Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Sangkan Paraning Dumadi

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Jawa tidak sekedar surganya tradisi dan budaya. Lebih dari itu, Jawa juga merupakan surganya filsafat. Hal ini dibuktikan dengan salah satu ajaran leluhur Jawa yang dirumuskan dalam konsep sangkan paraning dumadi.

Sekilas, sangkan paraning dumadi tidak lebih dari sekadar pandangan Kejawen yang membicarakan asal-usul dan tujuan segala sesuatu yang ada di dunia (Endraswara, 2015: 199). Namun jika kita hayati, ‘sangkan paraning dumadi’ tidaklah sesederhana itu. Konsep tersebut merupakan ajaran spirtualitas yang menggambarkan kedalaman religiusitas.

Bagi orang Jawa, kehidupan duniawi hanyalah sebentar, ibarat mampir ngombe. Kehidupan yang hanya sebentar itu bukanlah cita-cita final orang Jawa. Oleh karena itu, kehidupan haruslah dihayati sebagai proses mencapai kesempurnaan. Orang jawa menyebutnya dengan ngudi kasampurnan.

Proses untuk mencapai kesempurnaan itu tidaklah mudah. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk mencapainya. Salah satu syaratnya adalah mengenali titik tumpu yang sekaligus titik tuju kebaradaannya sendiri. Hal ini dilakukan dengan cara mengetahui asal-muasal serta tujuan keberadaan manusia dan alam semesta.

Dalam pandangan Kejawen, alam semesta ini diliputi oleh esensi Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna atau Yang Absolut. Esensi itu ada yang menyebutnya dengan Hyang Widi, Tuhan, Allah atau yang lainnya, namun orang Jawa lebih suka menyebutnya sebagai ‘Ana Tan Kinaya Ngapa’. Dia merupakan sangkan-paran atau asal-muasal serta tujuan dari alam semesta dan manusia (Sugiharto, 2008: 371).

Terkait asal-muasal manusia, orang Jawa berpandangan bahwa, eksistensi manusia merupakan perpaduan antara entitas material (wadah/badan) dan spiritual (sukma/roh). Wadah atau badan manusia berasal dari empat unsur: api, tanah, air dan udara. Keempat unsur tersebut juga terdapat dalam alam semesta.

Sekilas pandangan di atas mirip dengan pandangan René Descartes (1598-1650), bahwa eksistensi manusia terdiri dari badan dan jiwa. Begitu juga tentang unsur pembentuk alam semesta, sangat mirip dengan pandangan Empedocles (495-435). Menurutnya, alam semesta tidaklah dibentuk oleh unsur tunggal, melainkan oleh empat akar (rizhomata), yaitu api, tanah, air dan udara.

Namun, jika dicermati lebih lanjut, konsep manusia dalam pandangan Jawa sungguh sangat berbeda dengan pandangan kedua filosof tersebut. Dalam pandangan Jawa, badan dan roh tidaklah bersifat dualistis seperti yang dibayangkan Descartes. Hal ini dikarenakan sebelum terlahir ke dunia sebenarnya merupakan entitas tunggal. Entitas itu yang disebut dengan ‘pancer’.

Pancer merupakan entitas purba pembentuk empat anasir, yaitu api, tanah, air dan udara. Sedangkan jiwanya akan menjelma menjadi sedulur papat. Dengan begitu, unsur material api, tanah, air dan udara bukanlah kenyataan final seperti yang disangka oleh Empedocles, melainkan kenyataan kedua yang berasal dari pancer. Itulah sebabnya, orang Jawa sejak dahulu kala memiliki pengetahuan tentang sedulur papat lima pancer.

Selain itu, orang Jawa juga meyakini bahwa keberadaan manusia di dunia merupakan kehendak-Nya, namun bukan keberadaan yang sudah jadi. Keberadaan manusia dibentuk melalui rangkaian proses dan prosedur yang telah ditetapkan oleh-Nya, yaitu hubungan cinta kasih orang tua.  Sehingga, orang tua merupakan unsur sakral yang harus dihormati. Bahkan dalam salah satu pasal kitab Tata Pugeraning Urip, manusia dianjurkan untuk selalu ingat kepada orang tua (Pranowo, 2000: 108).

Penghormatan terhadap orang tua ini juga tercermin dalam sebagian tradisi Jawa dalam bentuk jenang abang dan jenang putih. Keduanya merupakan simbol dari cahya abang dan cahya putih yang menjadi asal-muasal manusia dalam proses penciptaan. Cahya abang berasal dari hembusan biyung (ibu) dan cahya putih dari bapa (ayah).

Setelah lahir ke dunia, kedua orang tua merawatnya. Ia diberi berkesempatan untuk memelajari pengetahuan, juga hidup bersama masyarakat dan lingkunannya. Hal itu dilakukan agar manusia mendapatkan bekal dalam proses perjalanan hidup yang disebut sebagai cakra manggilngan.

Meski mungkin berlangsung lama, namun proses tersebut bukan merupakan final. Semua proses itu tak lain hanyalah jalan agar manusia mencapai entitas tertingi yang menjadi asal-muasalnya. Kelak, entitas tertinggi itulah tempat serta tujuan manusia dan segala keberadaan akan kembali. Oleh karena itu, dia juga disebut sebagai paraning dumadi.

Konsep praning dumani ini, sekaligus menggambarakan pandangan hidup orang Jawa, bahwa kehidupan manusia tidak hanya berlangsung di dunia, namun juga sebelum dan sesudahnya. Awalnya, manusia berada pada alam purwa. Setelah itu, ia akan singgah sebentar di dunia (alam madya), kemudian melanjutkan perjalanan menuju alam wasana, yaitu alam setelah kematian.

Kehidpupan di alam madya berlangsung singkat dan sementara, urip mung mampir ngombe istilahnya. Ungkapan ini juga menandakan bahwa kehidupan dunia hanya sementara dan tidak langgeng. Hidup di dunia tidak lain merupakan persinggahan, sebelum akhirnya berlabuh kembali ke di alam keabadian. Inilah yang menjadi tujuan hidup dan cita-cita tertinggi orang Jawa.

Dalam praktiknya, sangkaning dumadi dan paraning dumadi tak dapat dipisahkan. Dalam konsep sangkaning dumadi, terselip keyakinan tentang adanya entitas tertinggi yang menciptakan segala wujud di dunia. Sedangkan dalam konsep paraning dumadi, terselip keyakinan bahwa, kelak entitas tersebut juga menjadi tujuan dan tempat kembali. Karena itulah, kedua konsep itu seringkali disatukan dan dirumuskan dalam ungkapan sangkan paraning dumadi.

Hal ini selaras dengan pandangan metafisika Jawa tentang proses kehidupan yang terjadi dalam lima tahap. Proses-proses tersebut adalah asaling dumadi, sangkaning dumadi, purwaning dumadi, tataraning dumadi dan terakhir paraning dumadi. Setelah melalui kelima proses ini, manusia akan menemukan kenikmatan tiada tara, yaitu saat terjadi peristiwa sengseming kerongkong (Sastroamidjaja, 1972).

Namun tak semua orang bisa merasakan keadaan ini. Setiap orang akan memetik sesuatu sesuai yang ia tanam. Orang yang berbuat kebaikan akan menemukan karmapala padhang. Sebaliknya orang yang berbuat durjana akan menemukan karmapala pêtêng. Yang terakhir ini, menandai bahwa selama perjalanan hidupnya, seseorang tidak mengikuti tuntunan Dzat Sejati.

Oleh karena itu, orang Jawa senantiasa berusaha menjalankan kewajiban yang telah dititahkan oleh Pencipta, yaitu menjalani hidup dengan baik dan benar. Kewajiban ini kemudian dirumuskan dalam ungkapan mamayu hayuning bawana (memelihara kebaikan dunia). Kewajiban itu hanya bisa terlaksana jika dilandasi dua rasa asih ing sasami dan sepi ing pamrih, rame ing gawe. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme