Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Bahasa Jawa, Nasibmu Kini

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, mungkin telah kehilangan pesona. Itu kesimpulan awal saya saat membaca berita di Kompas hari ini Jumat, 8 Februari 2019 berjudul “Majalah Perjuangan: Semangat ‘Panjebar Semangat’”. Saya bisa salah. Tapi fakta mungkin tidak salah.

Sebagaimana dikutip dari Kompas, Anabelle, siswa kelas IX SMPN 6 Surabaya, tampak tersendat-sendat membaca majalah berbahasa Jawa Jaya Baya, tulis Runik dkk di rubrik Kompas tersebut. Selain tersendat-sendat, siswa lain bahkan sulit mengucapkannya dengan tepat, apalagi memahami bahasa Jawa. Apa sebabnya?

Bahasa daerah bagi generasi millenial bukan sesuatu yang mudah. Apalagi bahasa Jawa yang berstrata, ada boso ngoko, krama madya, dan krama inggil.

Tentu hal tersebut tidak bisa digeneralisir. Barangkali kebetulan siswi di Surabaya tersebut dalam keseharian memang sudah jarang menggunakan bahasa daerah, lingkungannya juga demikian. Tapi di desa-desa, di daerah Mataraman seperti Tulungagung-Blitar-Kediri misalnya, bahasa Jawa tentu masih menjadi primadona.

Meski demikian, kasus pudarnya bahasa daerah tentu tampak nyata di depan kita. Dalam kasus media cetak misalnya, dulu, saat masih duduk di bangku Aliyah, saya setiap hari masih bisa membaca cerpen berbahasa Jawa dalam majalah Jaya Baya. Kalau sekarang saya tidak lagi menikmatinya, mungkin karena saya tidak lagi mengaksesnya. Atau, bisa jadi, memang karena tiras cetak dan pelanggannya yang terus menyusut.

Sejauh kita mengikuti berita di Kompas tersebut, alasan kedua yang sedang terjadi terkait dengan penyusutan oplah pada majalah berbahasa daerah tidak hanya dialami oleh majalah Jaya Baya, terbit sejak 1945 di Kota Kediri, majalah Panjebar Semangat yang diinisiatori oleh dr. Soetomo sejak 1933 juga mengalami nasib yang sama. Bahkan bukan hanya jumlah oplah yang menurun, namun pelanggan setianya kini juga telah berusia udzur. Mereka kebanyakan adalah pegawai, guru, dan pensiunan.

Ini seperti senjakala bahasa Jawa. Bahasa Jawa terus menyusut. Berat untuk menuliskan, tapi harus disampaikan, “bahasa Jawa seperti menunggu lonceng kematian”.

Pudarnya bahasa Jawa sebenarnya tidak perlu kita cari pembuktiannya sampai ke jantung-jantung kota. Dalam jejaring komunikasi setiap hari, di tangan generasi millenial, penggunaan bahasa kekinian/bahasa gaul atau apapun kita menyebutnya, tampak lebih diminati. Pelan dan pasti, pengaruh bahasa populer itu seakan tidak bisa dibendung lagi.

Sebenarnya, yang lebih mengkhawatirkan dari pudarnya bahasa daerah adalah dampak turunannya. Apakah itu? Pudarnya kesadaran kosmologis kita sebagai manusia Jawa.

Kesadaran kosmologis masyarakat Jawa selalu manifes dalam ragam ekspresi bahasa Jawa. Kita tentu tahu ungkapan-ungkapan seperti memayu hayuning bawana, sangkan paraning dumadi, manunggaling kawulo Gusti dan ungkapan-ungkapan mistik-sufistik yang lain. Atau misalnya pitutur-pitutur agung yang diulas oleh IJIR beberapa seri belakangan. Semuanya menggunakan bahasa daerah, bahasa Jawa.

Kalau ungkapan-ungkapan tersebut dikenal, barangkali hanya di kalangan-kalangan tertentu saja. Sebagai kesadaran kosmologis manusia Jawa, jika kini hanya sebagian orang saja yang mengenal, saya kira memang ada yang hilang dari kita. Ada masalah. Kesadaran kita sebagai manusia Jawa, mungkin telah terbelah.

Saya tidak hendak mendalami bagian terkoyaknya kesadaran kosmologis Jawa itu, namun bagi saya, ini merupakan dampak turunan dari memudarnya penggunaan bahasa Jawa. Bahasa Jawa sebagai media transformasi kesadaran tersebut sudah mulai menurun penggunaannya. Karena itu, tidak mengherankan jika kesadaran kosmologis kita juga menurun. Begitu logikanya.

Selain itu, bahasa juga merupakan  artikulasi budaya. Dan sejauh kita mencermati tingkatan-tingkatan bahasa Jawa, kita akan segera tahu bagaimana kesadaran budaya masyarakat Jawa dibangun. Kita bisa berbeda pendapat, tapi menurut saya, ada hierarki dalam budaya kita.

Mari kita lihat bahasa Jawa kembali. Seperti telah saya sampaikan di atas, bahasa Jawa adalah bahasa berstrata. Ada boso ngoko untuk komunikasi orang-orang ‘biasa’ dengan sesamanya. Orang biasa dalam konteks ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk merendahkan. Orang biasa bisa bermakna saya dengan orang lain yang sederajat. Dalam relasi seperti ini, komunikasi dalam bahasa Jawa biasa menggunakan ngoko.

Kalau berkomunikasi dengan orang yang ‘di atasnya’, maka digunakan krama madya. Untuk yang ‘lebih tinggi lagi’, maka digunakan krama inggil. Ingat, tidak tepat memakai kata ‘maem’ jika mitra bicaranya adalah seorang guru, misalnya komunikasi antara saya dan guru saya. Tidak tepat pula menggunakan kata ‘dahar’ untuk teman sebaya. Semua ada aturannya. Bahasa Jawa ada hierarkinya.

Dalam konteks seperti ini, bahasa Jawa jelas menggambarkan suatu tata sosial masyarakat. Secara implisit, pemilihan diksi dalam bahasa Jawa ini juga menggambarkan bagaimana manusia Jawa menjunjung etika dalam relasi sosialnya. Kepada yang tua menghormati, kepada yang muda menghormati. Secara kosmologis-filosofis, ini seperti manifestasi dari mikul duwur mendhem jero.

Dari bahasa Jawa, dengan demikian, bisa tergambar bagaimana etika itu dibangun. Bahasa menjadi jembatan sempurna bagi kecenderungan masyarakat jawa yang menjunjung struktur sosial yang mengidami situasi harmoni. Pendek kata, bahasa Jawa juga menjadi etalase struktur etika sosial masyarakat Jawa.

Melalui bahasa Jawa, secara implisit pelajaran etika juga ditransformasikan pada generasi berikutnya. Tentu saja bahasa Jawa bukan satu-satunya media, namun bahasa Jawa adalah media transformasi etika yang genuine. Pilihan bahasa saja, sudah cukup menggambarkan bagaimana pilihan sikap, etika dan moral.

Problemnya adalah penggunaan bahasa Jawa sudah mulai menurun. Jika sekarang kita mengalami masalah degradasi moral, saya kira kita mulai bisa melihat apa relasinya dengan bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa menurun, di saat yang sama moralitas juga menurun. Besar kemungkinan, salah satu fungsi bahasa Jawa sebagai guidance etika tidak bekerja karena bahasa Jawa tidak lagi digunakan.

Dalam situasi bahasa Jawa dan dampak-dampak turunannya seperti saat ini, saya kira kita tetap harus menyikapinya secara konstruktif-solutif. Sesuai dengan amanat UU Pemajuan Kebudayaan, bahasa daerah memang harus dilindungi dan diserap manfaatnya oleh masyarakat. Bahasa Jawa sudah selayaknya kita gunakan setiap saat, tentu di tempat yang tepat.

Sampean iso boso Jowo? []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme