Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Permainan Adalah Cikal Bakal Kebudayaan

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Manusia adalah makhluk bermain. Kurang lebih, begitulah salah satu kesimpulan Johan Huizinga dalam Homo Ludens (1938). Dan homo Ludens sendiri artinya memang manusia adalah makhluk yang bermain.

Karena itu, tidak mengherankan kalau sepanjang hidup kita sebenarnya penuh dengan permainan. Bahkan sejatinya, sejak kita masih dini sampai kaki-nini kita tetap berada dalam dunia permainan. Seluruh kehidupan ini adalah seni memerankan permainan dunia.

Permainan ini pula yang kemudian mengajarkan pada manusia tentang nilai-nilai dalam kehidupan. Pada gilirannya, nilai-nilai ini yang turut menata pondasi sosial masyarakat. Pendek kata, permainan menjadi basis cara manusia mengartikulasikan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, dasar filosofi semacam ini akan tampak samar bagi kita. Bagaimana bisa permainan menjadi dasar kehidupan?

Agar semua tampak jelas, mari kita ingat-ingat dolanan masa kecil kita. Generasi sebelum 90-an pasti mengenal permainan gobak sodor. Ini merupakan salah satu permainan tradisional yang kini mulai jarang dimainkan generasi millenial.

Gobak sodor adalah permainan berkelompok yang dimainkan setidaknya 8 orang. Sebenarnya jumlah pemain bisa ditambah sesuai kebutuhan. Karena itu, dilihat dari sisi jumlah pemain, gobak sodor cukup fleksibel.

Permainan ini dilakukan di tanah lapang dengan menggunakan ‘arena’ yang dibuat dari susunan garis vertikal dan horizontal. Ada tiga garis vertikal yang disusun sejajar. Kemudian ketiga garis vertikal tersebut dihubungkan dengan garis horizontal secara tegak lurus. Persilangan garis vertikal dan horizontal ini membentuk bangun balok.

Jumlah garis horizontal disesuaikan dengan jumlah pemain gobak sodor dibagi dua. Jadi, jika terdapat 14 orang yang bermain gobak sodor, maka akan dibutuhkan 7 garis horizontal. Setiap garis horizontal ini kemudian dijaga oleh 7 orang.

Cara bermain gobak sodor adalah seluruh pemain dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok bertugas ‘jaga.’ Posisi mereka ada di setiap garis horizantal. Khusus untuk penjaga paling depan, dia bisa menggunakan garis vertikal yang ada di tengah. Tugas kelompok penjaga adalah menghalau tim ‘main’ untuk melewati garis jaganya.

Adapun tim ‘main’ harus bisa menembus pertahanan tim jaga dari posisi start sampai garis horizontal terjauh. Dari posisi itu, mereka harus bisa kembali ke posisi awal. Peraturannya adalah tim main tidak boleh tersentuh oleh tim jaga. Jika tim main bisa menembus pertahanan tim jaga dari posisi start ke garis horizontal terjauh lalu kembali ke posisi start, maka mereka mendapat 1 poin. Sebaliknya, jika tim main tersentuh oleh tim jaga, posisinya akan ditukar. Tim main menjadi penjaga, dan tim jaga ganti main.

Dari permainan ini, sebenarnya terdapat unsur-unsur utama kehidupan. Banyak hal yang bisa ‘diambil’ dan ‘dipelajari’ dari permainan ini. Di antara pelajaran tersebut adalah unsur utama kehidupan yang menjadi unsur utama kebudayaan.

Unsur-unsur utama kebudayaan dalam permainan gobak sodor di antaranya adalah unsur gerak. Unsur gerak dalam permainan ini bisa dilihat dari permainan dua tim yang memang harus terus bergerak. Tim yang main harus bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain agar mendapat poin. Sedangkan tim jaga harus  bergerak untuk menjaga areanya dari tim main.

Gerak ini yang menjadi salah satu unsur utama kebudayaan. Hakikatnya kebudayaan itu terus bergerak. Kebudayaan itu dinamis. Sekali kebudayaan itu berhenti, ia mati.

Unsur kebudayaan yang lain dari permainan adalah aturan. Ada aturan-aturan yang harus dipatuhi dalam permainan baik oleh tim main maupun tim jaga. Permainan hanya akan berjalan dengan baik jika seluruh tim mengikuti peraturan yang ada. Dan jika ada yang melanggar, maka tim tersebut akan mendapatkan konsekuensi sebagaimana yang disepakati bersama.

Aturan dalam permainan sejatinya mengajarkan manusia untuk sadar hukum. Ada hukum-hukum yang harus ditaati oleh manusia sebagai makhluk bermain. Sejauh kehidupan manusia dijalankan dengan mengikuti hukum yang berlaku, maka kehidupan manusia bisa tertata dengan baik. Dan jika ada yang melanggar hukum tersebut, maka akan ada hukuman yang dijatuhkan.

Dan harus dicatat, kebudayaan kita disusun atas seperangkat aturan-aturan dan hukum-hukum seperti itu. Ada hukum sosial yang mungkin saja tidak tertulis. Ada pula hukum konstitusional yang tertulis. Dan sebagai bagian dari kebudayaan, kita hanya perlu menaati aturan dan hukum tersebut.

Unsur kebudayaan yang selanjutnya adalah posisi. Posisi sangat terkait dengan peran dalam sebuah permainan. Perbedaan posisi akan memiliki perbedaan peran dan fungsi. Begitu juga dalam permainan gobak sodor, posisi sebagai tim main dan tim jaga membawa implikasi peran dan fungsi yang berbeda pula. Posisi sebagai tim main harus bisa melewati tim jaga agar mendapatkan poin. Sedangkan posisi tim jaga harus menghalau tim main.

Unsur posisi inilah yang dalam kebudayaan menjadikan manusia memiliki kesadaran diri. Sadar diri merupakan hal yang sangat penting. Dalam kehidupan manusia berbudaya, kita perlu terus sadar di mana dan sebagai apa posisi kita. Jika manusia menjadi pemimpin, peran dan fungsinya jelas.

Posisi dan kesadaran diri inilah yang kemudian membentuk struktur masyarakat. Kebudayaan manusia sejak dulu hingga sekarang, sejatinya dibentuk oleh unsur ini. Karena itu, tidak berlebihan kalau permainan memberikan suatu pendasaran terhadap kebudayaan. Permainan mengajarkan suatu prinsip penting dalam kehidupan berbudaya, yaitu posisi di tengah kehidupan bermasyarakat.

Unsur lain dari permainan yang sangat penting dalam konteks kehidupan berbudaya adalah kesadaran pada sesuatu yang lain. Dalam permainan, gobak sodor misalnya, manusia tidak bisa bermain sendiri. Manusia butuh tempat. Artinya, manusia akan selalu berhubungan dengan lingkungan. Manusia hanya mungkin bermain sejauh dia mengada dalam lingkungan, dalam ruang.

Kesadaran atas lingkungan ini sebenarnya dimensinya sangat luas. Lingkungan bukan semata tempat bermain, namun juga tempat manusia mengada. Bumi ini sendiri adalah lingkungan bagi manusia.

Karena itu, agar permainan bisa terus dimainkan, manusia harus menjaga lingkungannya. Jika sebatas lingkungan kecil, misalnya sekitar tempat bermain atau sekitar rumah, manusia mungkin bisa melakukannya. Namun bagaimana jika lingkungan itu kita perluas.

Jika lingkungan adalah bumi seisinya, bagaimanakah kemampuan manusia menjaganya? Bagaimana jika lingkungan itu adalah alam semesta seisinya, bagaimana manusia bisa menjaga semuanya.

Karena itu, demi stabilitas ‘permainan semesta’ manusia butuh yang lain, ialah Tuhan. Ini yang kata Huizinga, Tuhan sedang bermain dan bersenang-senang. Persis seperti prinsip bermain, memberikan nilai kesenangan.

Mempertimbangkan unsur-unsur permainan yang membentuk kebudayaan seperti di atas, maka tidak mengherankan kalau disebut ‘permainan adalah cikal bakal kebudayaan’. Dalam konsepsi seperti ini, permainan dianggap sama tuanya dengan manusia itu sendiri. Dan kebudayaan merupakan pergumulan manusia dengan permainannya.

Mari bermain. Bermain seserius-seriusnya, sebaik-baiknya, sehebat-hebatnya. []

 

Catatan Kemah Kebangsaan [] Festival Permainan Tradisional

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme