Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Dimensi Vertikal dan Horizontal Kembar Mayang

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti muda IJIR []

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester III; Peneliti muda IJIR []

Saya ingin membuat kajian mendalam mengenai kembar mayang. Menurut saya, kembar mayang merupakan salah satu ciri khas budaya jawa. Temu temanten dan upacara kematian merupakan tradisi jawa yang masih menggunakan kembar mayang.

Tradisi temu temanten adat Jawa sangat lekat hubunganya dengan kembar mayang. Temu temanten adalah upacara adat yang dilangsungkan untuk menyatukan dua insan menuju kehidupan rumah tangga. Kembar mayang dalam upacara temu temanten dimaknai sebagai simbol permohonan (do’a) bagi kedua pengantin.

Kembar mayang merupakan sepasang benda yang terbuat dari janur, bunga dan dedaunan yang dirangkai pada sebuah debog (batang pohon pisang) sebagai perangakat pelengkap dalam upacara temu temanten

Kembar mayang menurut Clifford Geertz dalam bukunya The Religion of Java adalah, gabungan dari berbagai macam tumbuhan yang besar. Batangnya terbuat dari batang pisang, kumpulan bunga-bunganya terbuat dari berbagai dedaunan yang diberi lekuk-lekuk di pinggirnya dan dililit oleh ranting-ranting kelapa muda. Kesemuanya ini adalah penyimbolan dari keperawanan kedua pengantin (Geertz, 1985: 67).

Wong Jowo iku nggone semu (orang Jawa sering menggunakan simbol), dalam berbagai ritual adat (Suwardi Endraswara, 2014: 220), sehingga upacara adat yang berkembang sampai saat ini tidak lain karena masyarakat Jawa yang masih memegang erat dan meyakini tradisi leluhur yang kaya akan simbol dan makn.

Turner (1981:2) pernah mengatakan “the ritual is an aggregation of symbol.” Orang Jawa tidak hanya kaya akan simbol, tetapi juga akan mitos-mitos. Dari mitos-mitos tersebut ada yang dijadikan sebagai kiblat hidup, ditaati, dipuja, dan diberikan tempat istimewa dalam hidupnya (Suwardi Endraswara, 2014: 5).

Simbolisasi yang terdapat pada kembar mayang merupakan simbol yang berdimensi vertikal maupun horizontal (Sri Widayanti, 2008:124). Simbol yang vertikal ialah simbol yang menunjukkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, sedangkan simbol yang horizontal ialah simbol yang menunjukkan hubungan antara manusia dengan sesamanya atau lingkungan sosialnya.

Dalam simbol yang berdimensi vertikal, kembar mayang digunakan sebagi sarana untuk mendapatkan perlindungan, berkah dan restu dari Tuhan agar semua dapat berjalan dengan lancar dan selamat. Sedangkan dalam simbol yang berdimensi horisontal, kembar mayang merupakan sarana untuk menghubungkan manusia dengan nenek moyangnya dalam lingkar hidup seseorang, yakni menjaga tradisi leluhur.

Salah satu bukti dari keyakinan masyarakat mengenai mitos ialah masih adanya kembar mayang dalam upacara temu temanten yaitu dalam tradisi nebus kembar mayang. Tradisi nebus kembar mayang ini didasari keyakinan bahwa kembar mayang memiliki kekuatan untuk menjadikan sepasang pengantin tersebut abadi (Bani Sudardi, 2015:8).

Kembar mayang tersebut ditebus oleh orang tua dari pihak mempelai wanita yang selanjutnya dibawa oleh sepasang perawan dan perjaka yang dalam adat Jawa disebut Prawan Sunthi dan Joko Kumolo.

Ketika prosesi temu temanten, Prawan Sunthi dan Joko Kumolo bertugas membawa kembar mayang mengiringi di samping temanten. Namun ada perbedaan mengenai cara membawa kembar mayang, yaitu jika pengantin wanita masih perawan, maka cara membawa kembar mayang sejajar di atas pundak. Berbeda dengan pengantin wanita yang sudah tidak perawan lagi (sudah pernah hamil), yaitu cara membawanya tidak boleh di atas pusar.

Dalam tradisi upacara temu temanten Jawa, ada sebuah mitos mengenai kembar mayang. Bahwasanya jika kembar mayang cepat layu, maka si pengantin tidak perawan lagi. Namun ketika kembar mayang masih dalam keadaan segar, maka si pengantin (dianggap) masih perawan. Ada mitos lain yang mengatakan bahwa jika kita dapat mengambil salah satu dari ragam kembar mayang itu akan memperlancar rezeki kita.

Begitu percayanya masyarakat Jawa terhadap mitos tersebut, banyak dari mereka yang berbondong-bondong menghadiri upacara temanten hanya untuk mengambil ragam kembar mayang .

Ada beberapa persyaratan yang harus dilalui ketika proses pembuatan kembar mayang. Pertama, dalam pembuatan kembar mayang harus dengan hati tulus ikhlas dan menggunakan bahan-bahan terbaik. Kemudian, kembar mayang harus dibuat dalam satu waktu dan tidak boleh ditunda. Hal ini mengisyaratkan bahwa pernikahan haruslah dilakukan sekali dalam seumur hidup.

Selain itu, kembar mayang harus dibuat pada tempat terbaik (yang mengisyaratkan bahwa pernikahan harus dilakukan dengan hati yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Tak hanya itu, pembacaan do’a juga disyaratkan ketika memulai dan mengakhiri pembuatan kembar mayang. Hal ini bermakna bahwa setiap aktivitas haruslah diawali dan diakhiri dengan do’

Begitu sakralnya kembar mayang dalam budaya Jawa, sehingga kembar mayang tidak hanya hanya ditemukan dalam upacara temu temanten saja, namun juga didapati dalam tradisi upacara kematian. Namun, hanya upacara kematian untuk orang yang belum menikah (masih perawan atau perjaka) yang dibuatkan kembar mayang.

Dalam upacara kematian di masyarakat Jawa (terutama daerah Mataraman Jawa Timur dan Jawa Tengah), kembar mayang masih sering kita temui pada upacara kematian seseorang yang masih perawan atau perjaka. Hal itu dimaksudkan agar arwah orang yang meninggal itu tidak mengganggu para pemuda ataupun pemudi dari keluarga sendiri maupun dalam lingkungan desanya. Tidak hanya itu, ada sebagian masyarakat percaya bahwa kembar mayang yang dibawa ke tempat pemakaman akan menjadi teman bagi orang yang meninggal.

Ada perbedaan mengenai kembar mayang dalam temu temanten dan upacara kematian. Kembar mayang dalam temu temanten dibuat berpasangan dan diletakkan di sisi kanan dan kiri penganten. Hal itu berbeda dengan upacara kematian di mana hanya ada satu kembar mayang, dibawa ketika pengiringan jenazah ke makam. Selain itu penyebutan kembar mayang dalam upacara kematian adalah gagar mayang, bermakna gugur atau mati.

Pada intinya kembar mayang itu berfungsi sebagai pertanda dan pewarta. Di mana bentuknya dilambangkan sebagai pohon kalpataru, relief pada candi Prambanan, pohon ajaib yang fungsinya sebagai saksi perkawinan atau kematian. Fungsinya sama dengan gunungan (kekayon) pada pertunjukan wayang kulit, yaitu sebagai saksi semua peristiwa yang terjadi di atas pentas kelir (Sri Widayanti, 2008: 118). []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme