Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Hilangnya Pujian dari Langgar

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, Peneliti Muda IJIR []

Pujian merupakan syair doa ataupun nasehat berbahasa Jawa disertai sholawat. Dulu, pujian selalu dilantunkan di langgar-langgar dan masjid tradisional, biasanya dilakukan menjelang shalat lima waktu.

Dewasa ini, praktik ini mulai sulit kita temui di langgar-langgar dan masjid karena beberapa hal. Di antaranya disebabkan karena hilangnya muda-mudi dari langgar, rendahnya penguasaan bahasa Jawa, hingga arus media sosial. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan karena, pujian adalah salah satu media dakwah yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Mulanya, dakwah ini dianggap sebagai warisan Walisongo. Mereka menggunakan tembang-tembang yang dilagukan untuk berdakwah di kalangan masyarakat Jawa. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh pesantren di mana seorang Kiai menjadi pimpinannya.

Dalam bilik pesantrenlah, kemudian lahirlah para Kiai-Kiai. Meskipun kemudian tidak secara keseluruhan dari mereka memiliki pesantren, sebutan Kiai tetap disematkan masyarakat kepadanya (Dlofier, 1995: 25). Biasanya, Kiai yang tidak memiliki pesantren, memiliki langgar yang berfungsi layaknya pesantren.

Di langgar, pujian menjelma sebagai dakwah pokok karena kegiatan ini dilantunkan setiap menjelang sholat. Kholid Mawardi (2006: 07) dengan pendekatan sosio-kulturalnya mengungkapkan bahwa singiran atau pujian sengaja diterapkan oleh Kiai sebagai langkah efektif dakwah yang menyambungkan nilai Islam dan lokalitas masyarakat pedesaan Jawa.

Sungguh disayangkan bahwa praktik pujian atau singiran  akhir-akhir ini seakan-akan hampir ditelan bumi. Rupanya, Lunturnya popularitas langgar berdampak juga pada tradisi pujian karena hanya di tempat inilah pujian disenandungkan. Lebih mendasar, ketika Kiai langgar hampir tidak memiliki penerus, biasanya hanya sedikit anak-anak/pemuda yang hadir di langgar.

Meredupnya Langgar sebagai wadah berkumpulnya masyarakat berimbas pada keberlangsungan pujian. Kini, pujian hanyalah sebatas seremonial untuk mengisi waktu jeda antara adzan dan iqomah. Beberapa pemuda, mungkin masih melantunkan pujian, namun dengan versi  milineal. Tentu saja, hal ini menghilangkan substansi pujian yang telah digagas para Kiai terdahulu karena mereka hanya mendendangkan sholawat dengan versi arab.

Ada  dua hal pokok yang  terkandung dalam tradisi pujian. Pertama,  pujian sebagai media dakwah, merupakan perpaduan apik antara ajaran spiritual Islam dan Jawa. Ahmadi (2000: 146-147) juga menguraikan bahwa baik pujian atau singiran  merupakan hasil dialog yang harmonis antara agama (Islam) di satu sisi dan budaya lokal (Jawa) di sisi lain.

Dulu, ketika saya masih kecil, saya sering mendengar pujian Jawa yang berisi sajak, tembang, petuah atau bahkan doa berbahasa Jawa. Beberapa contohnya, semisal Lir-Ilir karya Sunan Kalijaga, Pepali Ki Ageng Selo, dan masih banyak lagi. Syair-syair tersebut  mengajarkan tentang moralitas orang Jawa dengan sentuhan ajaran Islam. Selain itu, iringan sholawat maupun doa berbahasa Arab menjadi kombinasi yang khas dalam pujian. Sebagai contohnya, ada sholawat badar, syi’ir Abu Nawas, doa sapu Jagat, doa birrul walidain dst.

Kedua, pujian di langgar  sengaja dilantunkan untuk hajat bahkan menandai waktu/kondisi tertentu. Pada musim kemarau panjang misalnya, pelantun pujian akan melantunkan doa untuk meminta hujan. Hal berbeda dilakukan menjelang malam jumat, biasanya pelantunnya akan melagukan syair yang menceritakan keadaan roh leluhur yang meminta doa kepada orang yang masih hidup.

Selain itu, kalau di sebuah langgar  mempunyai rutinan Nariyahan, maka sholawat Nariyahan-lah yang digemakan sebagai pengingat kepada khalayak bahwa hari itu adalah waktunya Nariyahan. Baik Nariyahan sebagai sintesis ajaran Islam dan Jawa maupun pemilihan syair pujian di waktu tertentu, telah cukup menggambarkan bahwa masyarakat Islam Jawa benar-benar kreatif dan inovatif. Namun, apa hendak dikata, fenomena saat ini menunjukkan bahwa masyarakat baik dewasa maupun remaja, telah acuh dan tak mengindahkan warisan budaya tersebut.

Setidaknya ada dua hal serius yang menjadi penyebab pergeseran semacam itu. Pertama,  anak-anak tidak mendapatkan pengajaran bahasa Jawa yang memadai. Umumnya, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah dengan menggunakan bahasa Indonesia. Mereka sedikit sekali menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi bahkan minim sekali mempelajarinya. Hal ini menyebabkan kesulitan bahkan keengganan menggunakan pujian berbahasa Jawa karena mereka benar-benar tak mengerti konten pujian tersebut.

Kedua, hadirnya media sosial sebagai media bagi berkembangnya aneka ragam sholawatan dengan aransemen baru, telah menjadi arus utama. Era industri 4.0 ini dirayakan juga oleh pegiat sholawat. Media massa menjadi saluran kekuatan-kekuatan sosial yang merangkul ruang batiniah para penggunanya.

Ini mengarahkan kita pada analisa sederhana bahwa ruang massa katakanlah langgar yang menyuguhkan pujian ala Jawa kehilangan perannya dalam mengikat massa. Dalam bahasa konseptual, Habermas (2007:228) menyebut kondisi demikian sebagai hilangnya “lingkaran propaganda sastra”. Imbas dari modernitas itu adalah sholawatan kontemporer dianggap lebih cocok bagi kalangan muda dibanding dengan pujian yang dirasa kuno dan ketinggalan zaman. Begitulah potret bagaimana tradisi pujian mengalami penyurutan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme