Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Sedulur Papat Lima Pancer dalam Sufisme Jawa

Muhamad Syaiful [] Mahasiswa program pascasarjana AFI; magang di IJIR.

Muhamad Syaiful [] Mahasiswa program pascasarjana AFI; magang di IJIR.

“Islam mengenal syariat, tariqat, hakikat dan makrifat dalam ajaran sufismenya, Jawa mengenal ajaran sufisme dengan sedulur papat limo pancer.”

 

Sedulur papat lima pancer dalam pemahaman orang Jawa merupakan puncak kesatuan dengan Illahi. Dalam pandangan ini, tubuh manusia ibaratkan sebagai kerajaan yang menempatkan pancer sebagai pemimpin dan sedulur papat sebagai yang diatur. Jika sedulur papat ini selaras dengan pemimpinnya (pancer), maka manusia akan menemukan kesatuan kehidupan dan Tuhannya.

Sedulur papat dalam keyakinan sufisme Jawa ialah nafsu. Nafsu inilah yang menjadi tindakan manusia yang mewujud menjadi rasa dan keinginan. Dalam ajaran Sunan Kalijaga sebagaimana dikutib oleh Tibun Raharjo (2012) sedulu papat dikenal dengan kanespon yang terdari empat nafsu yaitu aluamah, sufiyah, amarah dan mutmainah.

Pertama, nafsu aluamah, ialah keinginan yang paling dasar dalam hidup, berupa keinginan makan dan minum. Jika manusia memiliki banyak keinginan untuk makan, berdampak tidak baik dalam tubuh maupun pikiran. Makan yang terlalu banyak menjadikan manusia malas, tidak banyak beraktivitas dan berisiko terserang banyak penyakit.

Kedua, nafsu sufiyah, yakni nafsu yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial manusia. Nafsu ini memengaruhi keinginan manusia agar disanjung, memiliki pangkat, derajat, loba, tamak dan lainnya. Pada dasarnya kebanyakan manusia memiliki keinginan untuk dinilai lebih daripada manusia lain. Nafsu ini mampu menggerakkan manusia untuk berbuat jahat kepada manusia lainnya. Nafsu ini membuat manusia selalu gelisah dan mengusahakan berbagai cara agar memperoleh kekuasaan dan penghargaan.

Ketiga, nafsu amarah, ini merupakan muntahan sifat amarah melalui rasa marah, emosi dan kekecewaan terhadap apa yang menimpa diri manusia. Nafsu ini membuat seseorang menjadi tidak tenang, sehingga perilaku yang ditumbulkan menjadi tidak layaknya manusia. Nafsu amarah ini terkadang membuat manusia berperilaku di luar batas layaknya hewan buas, bahkan bisa lebih buas daripada hewan.

Keempat, nafsu mutmainah, adalah nafsu yang mengajak pada arah kebaikan, seperti membantu orang, rasa empati, simpati, beribadah dan bergembira. Nafsu ini dipengaruhi oleh persepsi yang membentuk pemahaman tentang kebaikan manusia seperti halnya ajaran agama, budaya dan pengalaman hidup manusia. Namun nafsu mutmainah jika berlebihan juga tidak baik bagi manusia itu sendiri, sebab dia akan lupa melihat dirinya sendiri jika terlelap kesenangan bersama dirinya.

Ketika sedulur papat tidak dapat dikendalikan, maka kehidupan seseorang akan semrawut. Seseorang akan dirundung kegelisahan dan melampiaskan segala keinginan. Jika keinginan itu gagal, maka akan berakibat pada kesedihan dan kemarahan yang berkepanjangan serta sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Dalam kaitan bagaimana manusia mengendalikan nafsu-nafsu tersebut, baik ajaran Islam maupun Jawa menganjurkan manusia untuk puasa. Hal ini dimaksudkan untuk menekan nafsu sehingga pikiran menjadi tenang, jiwa dan raga menjadi sehat, sehingga nafsu-nafsu tidak saling menguasai diri dan menekan pancer atau jati diri.

Pancer ialah hati nurani yang mengendalikan sedulur papat atau nafsu-nafsu dalam diri. Dalam pandangan Jawa, hal ini dikenal dengan Nur Muhammad yakni guru sejati. Sebagai guru sejati pancer adalah penyeimbang jagad kecil dalam diri manusia atau dikenal dengan roso jati sejatining roso.

Ketika pancer sedah ditemukan atau aktif dalam diri, manusia akan mampu mengendalikan dirinya dan menempatkan dirinya di berbagai situasi. Sehingga membuat manusia tidak gampang gelisah dalam menjalankan kehidupan. Aktifnya pancer membuat nafsu-nafsu terkendalikan, manusia akan bijak kapan waktunya marah, sedih, senang dan bahagia dengan kadar yang semestinya.

Dalam sufisme Jawa sedulur papat lima pancer merupakan istilah untuk menggambarkan pengenalan diri secara mendalam. Manusia memiliki hati nurani untuk menentukan kebijakan dalam merespon segala permasalahan yang ada, yang dikenal dengan pancer. Sedang sedulur papat ialah perwujudan nafsu atau respon pada diri atas segala hal yang ada.

Jika manusia mengenal sedulur papat lima pancer, berarti dia sudah mengenal dirinya. Mengenal dirinya berarti mengenal Tuhannya. Perkenalan ini mengarahkan pada penyatuan dengan Tuhan yang Maha Esa. Melalui pengendalian nafsu dan pemahaman mengenai jati diri, mengarahkan manusia untuk menyadari tentang hakikat kehidupan dunia., sehingga manusia akan menyadari apa yang harus dilakukan di dunia ini.

Kehidupan ini ialah lakon, dan manusia ialah wayangnya. Pengenalan terhadap Sedulur papat lima pancer akan menuntun manusia untuk melakoni lakon kehidupan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Pada intinya sedulur papat lima pancer ialah diri manusia dengan segala nafsu-nafsu yang menyelimutinya. Pengendalian terhadap sedulur papat oleh pancer pada manusia, ibarat manusia mengendalikan mesin. Mesin akan bermanfaat apabila manusia mengendalikannya dengan bijak. Sebaliknya apabila manusia tidak memahami mesin, diri manusia justru akan dikendalikan oleh mesin itu sendiri. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme