiran kota. Dalam penelitian ini Peacock melakukanya di Surabaya. Peacock melihat kota Surabaya sebagai kota besar yang berkemajuan. Maka dari itu, Ludruk dianggap oleh Peacock sebagai suatu ritus pemisahan antara masyarakat kampung menjadi masyarakat urban.

Pemisahan masyarakat tersebut dapat dilihat melalui bagian-bagian dalam pementasan Ludruk. Peacock membagi pementasan Ludruk menjadi tiga bagian. Bagian-bagian tersebut antara lain the prologue, monologue, dan the victimization. Dalam beberapa bagian, Peacock melihat terdapat simbol-simbol dari rites of separation.

Ludruk dan Masyarakat Urban

Pementasan Ludruk dibuka dengan tarian remo. Ngremo biasanya diperankan oleh laki-laki yang berdandan seperti perempuan. Penari ngremo mengenakan pakaian hitam dengan slendang. Ia menari dengan gerakan yang erotis. Peacock menggambarkan bahwa ngremo memiliki simbol seksualitas untuk menggoda penonton melalui tariannya.

Setelah ngremo, barulah masuk seorang pelawak dengan pakaian putih. Ia mengenakan pakaian seperti seorang pelayan atau pembantu di Surabaya. Pelawak tersebut berbicara dengan logat arek Suroboyoan. Ia lalu duduk sambil mengeluh soal kehidupan sehari-hari, misalnya seperti pemerintahan yang korup, kenaikan harga, upah yang kecil, dan lain-lain.

Ketika ia bernyanyi dengan keluhannya para penonton menanggapinya. Penonton menanggapi seperti “yo bener dolor”. Dalam bagian ini, pelawak inilah yang paling sering muncul. Setelah ia bernyanyi pada bagian dagelan (prologue) masuklah pada bagian selingan (interlude).

Selingan ini adalah bagian masuknya penari yang berdandan seperti perempuan. Ia berdandan layaknya perempuan aristokrat, seperti ratu Solo. Penari bernyanyi sekali pada bagian ini dengan lagu-lagu tentang cintanya yang tak terbalas. Namun dengan tiba-tiba, Ia mengganti liriknya dengan lagu nasionalis pengantar tidur. Lagu tersebut menceritakan tentang doa agar bangsanya tertib dan harmonis.

Selingan biasanya diikuti dengan bagian yang disebut cerita (story). Cerita biasanya bernuansa melodramatis, tapi masih ada unsur komedinya. Peacock menggambarkan bagian ini biasanya bertemakan tentang kehidupan rakyat kelas bawah. Misalnya, seorang yang ingin mendapatkan kekayaan dan kenyamanan dengan menikahi orang kelas atas (elit).

Lalu ada juga cerita tentang revolusi kemerdekaan Indonesia. Cerita dengan tema revolusi Indonesia sangatlah nasionalis. Ia mengandung unsur-unsur sentimen anti-Belanda. Ia memunculkan sosok-sosok pahlawan lokal, seperti Sarip Tambak Oso.  Atau Pak Sakera.

Peacock membedah permasalahan masyarakat kampung lebih dalam tentang kehidupan pada bagian monologue. Pada bagian monologue tampil juga seorang pelawak dari kelas bawah pekerja. Ia digambarkan oleh Peacock menceritakan tentang kebingungan, depresi, dan keputus-asaan. Ia seakan berbicara dengan diri sendiri dan mengeluh.

Pelawak mengeluh tentang takdirnya yang hidup di kelas bawah. Misalnya seperti program pemerintah yang menawarkan pendidikan, pakaian, makanan pokok, dan posisi pekerjaan. Namun ia tidak mendapatkan apapun. Dalam adegan monologue terkadang, penonton juga ikut menanggapinya.

Penonton membalasnya dengan memaki pelawak dengan bercandaan. Peacock menanggap bagian monologue memiliki keterikatan identitas dengan penonton. Keterikatan tersebut berupa nasib, pakaian, dan masalah yang sama sebagai masyarakat kampung. Seorang tukang becak yang diwawancarai Peacock, juga berkata bahwa pengisi monolog tersebut mengingatkan akan riwayat hidupnya yang sama sepertinya.

Setelah monolog masuklah pada bagian dialog. Bagian dialog ditandai dengan masuknya orang kedua yang tidak dikehendaki oleh seorang monolog pertama. Begitu banyak varian masuknya orang kedua pada bagian dialog. Namun intinya mereka seakan-akan tidak sengaja bertemu di suatu tempat.

Percakapan kedua orang tersebut berupa keresehan sehari-hari. Peacock memberikan contoh adegan saat kedua orang tersebut tidak sengaja bertemu di jalan. Dialognya dominan membahas tentang permasalahan dalam mencari kerja, mencari arah jalan ke suatu tempat, lelucon seperti bertanya berapa banyak lampu jalanan kota. Setting tempat selalu berada di jalanan tidak pernah di kehidupan kampung.

Tempat setting pertemuan tersebut dibuat seperti di jalanan, bazar, dan lain-lain di luar kampung. Karakternya selalu digambarkan seakan-akan sedang berkeliaran dijalanan dan pengangguran. Namun setiap tokoh, tetap warga kampung yang masih memegang teguh nilai-nilai kampung. Nilai tersebut dapat berupa tanggung jawab untuk saling menolong.

Nilai-nilai tersebut semakin terasa pada bagian yang disebut Peacock sebagai the victimization. Victimization adalah bagian yang dapat diartikan pengorbanan. Maksudnya, salah satu tokoh dalam bagian tersebut memanfaatkan kelemahan masyarakat kampung yang masih tanggung jawab terhadap tetangganya. Peacock menggambarkanya seperti seorang yang terlepas dari norma kampung dan seorang pengangguran yang tertarik kepada keuntungan.

Seorang yang terlepas dari norma kampung tersebut sering memanfaatkan, orang-orang yang bergaya kuno dan memegang teguh tradisi kampung. Ia terkadang memanfaatkan orang-orang yang seperti itu untuk diambil keuntunganya. Misalnya, seperti meminta uang, atau meminjam perabotan rumah mereka.

Dalam ketiga bagian tersebut, Peacock melihat bahwa terdapat konflik antara norma tradisional dan anti-tradisional. Norma anti-tradisional digambarkan dalam keadaan seperti orang-orang pengangguran kampung yang mencari keuntungan. Artinya, teater ludruk menampilkan perbedaan antara generasi tua pemegang norma tradisional dan generasi muda yang telah lepas dari kampung.

Ludruk menceritakan antara perbedaan nilai-nilai tradisional dengan anti-tradisional. Anti-tradisional dapat diartikan masyarakat generasi muda yang sudah terkena dampak urbaninsasi. Ia telah meninggalkan nilai-nilai masyarakat kampung tradisional. Peacock menuliskan bahwa aktor, produser, dab penonton sebagian besar adalah masyarakat kelas pekerja Surabaya.

Maka dari itu, Ludruk diaggap oleh Peacock sebagai suatu ritus pemisahan. Peralihan antara masyarakat tradisional kampung menjadi masyarakat urban. Dalam teater Ludruk mengandung nilai-nilai kritik sosial yang dihadirkan. Misalnya, seperti kehidupan masyarakat kota yang sibuk untuk mencari pekerjaan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme