Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Nrimo Ing Pandum

Ini piwulang sederhana. Hingga saat ini, semua orang hafal dan paham maksudnya. “Menerima sekadar pemberian”. Itulah makna harfiahnya. Dianggap sebagai salah satu gambaran tentang etos orang Jawa yang paling menonjol.

Dari mana sesungguhnya sumber piwulang itu? Apakah berakar dari pitutur lisan yang diwariskan turun temurun, atau memiliki acuan sastrawi? Meskipun tidak dengan narasi yang sama persis, piwulang umumnya dikaitkan dengan serat Kalatiḍa karya bujangga Ranggawarsita [1802-1875].

Serat Kalatiḍa dianggap sebagai sindiran satir yang direfleksikan oleh bujangganya atas masa yang terus mengalami kemerosotan moral. Masa yang ditengarai sebagai zaman édan. Kala berarti masa atau keadaan, tiḍa bermakna keraguan, atau tida bermakna cacat. Zaman yang penuh kekacauan akibat kolonialisme dan kemerosotan moral yang didera oleh hampir semua lapisan masyarakat, terutama moral dan wibawa para pemimpin.

Nrimo Ing Pandum

Dalam suatu tembang, Ranggawarsita menuliskan, “Kenikinartadarsan // Panglimbang ala lan becik // Sayekti akeh  kewala // Lelakon kang dadi tamsil // Masalah ingngaurip // Wahani nira tinemu // Temahananarima // Mupuspepesthening takdir // Puluh-Puluhanglakonikaelokan  [Zuminati R., et.al., 2018; Kamadjaja, 1964].

Dengan sikap waskita, Ranggawarsita sesungguhnya menyampaikan ajaran moral dan keutamaan hidup dengan bahasa yang sangat sederhana. “Banyak kisah—tentang laku baik dan buruk—sungguh banyak cara—laku yang bisa jadi contoh—urusan hidup—yang utama—menerima (kenyataan) hidup—sebagai takdir…”

Nrima atau narima sebagaimana dalam pitutur nrima ing pandum merupakan versi nge-pop dari salah satu bait serat Kalatiḍa tersebut. Nrima, berterima atas kenyataan hidup, dianggap sebagai perwujudkan dari kematangan moral masyarakat Jawa. Sejajar dengan sikap-sikap keutamaan lain, seperti sabar, legowo (lapang dan tulus), eling-waspada.

Menarik karena, semua sifat keutamaan tersebut merupakan sesuatu yang bersifat asketis. Tidak mungkin seseorang memiliki kekuatan batin nrima atau legowo kecuali berakar pada kedalaman spiritualitas [Franz Magnis Suseno, 1983; Niels Mulder, 1983].

Sebagai pengalaman asketis, nrima ing pandum merupakan ekspresi kejiwaan seseorang yang sudah mencukupi hidupnya dengan memasrahkan semuanya pada kehendak Hyang Tunggal. Orang harus mengarungi laku tirakat yang panjang untuk bisa mencapai kesempurnaan nrima, sehingga menep (hidup sempurna dan tercukupi) karena menerima semua kenyataan sebagai kenyataan harmoni tertinggi.

Sekali lagi, setiap jenis pitutur selalu memiliki kaitan dengan asketisme, terutama berakar pada pandangan hidup orang Jawa pada kenyataan tunggal, dan keharusan menjaga harmoni dalam kehidupan. Nrima ing pandum bukan pembenaran atas sikap hidup fatalistik. Sebaliknya, itu merupakan sikap mental-batin tertinggi karena orang sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan kenyataan hidup, berdamai dengan kenyataan tertinggi.

Nrima artinya, orang sudah mencapai situasi kejiwaan eling-waspada, yakni refleksi-diri total yang senantiasa memahami posisi diri dalam hukum kosmik yang jarang bisa digapai oleh nalar.  Selain bersifat asketis, pitutur tetap menggambarkan keterpesonaan yang besar akan situasi harmoni. Bila orang bisa nrima, ia tidak perlu mencari sumber kesalahan atas situasi hidup yang sedang dialamai.

Sikap demikian membantu orang untuk menjaga harmoni dalam kehidupan sosial. Secara kejiwaan juga membantu setiap orang untuk bersikap positif terhadap kehidupan karena, kenyataan hidup selalu merupakan ikatan harmoni tertinggi. Itulah yang disebut takdir bagi orang Jawa. Menerima kenyataan hidup sebagai takdir, sama artinya dengan memahami kenyataan hidup sebagai hal paling suci yang harus diterima dengan suméléh.

Istilah suméléh digunakan untuk menggambarkan situasi kejiwaan seseorang, ketika seluruh emosi menjadi luruh, lebur dalam sikap penerimaan atas kehendak tertinggi. []

 

@Akhol Firdaus [] Direktur IJIR [] Urip Mung Mampir Nyerat

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme