Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Urip Mung Mampir Ngombé

Pitutur di atas merupakan falsafah hidup orang Jawa yang paling populer hingga hari ini. Sebagai pitutur yang masih hidup, ia dihafal oleh hampir semua orang Jawa tanpa peduli level dan strata sosialnya.

Saking populernya pitutur tersebut, anak-anak muda bukan hanya fasih menghafalnya, tetapi juga memlesetkannya menjadi joke dan candaan. Ada yang memlesetkan begini, urip mung mampi ngopi. Tentu itu berkembang di banyak tempat yang anak-anak mudanya hobi ngopi. Di Tulungagung contohnya. Para pengguna media sosial juga punya cara membuat plesetan yang mirip namun konyol, urip mung mampir nggawé status.

 

Urip Mung Mampir Ngombé

Pitutur sih, tapi dalam rangka konyol-konyolan untuk menyindir kebanyakan orang yang kecanduan ber-sosmed. Ada plesetan yang lebih konyol, urip mung mampir ganti dp. Coba, begitu kreatifnya anak muda yang sadar akan zamannya.

Bersyukur karena makin banyak anak-anak muda yang mengawetkan pitutur tersebut dengan cara mereka sendiri. Pitutur memang mewakili pandangan hidup kosmologis orang Jawa, tetapi dengan sentuhan pikiran kreatif anak-anak muda, pitutur menjadi lebih renyah.

Niels Mulder, seorang Indonesianis jebolan Universitas Amsterdam, pernah mengabadikan pitutur tersebut dalam sebuah tulisan pendek, namun sangat penting bagi studi tentang Jawa. Tulisan tersebut berjudul, Abangan Javanese Religious Thought and Practice (1983). Tulisan bertenaga ini dimuat di Brijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 139 (1983).

Pitutur, dalam pandangan Mulder, adalah representasi pandangan kosmologis orang Jawa yang menyadari hidupnya sebagai bagian dari hukum kosmik. Pertama-tama orang Jawa—bahkan yang paling abangan dan kebatinan sekalipun percaya bahwa, hidup selalu bersumber dari Sang Hyang Tunggal. Kehidupan manusia hanyalah manifestasi. Semua bersumber dan akan kembali pada Hyang Tunggal.

Seperti pagelaran wayang, hidup bagi orang Jawa adalah pantulan dari apa yang sudah ditetapkan oleh hukum kosmik. Manusia hanya menjalani hidupnya, tidak lebih tidak kurang. Karena itu, hidup di dunia fana ini diibaratkan sebagai pemberhentian, mampir ngombé, demi melanjutkan perjalanan yang tak mengenal batas ruang dan waktu.

Kearifan hidup seperti ini, dulu, juga diperagakan di dalam dimensi sosial dan kebudayaan. Menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah suatu perjalanan singgah, orang Jawa membangun sikap penerimaan yang luar biasa pada orang lain. Menerima-menyerap- memangku itulah citra diri orang Jawa. Sumur di rumah-rumah orang Jawa zaman dulu, selalu merupakan sumur bersama.

Begitu tingginya sikap altruisme itu, di setiap halaman rumah orang Jawa dulu, bahkan mungkin dulu sekali, selalu disediakan tempat kendhi beserta air yang layak untuk diminum oleh siapapun yang melintas dan membutuhkan air minum. Semua orang menyadari bahwa hidup hanyalah perjalanan singgah sementara, air disediakan kepada siapapun yang membutuhkan.

Soal kendhi dan air, orang Jawa juga punya begitu banyak cerita mitologis tentang dusun atau keluarga yang dikutuk oleh para wali karena tidak memberikan air minum atau air wudlu yang dibutuhkan ketika sedang berdakwah. Cerita-cerita tersebut masih hidup hingga hari ini, tentu dengan kadar sakralitas yang terus menyusut.

Banyak cara untuk mengekspresikan pandangan kosmologis orang Jawa melalui pitutur dan laku hidup. Dulu, pandangan hidup itu diperagakan secara massif, kini sebagiannya tinggal kenangan. Tidak menjadi laku hidup sekalipun, setidaknya masih tersisa di status-status sosial media. []

 

@Urip Mung Mampir Nyerat—Catatan IJIR

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme