Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Makna Semar bagi Masyarakat Jawa

Muhamad Lutfi Nawawi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Muhamad Lutfi Nawawi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Semar adalah tokoh pewayangan yang sangat lekat bagi orang Jawa. Semar digambarkan sebagai sosok bijaksana dalam situasi dan kondisi apapun. Hal itu dapat kita lihat dari berbagai peran Semar sebagai penengah bagi setiap masalah yang muncul dalam lakon wayang.

Dalam pagelaran wayang, Semar merupakan bagian dari punakawan. Dalam punakawan selain Semar, juga ada Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka adalah anak-anak dari Semar itu sendiri, dengan berbagai makna yang melekat pada penamaan pertokohnya.

Menurut cerita, Semar adalah anak dari Sang Hyang Tunggal. Adapun asal mula Semar yaitu bersal dari sebuah telur dari istri Sang Hyang Tunggal. Bermula dari telur tersebut melahirkan tiga saudara yang diibaratkan kuning telur, putih telur, dan cangkangnya.

Perwujudan dari ketiga bagian tersebut adalah Bathara Guru, Semar dan Togog. Mereka memiliki tugas masing-masing. Bhatara Guru bertugas di kahyangan, Semar bertugas untuk menjaga para Pandawa, sementara itu Togog bertugas menjaga Kurawa.

Semar sendiri digambarkan sebagai sosok yang sudah mencapai derajat makrifat. Mengenai hal ini, makna penggambarannya adalah pada jambul yang dimiliki oleh tokoh tersebut. Jambul itu menandakan bahwa Semar adalah orang biasa yang mampu mencapai tataran spiritualitas tertinggi.

Menurut perspektif semiotic, Semar adalah sebuah gambar atau tanda yang dimunculkan oleh masyarakat Jawa sebagai simbol kebijaksanaan. Menurut Agus Sunyoto, penokohan Semar merupakan kebudayaan asli Jawa yang dibawa oleh Walisanga tepatnya sunan Kalijaga. Penokohan yang dimunculkan juga menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa dalam memegang teguh tradisi-tradisi Jawa yang berkembang hingga saat ini.

Jawa yang selalu identik dengan kebudayaan adiluhung, karenanya penokohan Semar ibarat menampilkan sosok bapak bagi orang Jawa. Seperti pemaparan yang pernah diungkapkan oleh Ki Anom Suroto pada sebuah pagelarannya di Pondok Pesanten Ngabar, Ponorogo, saat itu beliau menjelaskan bahwasannya tokoh Semar adalah nama yang bersal dari bahasa Arab yaitu ismar yang bermakna paku. Dalam penjelasannya, paku diibaratkan sebagai kondisi ketika agama Islam hadir di Jawa dan juga menandai kebudayaan yang diserap oleh agama yang baru hadir tersebut.

Sinkretisme antara budaya Jawa dan Islam ini dapat ditemukan pembenarannya melalui pagelaran wayang. Walaupun wayang selalu mengikuti pakem cerita Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India, wayang tetap saja merupakan kebudayaan yang bersifat otentik. Orang Jawa mengembangkan cerita yang sangat khas dalam wayang, sehingga wayang berkembang hingga saat ini dengan lakon-lakon yang khas Jawa.

Islamisasi yang terjadi dalam wayang ditandai oleh munculnya tokoh punakawan. Terutama Semar yang menjadi titik dimulainya syiar agama Islam di Jawa. Dengan pagelaran yang telah dibawa maupun disampaikan para Walisanga adalah sebuah metode penyebaran agama Islam yang sangat efisien. Karena melalui wayang tersebut kita dapat menerima cerita yang sangat menarik dan juga sebuah lakon pitutur guna menciptakan masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi ajaran-ajaran kemanusiaan.

Hal tersebut juga tidak lepas dari tanda Semar yang sering kita jumpai pada masyarakat Jawa. Simbol yang dipakai itu menjadi sebuah tanda bahwa Semar adalah sosok yang menjadi idola orang Jawa. Tidak hanya itu, tanda yang dimaksud adalah bagaimana masyarakat Jawa dapat berperilaku layaknya Semar dengan berbagai sikap kebijaksanaannya.

Secara simbolis, tokoh Semar sekaligus menggambarkan masyarakat Jawa yang selalu menjadikan spiritualitas dalam menjalani hidupnya. Masyarakat dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda mampu mencapai spiritualitas yang tinggi juga menjadi orang yang dapat menempatkan diri pada tempatnya. Seperti Semar adalah rakyat biasa namun untuk masalah urusan batin dan lain sebagainya sudah mencapai tingkatan dewa.

Semar adalah simbol yang mewakili kesadaran orang Jawa dalam meniti jalan kesempurnaan hidup. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme