Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kecantikan dalam Konsepsi Masyarakat Jawa

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Jawa memiliki narasi sendiri soal kecantikan. Konsep Kecantikan di Jawa dibangun atas dua elemen, fisik dan moral. Menariknya, fisik, sebagai standar kecantikan perempuan Jawa, berbeda sama sekali dengan kontruksi kebudayaan lain. Di sisi lain, moralitas atau sikap, menjadi tolok ukur penting bagi masyarakat Jawa untuk menilai kadar kecantikan perempuan. Menyangkut fisik, orang Jawa menawarkan konsep kecantikan yang sangat ramah bagi perempuan. Hal ini jauh berbeda dari kebudayaan manapun.

Di Eropa, konsep kecantikan perempuan mengalami perubahan di setiap masanya. Di abad pertengahan, perempuan cantik diukur dari tingkat kesuburannya. Di kisaran abad ke- 15, wanita cantik adalah wanita yang memiliki panggul besar dan dada yang montok. Memasuki abad ke-20, kecantikan diukur dari pantat dan paha yang besar. Bahkan, di India dan Afrika, seorang yang dianggap cantik adalah wanita yang subur bahkan gemuk (Ella dan Yepa, 2004).

Konstruksi kecantikan semacam itu akhirnya runtuh ketika muncul seorang model bernama Twiggy yang berbadan kurus dan langsing di tahun 1965 (Ella dan Yepa, 2004). Hingga sekarang, kurus dan langsing mungkin masih menjadi tolok ukur kecantikan bagi wanita di sebagian besar dunia. Lebih miris lagi,  kecantikan juga diukur dari warna kulit yang putih, mulus, kencang hingga lekuk tubuh, dan bibir yang sensual (Kasiyan dalam Worotitjan, 2014).

Ideologi kecantikan semacam ini disuntikkan terus oleh iklan atau media massa. Inda Fitryarini dengan memakai perspektif Focaultian mengatakan bahwa iklan merupakan satu dari bagian media yang menyebarkan strategi untuk menormalisasi tubuh perempuan (2009: 123).  Tentu saja, hal ini telah mematri ideologi kecantikan menjadi satu kategori saja, langsing, putih dan seterusnya.

Konsep kecantikan tersebut, sangat jauh berbeda dalam konsepsi orang Jawa. Menyoal paras saja, orang Jawa sangat ramah terhadap perempuan. Dalam artikel jurnal yang bertajuk Nilai Filosofis Jawa dalam Serat Centhini, Sutrisna Wibawa mengutip Darusuprapto, yang menyatakan bahwa kecantikan perempuan Jawa terklasifikasi dalam 21 macam. Macam-macam itu dimulai dari perempuan berbadan gemuk hingga berbadan kurus.

Darusuprapto mengistilahkan perempuan gemuk lagi kuat dengan sebutan bongoh. Kemudian, ia menyebut perempuan tinggi, bulat berisi dengan sebutan lencir. Ia  menyebut bentrok untuk perempuan yang berbadan besar, tinggi namun tampak seimbang. Selain itu, ada juga wire yaitu perempuan yang bertubuh kecil, serasi dan ketat. Ada juga gendruk, perempuan bertubuh besar, seimbang tetapi agak kendor. Di sisi lain, ia juga menyebut sarenteg, yakni perempuan yang bertubuh agak tinggi dibanding besar tubuhnya. Terdapat pula lenjang, yaitu perempuan bertubuh kecil dan tinggi, serta rangkung, wanita kurang tinggi dan kerempeng (Darusuprapto, 1994: 53-55).

Penggambaran filosofis Jawa tersebut mengindikasikan bahwa baik kurus, ataupun gemuk sama-sama pantas menyandang sebutan cantik.  Bahkan, warna kulit juga bukan prioritas kecantikan untuk perempuan. Hal ini menyiratkan bahwa dalam pandangan orang Jawa, fisik bukanlah sesuatu yang teramat penting. Justru moralitas/sikap, menjadi standar kecantikan perempuan Jawa. Dalam bahasa kekinian, kita familiar  dengan istilah inner beauty.

Moralitas sebagai basis kecantikan bahkan menjadi sesuatu yang menarik bagi laki-laki, termuat dalam pernyataan Sunardi dalam kutipan cerita tentang Arjuna Wiwaha:

“…semangat boleh berkobar-kobar, tetapi kepala harus tetap dingin. Jangan salah, Arjuna itu orangnya romantis, ia tidak akan tergerak hatinya oleh kekerasan. Karena itu, harusnya kamu salalu memegang trapsilaning wanita yakni tatakrama yangs seharusnya dilakukan wanita. Seorang wanita, biarpun cantik tetapi tidak memiliki budi pekerti (ucapan-perilakunya kasar), tak ada guna kecantikannya. Sebaliknya, meskipun seorang perempuan kurang dianugrahi kecantikan lahir tetapi ia lembah manah, rendah hati, tutur bicaranya halus maka itu lebih menarik bagi pasangannya atau orang lain” (Sunardi, 1993: 47).

Uraian di atas secara sederhana dapat kita maknai bahwa, mengenai kecantikan, orang Jawa sangat ramah terhadap penilaian jasmani. Moralitas tetaplah menjadi elemen dasar dalam konsep kecantikan masyarakat Jawa. Seturut dengan uraian di atas, terdapat pula karaktaristik yang harus dimiliki perempuan Jawa seperti jatmika, yakni perempuan yang mampu bersikap sopan santun. Selain itu, susila, perempuan yang berbudi baik. Terdapat pula istilah kewes, luwes, gandhes dan dhemes yakni, perempuan yang mampu bertutur kata dengan baik, tegas, terampil, santun perilakunya (Darusuprapto, 1994: 53-55).

Begitulah Jawa, menyoal kecantikan saja, orang Jawa sangat akomodatif. Terbukti, masyarakat tidak mendefinisikan cantik berdasar pada aspek fisik semata. Maka, kita harusnya tidak begitu kagum atau terkejut, kalau akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah inner beauty yang dislogankan di berbagai kontes kecantikan. Faktanya, Kebudayaan Jawa sudah berbicara tentang itu jauh di masa silam. Oleh sebab itu, sangat penting bagi perempuan Jawa, meneropong kembali warisan Jawa perihal kecantikan.

Upaya demikian patut dilakukan, mengingat serangan arus media massa atau iklan yang tak kunjung habisnya membangun ideologi  kecantikan. Media massa sebagai simulasi yang  tak ada ujungnya, akan mencerabut perempuan Jawa dari kebudayaannya sendiri. Hal ini tentu bermasalah karena, perempuan Jawa akan terus-menerus mengikuti konstruksi kecantikan yang rasis yang digaungkan oleh modernitas. Kejamnya lagi, perempuan Jawa bisa saja kehilangan moralnya sebagai orang Jawa.

Atas nama sejarah yang adiluhung, egaliter dan beretika luhur, sudah seharusnya perempuan Jawa menghayati kembali konsep cantik dalam kebudayaannya. Hal ini juga sebagai salah satu upaya untuk merawat etika luhur perempuan Jawa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme