Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Sepi Ing Pamrih

Sepi ing pamrih, ramé ing gawé merupakan salah satu pitutur yang menjadi karakter orang Jawa, sekaligus pondasi kebangsaan Indonesia. Sebagaimana pitutur lainnya, sepi ing pamrih juga dijadikan sebagai tolok ukur kematangan jiwa manusia Jawa (Suseno, 2013).

Kematangan jiwa dikaitkan dengan penerimaan total seseorang atas posisinya di tengah kehidupan agung. Sepi ing pamrih, merupakan penghayatan atas peran dan tanggung jawab yang harus diambil dalam rangka menjaga harmoni. Hal ini berlaku dalam kehidupan sosial, juga dalam keseluruhan relasinya di jagad besar (cosmos).

Setiap orang—berdasarkan posisinya, memiliki kadar peran dan tanggung jawab yang berbeda-beda.  Dan oleh karena itu, kadar kematangan seseorang tidak diukur oleh besarnya peran dan tanggung jawab, tetapi penghayatan atasnya. Inilah senyatanya sepi ing pamrih. Penghayatan sama artinya orang menjalankan kewajibannnya dalam tata keseimbangan kehidupan sosial, tanpa mengeluh, tanpa buruk sangka, dan tanpa kompromi.

Untuk mencapai hal tersebut, setiap orang diandaikan memahami posisinya dalam kehidupan, lalu menjalankan peran dan tanggung jawab sesuai dengan kadar masing-masing, sesuai dengan maqamnya. Dari mana orang bisa mencapai pengetahuan tentang peran dan posisi? Dari éling lan waspada. Kemauan untuk melakukan refleksi diri menjadikan setiap pribadi mendapatkan jalan untuk memahami perannya di dalam kehidupan agung.

Mengikuti penjelasan tersebut, konsep kebaikan dan kebenaran dalam diktum falsafah Jawa dianggap bersifat relatif. Tidak ada standar tunggal kebenaran dan kebaikan karena hal ini dikaitkan secara langsung dengan peran dan posisi seseorang. Tata pikir demikian mendorong manusia Jawa menjadi begitu terbuka dan menerima ragam perbedaan, tidak terkecuali perbedaan dalam memahami baik dan benar.

Begitu meyakinkan, sepi ing pamrih merupakan salah satu basis moral atau etika bagi masyarakat Jawa. Masalahnya, sebagai basis moral, mungkinkah kebenaran itu bersifat relatif sebagaimana tergambar dalam penjelasan di atas. Bukankah, ‘nabi’ risalah moral universal, Immanuel Kant, dalam Critique of Practical Reason (1788), sudah menetapkan bahwa pertimbangan moral haruslah berbasis pada imperative categories, yakni suatu putusan obyektif yang bersumber pada pertimbangan rasio universal. Tidak relatif dan tanpa kompromi.

Hanya bila direfleksi lebih serius, sesungguhnya, tidak ada pertentangan antara risalah moral Kantian tersebut dengan putusan sepi ing pamrih. Pitutur atau putusan tersebut mengarahkan manusia pada sesuatu yang obyektif dan rasional, yakni penghayatan. Inilah sumber pertimbangan baik dan buruk, dan oleh karena itu penghayatan adalah sesuatu yang imperative categoris di dalam pertimbangan moral masyarakat Jawa.

“I love my job” begitulah kira-kira makna ‘penghayatan’ bila dibahasakan dengan gaya milenial. Keterlibatan total orang dalam kehidupan, memberikan yang terbaik sesuai dengan peran dan posisinya, itulah ekspresi cinta, kelapangan dan ketulusan, dan sekali lagi itulah sepi ing pamrih.

Piwulung ini menjadi sangat populer, terutama karena pernah digunakan sebagai motto Badan Kongres Kebatinan Indonesia [BKKI], saat menyelenggarakan Kongres I di Semarang pada tahun 1955. Kongres pertama yang menampung seluruh organisasi kebatinan di Indonesia tersebut merumuskan semboyan “Sepi ing pamrih, ramé ing gawé” sebagai jiwa kebatinan dan nasionalisme Indonesia.

Semboyan ini diangkat kembali pada Seminar Kebatinan Pertama di Indonesia pada tahun 1959. Di dalam dokumen prosiding seminar, Mr. Wongsonegoro, ketua BKKI masa itu, menjelaskan bahwa, Sepi ing pamrih, ramé ing gawé “artinja bekerdja giat guna kepentingan umum, bangsa dan ummat manusia dengan tidak berhasrat jang melebihi batas bagi diri dan golongannja sendiri.”

Mr. Wongsonegoro sebagai tokoh pergerakan nasional juga menegaskan bahwa, kekuatan yang menghantar Indonesia merdeka adalah etos sepi ing pamrih. Ia menggambarkan bahwa, seluruh perjuangan yang melibatkan keringat, darah, dan air mata sejak masa kemerdekaan hingga awal revolusi begitu dihayati oleh hampir seluruh tumpah darah Indonesia, dan di sanalah, spirit sepi ing pamrih telah menghantar kedualatan Indonesia sebagai negara dan bangsa merdeka. []

 

@Akhol Firdaus [] Direktur IJIR [] Urip Mung Mampir Nyerat

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme