Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Sedulur Papat Limo Pancer dalam Struktur Rumah Jawa

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Hamim Mustofa [] Mahasiswa AFI Semester IV; Peneliti muda IJIR []

Rumah orang Jawa penuh dengan nilai filosofis. Salah satu nilai filosofis yang terkandung dalam bangunan rumah adalah perwujudan sedulur papat limo pancer. Bagaimana sebenarnya perwujudan sedulur papat limo pancer dalam konstruksi rumah orang Jawa? Dan apa makna yang terkandung dalam nilai tersebut?

Menurut Pitana, manusia Jawa menyebut tempat tinggalnya dengan istilah omah. Kata omah merupakan bentukan dari dua kata om yang diartikan sebagai angkasa dan bersifat laki-laki (kebapakan), dan mah yang diartikan lemah (tanah) dan bersifat perempuan (keibuan). Sehingga omah (rumah) dimaknai sebagai miniatur dari jagad manusia yang terdiri bapa angkasa dan ibu pertiwi (Titis, 2007: 127).

Kenyataan ini menggambarkan bahwa pemahaman dan sikap orang Jawa terhadap jagadnya. Frick (1997:83) dijelaskan bahwa makrokosmos orang jawa adalah lingkungan alam, sedangkan mikrokosmosnya adalah arsitektur sebagai ruang tempat hidup yang merupakan gambaran makrokosmos yang tak terhingga. Pandangan Frick tersebut hampir sama dengan pandangan Spinoza mengenai substansi. Menurut Spinoza, Allah atau alam adalah kenyataan tunggal. Ia menyebutnya Deus sive Natura – seluruh penampakan alam adalah manifestasi Allah (Budi Hardiman, 2004:48).

Sedulur papat limo pancer dalam kepercayaan masyarakat Jawa dihubungkan dengan dasar filosofi budaya Jawa mengenai keberadaan jagad gedhe (alam besar) dan jagad cilik (alam kecil). Manusia (mikrokosmos) harus selaras dengan alam (makrokosmos). Keselarasan vertikal dengan alam dapat melahirkan pandangan tentang alam yang suci dan roh alam sebagai sumber pemberi kehidupan.

Herusatoto mengatakan bahwa dari keyakinan diri sebagai pusat yang dikelilingi oleh kekuatan-kekuatan yang ada di sekelilingnya, manusia Jawa dalam kehidupannya selalu berusaha menjaga keseimbangan dan keharmonian, yang meliputi jagad cilik dan jagad gedhe. Sehingga perwujudan rumah orang Jawa merupakan refleksi dari lingkungan alamnya yang dipengaruhi oleh kekuatan dari dalam dirinya.

Kemanunggalan mikrokosmos dan makrokosmos ini oleh orang Jawa dimaknai sebagaimana manusia menjalin hubungan dengan kekuatan di luar dirinya yang jauh lebih besar. Diharapkan hubungan ini akan senantiasa terjaga dan mampu meningkatkan kekuatan dirinya.

Kesungguhan orang Jawa dalam menyelaraskan mikrokosmos dan makrokosmos tidak hanya tergambar pada penggunaaan istilah omah saja. Namun, juga tergambar pada pemakaian simbol yang hampir ada pada keseluruhan bagian rumah, baik berupa simbol material maupun simbol perilakunya. Simbol material yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang dapat dilihat oleh panca indera seperti pola tata ruang, pola perwujudan bentuk bangunan, penggunaan material bangunan dan ornamen-ornamen yang melekat pada bangunan.

Sedangkan simbol perilakunya adalah tindakan-tindakan orang Jawa yang berkaitan dengan pembangunan rumah diantaranya mengenai ritual-ritual dan laku batin seperti bedah bumi (mulai menggali tanah untuk pondasi), dan munggah penuwun (memasang wuwung – balok kayu paling atas dari sebuah atap bangunan).

Istilah sedulur papat limo pancer dalam konsep konstruksi bangunan biasa disebut kiblat papat limo pancer. Menurut Darsiti, nilai filosofis ini tercermin pada konsep bangunan yang didasarkan pada pola tengah atau pusat yang bermakna sakral. Pola itu juga termanifestasi dalam struktur satu di tengah yang diapit oleh dua struktur lainya, pola struktur di depan dan di belakangnya atau di kiri dan kanannya (Djono, dkk, 2012:271).

Dalam skala horizontal, pembagian ruang dalam rumah Jawa terdiri dari lima ruang, yaitu ruang dalem, pringgitan (pendhopo), gadri (pawon), gandok kanan dan gandok kiri. Ruang dalem posisinya tepat di tengah, diapit oleh bagian depan ruang ­pringgitan dan bagian belakang ruang gadri. Sedangkan bagian kanan dan kiri ruang dalem diapit oleh ruang gandhol kiri dan gandhok kanan.

Struktur ini merupakan cermin kosmologi (struktur alam) berupa empat arah mata angin yaitu utara, selatan, timur dan barat, dan satu titik pusat di tengah, yang merupakan persinggungan dari empat arah tersebut. Dalam terminologi Jawa, struktur ini disebut papat kiblat limo pancer.

Selain dalam tatanan ruang, konsep papat kiblat limo pancer juga ditemukan dalam pola struktur rumah Jawa. Mulai dari struktur atap yang ditopang dan diikat oleh saka, kolom atau tiang, kemudian diteruskan ke pondasi bangunan yang berbentuk umpak, pondasi yang terbuat dari batu berbentuk trapesium. Kolom utama penyangga atap bangunan adalah saka guru, yang berjumlah empat buah.

Jumlah dari saka guru ini adalah merupakan simbol adanya pengaruh kekuatan yang berasal dari empat penjuru mata angin, atau biasa disebut konsep pajupat atau kiblat papat. Dalam konsep ini, manusia dianggap berada di tengah perpotongan arah mata angin,  tempat yang dianggap mengandung getaran magis yang amat tinggi. Tempat ini selanjutnya disebut sebagai  pancer atau manunggaling kiblat papat. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme