Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mikul Ḍuwur, Menḍem Jero

Pada pitutur urip mung mampir ngombé, tergambar begitu jelas pandangan batin orang Jawa akan asal-usul sekaligus tujuan. Pandangan teleologi seperti itu juga tercermin dari keyakinan akan diri (jagad cilik) yang selalu bertautan dengan cosmos (jagad gede). Karenanya, orang Jawa—sejauh digambarkan oleh pitutut tersebut, memiliki keterpesonaan dan penghormatan yang begitu besar pada apa saja yang dianggap melampaui dirinya.

Dalam kaitan itu, salah satu orientasi hidup paling besar bagi orang Jawa adalah menjaga hidup tetap dalam suasana rukun. Ini merupakan konsep yang mewakili keterpesonaan orang Jawa pada keharmonisan total dalam kehidupan. Rukun berarti hidup harmoni secara sosial, juga harmoni antara jagad cilik dan jagad gede. Hyang Tunggal, seluruh tata cosmos, dan diri dibingkai dalam relasi harmoni total. Itulah konsep rukun.

Pada prinsipnya, hidup rukun akan membawa orang pada kondisi slamet, keselamatan. Pandangan batin seperti ini lalu diwujudkan dalam ritual utama yang diberi nama slametan. Clifford Geertz, Niels Mulder, maupun Andrew Beatty menyabut slametan sebagai the communal socio-religious meal—hidangan sosial-keagamaan komunal. Istilah itu lahir mungkin juga karena tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris atau juga dalam pengalaman batin masyarakat Barat.

Dalam The Religion of Java (1960) Geertz menyebut slametan sebagai ritual utama varian abangan, sekaligus menggambarkan orientasi hidup rukun yang diwujudkan dalam doa dan puja-puji terhadap dewa-dewa, leluhur, danyangan dan orang-orang yang hadir dalam ritual tersebut. Saya kira Niels Mulder (1983) juga menyetujui pandangan Geertz ini. Mengapa harus ada dewa-dewa, karena kedua Indonesianis—dan akan diikuti oleh semua generasi Indonesianis sesudahnya, percaya bahwa tata keagamaan masyarakat merupakan sinkretisme dari animisme, Hindu-Buddha, dan Islam.

Abaikan saja pandangan tersebut, yang pasti slametan dianggap sebagai ritual dalam rangka keharmonisan total. Itulah mengapa semua keberadaan disebut dalam doa dan puja-puji, di samping karena keyakinan bahwa doa merupakan sarana untuk menjaga hubungan batin orang Jawa dengan segenap leluhur, para pendahulu, dan orang-orang suci yang sudah meninggal. Slametan menjadi sarana paling penting untuk menjaga keseimbangan dan kesinambungan hubungan antara manusia dan semua keberadaan di luar dirinya.

Hal ini tergambar dalam semua jenis slametan, baik slametan yang dikaitkan dengan siklus hidup, maupun slametan dalam wujud festival bersih desa, sedekah bumi maupun laut, tidak terkecuali juga ruwatan wayang.

Niels Mulder menyebut seluruh orientasi slametan adalah dalam rangka keselamatan dunia, saat ini, bukan untuk tujuan kehidupan di akhirat ini. Saya kira di bagian ini juga tampak jelas ia melupakan pandangan utama dalam pitutur urip mung mampir ngombé karena, keselamatan dan keselarasan bagi orang Jawa identik dengan keharmonisan itu berlangsung dalam seluruh rentang kehidupan, saat ini maupun nanti.

Keterpesonaan pada kondisi slamet inilah yang membuat orang Jawa tidak pernah dengan leluasa mengekspresikan apa saja yang dianggap menyimpang dari kondisi harmoni. Inilah yang melahirkan petutur lainnya, mikul ḍuwur, menḍem jero. Harus dicatat, pitutur Jawa umumnya memiliki hubungan sequensial, kait-mengait antara satu dengan lainnya, setiap jenis pitutur selalu memiliki kaitan logis dengan pitutur lainnya, sehingga selalu bisa ditemukan struktur nalar sama yang membentuknya.

Mikul ḍuwur itu yang menjunjung tinggi apa saja nilai utama dan kebaikan dalam rangka harmoni. Menḍem jero menggambarkan upaya yang sangat serius untuk mengubur dalam-dalam semua hal yang dianggal melanggar atau menyimpang dari nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Apa saja yang dianggap menyimpang dan secara agresif menciderai relasi harmoni, dianggap sebagai waḍi, aib yang tidak layak ditampilkan. Dalam Abangan Javanese Religious Thought and Practice (1983), Niels Mulder membatasi pemakaian pitutur tersebut hanya dalam kaitan relasi tua-muda, bapak-anak, guru-murid, yang bersifat hierarkis, karena yang muda harus mikul ḍuwur, menḍem jero.

Tentu saja dalam pola sosial masyarakat Jawa, tafsir tersebut tidak salah. Meski begitu, piturur mikul ḍuwur, menḍem jero sesungguhnya menggambarkan suatu hubungan hierarki total masyarakat Jawa dengan segenap alam dan termasuk keberadaan leluhur dan orang-orang tua yang sudah mendahului. Hidup tidak boleh mengumbar waḍi, karena itulah orang Jawa harus berkhidmat terhadap siapa saja yang dianggap lebih tua. Alam, danyangan, leluhur, orang-orang tua yang sudah meninggal.

Untuk hidup harmoni, semua orang memang harus mikul ḍuwur, menḍem jero. Ibarat seorang santri yang sedang didawuhi atau dimarahi oleh kiainya, santri itu hanya boleh diam dan menundukan kepala. Begitulah cara orang Jawa menghormati yang tua, juga alam yang lebih tua, juga danyangan yang lebih tua. []

 

@Urip Mung Mampir Nyerat—Direktur IJIR

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme