Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Bejaning Urip

Mari kembali pada serat Kalatiḍa. Kitab itu disebut-sebut memuat piwulung agung karena mengajarkan moralitas tertinggi agar orang mampu mewujudkan keutamaan hidup (kautamaning urip).

Dalam semua baitnya, serat berisi tentang nasehat utama agar orang tidak lupa akan jati diri, dan tidak larut dalam kemerosotan moral dan hidup. Salah satu piwulung yang juga nge-pop menjadi pitutur adalah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang éling lan waspada. Sama dengan piwulung sebelumnya, semua orang Jawa pasti menghafal dan memahami pesannya.

Versi lengkapnya dalam serat Kalatiḍa seperti ini: Amenangi jaman edan // Ewuh aya ing pambudi // Melu edan nora tahan // Yen tan melu anglakoni // Boyo keduman melik // Kaliran wekasipun // Dilalah kersa Allah // Begja-begjaning kang lali // Luwih begja kang eling lan waspada.

Sederhananya begini, hidup di zaman gila dan kacau—orang susah menentukan sikap—tidak mungkin tahan bila tidak ikut gila—lebur dalam gila—ujungnya hanya kelaparan—sudah menjadi kehendak Allah—andaikan beruntunglah orang-orang lupa—masih beruntung orang-orang yang ingat dan sadar.

Dalam konteks asketisme, kedalaman refleksi bujangga Ranggawarsita ini setara dengan apa yang telah digapai oleh Plato. Keduanya adalah manusia waskita, yang barangkali mewakili rasionalitas universal manusia dalam meniti yang hakiki. Plato mungkin menjadi ahli pikir paling kuno (setidaknya yang berhasil dicatat sejarah) yang mewakili kegelisahan manusia dalam mencari keutamaan hidup.

Dalam the Republic—naskah yang diperkirakan ditulis pada 380 SM, Plato menyuguhkan suatu alegorisme (kehidupan) gua (allegory of the cave). Melalui itu, Plato menyingkap tabir kehidupan. Baginya, kehidupan dunia ini hanyalah bayangan (the shadow) yang dipantulkan oleh kenyataan yang lebih hakiki, namanya dunia idea.

Jiwa manusia hidup abadi di dunia idea, sebelum akhirnya terlahir di dunia. Dalam dirinya sendirinya, manusia sesungguhnya menyadari ‘yang hakikat’ karena jiwa telah mengenali semua kasunyatan jauh sebelum terlahir ke dunia. Saat terlahir, jiwa itu dibungkus oleh tubuh wadag, dan diberi rahmat untuk merasakan sensasi inderawi tubuh. Maka manusia menyerap semua yang bersifat wadag, yang bayangan itu, yang palsu.

Karena itu, semakin lama hidup di dunia, pengetahuan hakiki manusia tertimbun dan terkubur oleh pengetahuan palsu yang dibentuk secara terus menerus oleh sensasi-sensasi inderawi. Plato meyakini, manusia tidak akan pernah sampai pada kesejatian bila tidak mampu menyingkap selubung pengetahuan palsu itu, melalui penggalian dan mengingat kembali pengetahuan yang terkubur oleh pengalaman inderawi. Konsep menggali dan mengingat kembali inilah yang disebut idea.

Sejauh manusia mampu mengingat kembali idea-nya, ia akan menemukan jalan kasunyatan. Persis di posisi inilah, konsep idea itu sejajar dengan konsep éling lan waspada. Mempertimbangan bahwa basis narasi tersebut adalah esoterisme, maka  éling pastilah suatu laku tirakat yang memungkinkan pribadi mampu menyingkap yang palsu, dan menciptakan jalan untuk mencapai kebenaran hakiki.

Selaras dengan Plato, Ranggawarsita juga meyakini bahwa orang hanya akan lebur pada kegilaan (édan) bila tidak mampu mengingat (éling) pada pondasi kemanusiaan, yakni asal-usul dan tujuan keberadaannya. Itulah kasunyatan.

Konsep éling selalu bergandengan dengan konsep waspada, sadar. Bagi saya, keterpautan dua konsep tersebut seakan hendak mengingatkan bahwa manusia tidak mungkin bisa mengingat kecuali dalam keadaan kesadaran tertinggi terkait dengan hakikat keberadaanya.

Dalam segi rasionalitas universal pula, kita harus tetap hati-hati karena konsep waspada sebagaimana diseratkan oleh Ranggawarsita pastilah jauh berbeda dengan konsep kesadaran (reason) sebagaimana bisa ditemukan dalam risalah-risalah guru modernisme, René Descartes [1598-1650].

Descartes adalah penyembah kesadaran, dan itulah mengapa manifestonya berbahasa latin, cogito ergo sum—sebagai deklarasi kesadaran, ditemukan dalam semua karya utama Descartes, baik dalam Discourse on method  (1637), Meditations on First Philosophy (1641), dan Principles of Philosophy (1644). Dalam pengalaman modernisme, konsep kesadaran itulah yang paling banyak ditentang dan sekaligus digandrungi oleh manusia dari sejak dicetuskan, hingga hari ini. Tapi apapun itu, konsep kesadaran pula yang menjadi pondasi bagi modernitas kita, hingga hari ini.

Kesadaran Cartesian memang layak digugat karena dianggap telah mengalienasi manusia dari alam dan semua dimensi metafisika kehidupan. Kesadaran adalah sumber legitimasi bagi manusia untuk mengontrol apapun keberadaan di luar dirinya, betapapun hal itu secara rasional tidak mungkin.

Sederhananya, kesadaran Cartesian tidak akan memberi kemungkinan orang akan sampai pada kasunyataan, karena manusia menjadi lebur dengan ambisinya untuk mengontrol apapun, dan itu sama artinya dengan lebur dalam kegilaan seperti disindir oleh Ranggawarsita.

Kesadaran dalam bahasa sederhana bujangga Jawa itu, justru menjadi sarana bagi manusia untuk menemukan jalan agar tidak hanyut pada semua potensi yang bisa mengalienasi dirinya dari alam dan keberadaan di luar diri. []

@Akhol Firdaus [] Direktur IJIR [] Urip Mung Mampir Nyerat

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme