Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Rewang, Cermin Gotong-Royong Masyarakat Jawa

Muhammad Fauzi Ridwan [] Mahasiswa Program Pascasarjana AFI, IAIN Tulungagung; Magang di IJIR []

Muhammad Fauzi Ridwan [] Mahasiswa Program Pascasarjana AFI, IAIN Tulungagung; Magang di IJIR []

Rewang adalah istilah yang dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan untuk membantu mempersiapkan sebuah acara atau hajatan besar. Seperti genduren, slametan, mantenan, dan hajatan lainnya. Rewang termasuk tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Istilah rewang sendiri berbeda dengan prewangan. Meskipun kata prewangan seolah-olah berasal dari kata rewang. Perewang bukan orang yang rewang, jangan sampai terkecoh. Orang yang rewang disebut tukang rewang.

Perbedaan tersebut ada dalam pengertian dan penggunaan istilah tersebut dalam bahasa keseharian di masyarakat. Istilah prewangan lebih dikenal masyarakat dengan kaitannya perihal hubungan manusia dengan jin atau hal gaib.

Tradisi rewang juga bisa dipahami sebagai kegiatan memasak beramai-ramai. Dalam kegiatan ini dijumpai baik dari kalangan tua dan muda berbaur bersama. Rewang bisa digunakan oleh kaum perempuan muda sebagai sarana belajar memasak. Rewang sering dilakukan oleh tetangga dekat rumah dengan mengundangnya terlebih dahulu. Undangan dilakukan secara lisan yang disebut atur-atur.

Kerapkali subyek rewang itu sendiri secara kuantitas didominasi oleh perempuan. Sebab tenaganya lebih dibutuhkan untuk membantu memasak. Sedang ketika laki-laki ikut rewang, cuma membantu sebagai laden, yakni pelayan yang mengantarkan jamuan makanan untuk melayani tamu undangan. Selain itu laki-laki juga bertugas membantu bagian angkat-angkut barang berat.

Ada hubungan horizontal di dalam rewang. Manusia adalah makhluk sosial. Oleh karenanya ia tidak bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Tentu dengan rewang akan menjadikan hubungan sosial masyarakat semakin erat. Sehingga menjadikan masyarakat ayem-tentrem dan guyub-rukun.

Penulis merujuk pemahaman Durkheim untuk memahami fakta sosial dalam tradisi rewang. Menurut Durkheim pada dasarnya untuk memahami fakta sosial disebutnya sebagai fenomena moral atau sesuatu yang bersifat normatif, yakni berkaitan dengan pengaturan tingkah laku individu bedasarkan sebuah sistem moral yang bisa berupa kewajiban-kewajiban.

Ketika individu tidak mampu menyesuaikan diri dengan fakta sosial tersebut, maka individu tersebut akan menderita konsekuensi-konsekuensi penolakan sosial, seperti terasingkan dalam masyarakat. Oleh karena itu bagimanapun kesadaran individu, ia harus melaksanakan kewajiban-kewajiban itu menurut adat istiadat masyarakatnya agar hubungannya dengan masyarakat tetap terjalin harmonis.

Lebih lanjut Durkheim juga merumuskan sebuah konsep tentang “collective conscience” atau kesadaran kolektif. Durkheim menyatakan bahwa keseluruhan kepercayaan normatif yang dianut bersama dengan implikasi-implikasi untuk hubungan-hubungan sosial akan membentuk sebuah sistem tertentu dengan fungsi mengatur kehidupan dalam masyarakat. Dengan demikan rewang merupakan sebuah sistem moral yang mengatur masyarakat untuk mencapai tujuan bersama.

Rewang juga merupakan cerminan nilai gotong-royong, yakni sikap saling tolong menolong atau bekerja bersama-sama. Sikap yang sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan. Begitu pula sikap suka rela juga ditemukan dalam tradisi ini. Hal tersebut mudah terlihat dari suasana yang digambarkan ketika mengikuti rewang. Para tukang rewang justru menikmati pekerjaannya, meskipun waktu yang dihabiskan sangat lama, mulai pagi hingga malam. Dan terkadang rewang dilakukan lebih dari satu hari. Seringkali dijumpai mereka bersenda gurau ketika sedang memasak.

Saat rewang juga ditemukan sanggan, yakni bantuan dari tukang rewang yang diberikan kepada yang sehat berhajat. Biasanya berupa bahan pokok seperti beras, gula, mie atau sembako lainnya. Kemudian pemilik hajat membalas budi mereka dengan memberikan kembalian yang disebut asul-asul, berupa berkat. Bukankah jelas dari sini bahwa rewang telah mengajarkan gotong-royong dalam bermasyarakat. Semangat gotong-royong tergambar dari sikap rela berkorban waktu maupun materi demi mencapai tujuan bersama, yakni terselenggaranya acara hajatan dengan sukses.

Namun, tradisi rewang hanya sering ditemui di desa. Sedangkan di kota sudah jarang ditemui, sebab beralih pada sistem catering atau penyedia jasa. Barangkali di tengah kesibukan masyarakat kota, menyebabkannya tidak punya waktu banyak untuk rewang. Pilihan terbaiknya adalah menyewa jasa catering yang lebih mudah dan efesien.

Selain kesibukan, faktor lain yang barangkali menyebabkan mereka meninggalkan tradisi rewang adalah adanya hubungan sosial yang renggang. Tidak banyak waktu yang mereka gunakan untuk bertetangga. Sedikit demi sedikit hubungan sosial terkikis, kepekaan sosial luntur, hingga rasa empati pudar.

Rewang adalah kebudayaan asli Indonesia. Rewang mengajarkan sikap gotong-royong. Nilai-nilai sosial akan semakin terpupuk melalui rewang. Menariknya tradisi rewang mampu melibatkan banyak orang meskipun berasal dari status ekonomi yang berbeda atau memiliki tingkat pendidikan berbeda pula.

Tradisi ini telah menjadi model kerukunan. Dalam rewang juga dikenal balas budi. Bukankah rasanya tidak enak apabila tetangga membantu saya ketika punya hajatan, sedang ketika tetangga punya hajatan, saya tidak ikut membantunya juga? Tradisi ini   mengasah kepekaan budi. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme