Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Permainan Tradisional dan Kebangsaan Indonesia

Permainan tradisional telah menjadi wahana penting dalam menyimpan spirit kebangsaan Indonesia. Di dalam ragam jenis permainan, segenap kearifan dan nilai-nilai keadaban dikemas dan diwariskan kepada setiap anak yang mulai belajar memahami makna penting kebangsaan dan kemanusiaan.

Dari generasi ke generasi, jutaan anak merasakan kemewahan permainan tradisional sehingga semua potensi kemanusiaan mereka berkembang dengan sempurna. Anak-anak seperti ditimang-timang dan dimanjakan oleh ragam permainan tradisional yang memungkinkan mereka bisa melihat kehidupan begitu harmoni dan indah. Semua diserap dalam proses alamiah di masa-masa tumbuh kembang mereka.

Sepanjang periode itu pula, anak-anak tanpa sadar menyerap semua nilai keadaban dan kebangsaan disela suka ceria yang ditawarkan oleh setiap jenis permainan tradisional. Mereka belajar menjadi pribadi pemberani, dan pada saat bersamaan mereka juga diajari merayakan nilai-nilai keharmonisan sosial. Mereka dikondisikan berkompetisi, tetapi pada waktu yang sama mereka juga menginternalisasi sikap toleransi.

Begitulah hebatnya, semua jenis permainan tradisional mengajarkan kearifan hidup yang seimbang, yakni spirit yang lazim kita kenal dengan ‘gotong royong’. Itulah juga pondasi kebangsaan Indonesia. Melalui permainan tradisional, anak-anak dihantar memahami dan menemukan substansi nilai gotong royong. Nilai yang tidak mengawang-awang di langit, tetapi hidup dan mewujud dalam pengalaman keseharian.

Nilai-nilai itulah pondasi yang kokoh bagi pembentukan karakter. Permainan tradisional adalah pelataran bagi anak-anak untuk mengenal bangsanya. Suatu kenyataan hakiki yang begitu plural dan beragam, sehingga mendidik siapa saja untuk menjadi pribadi yang luas karena kemampuan menerima segenap perbedaan sebagai modal untuk hidup berbagi di dalam harmoni. Itulah Indonesia yang diimajinasikan oleh para pendiri dan leluhur. Itulah juga Indonesia yang terus diperjuangkan dari generasi ke generasi.

Melalui permainan tradisional, anak-anak dihantar untuk mengenal dan merayakan Indonesia. Dan, Indonesia adalah mozaik kearifan dan nilai-nilai luhur yang dihimpun menjadi kekayaan dan modal sehingga masuk akal bagi bangsa ini untuk bercita-cita menjadi abadi.

Festival Permainan Tradisional

Berpijak pada spirit sebagaimana digambarkan di atas, segenap elemen masyarakat sipil Jawa Timur menggelar Festival Permainan Tradisional dalam rangkaian kegiatan Kemah Kebangsaan pada Sabtu-Minggu, 23-24 Februari 2019 di Kedhaton Tawangsari Kabupaten Tulungagung. Festival Permainan Tradisional sendiri dihelat di Omah Gajah Desa Simo, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, 24 Februari 2019.

Festival Permainan Tradisional bermula dari inisiatif semua elemen masyarakat Kecamatan Kedungwaru bersama-sama dengan Pemerintah dan Karang Taruna. Tidak tanggung-tanggung, 19 Desa di Kecamatan Kedungwaru terlibat secara aktif dalam festival tersebut. Setiap desa mengirimkan delegasi, dan tidak kurang dari 250 partisipan ikut ambil bagian. Kegiatan tersebut juga didukung oleh lima kelompok seni tradisi dari berbagai daerah di Tulungagung.

Melalui Festival, segenap masyarakat Kedungwaru telah bertekad mewujudkan inisiatif besar pelestarian permainan tradisional. Festival pada akhirnya bukan semata-mata ikhtiar pelestarian, lebih dari itu, hal ini merupakan momentum penting menjadikan setiap generasi untuk mengambil peran dalam menumbuhsuburkan (kembali) kebangsaan Indonesia.

Festival menjadi sarana penting bagi setiap orang untuk bisa menoleh, mengingat kembali nilai-nilai patriotisme, harmoni, toleransi, dan gotong royong. Semua nilai itulah yang menjadikan anak-anak mengenal dan menjadi Indonesia. Ingatan atas nilai-nilai adiluhung itu akan menyelamatkan setiap anak agar tidak bertumbuh menjadi pribadi yang a-histori, itulah pribadi yang tidak lagi mengenal dan mampu berpegang pada akar-akar kebangsaan.

Karang Taruna Kedungwaru sebagai aktor penting Festival Permainan Tradisional, berhasil mencatat tidak kurang dari 20 jenis permainan yang terus hidup dan menjadi sahabat tumbuh kembang anak-anak, setidaknya di kawasan itu. Permainan-permainan tradisional tersebut adalah: gendrik, lompat tali, dhelikan, betengan, gobak sodor, I OL, boi-boian/gamparan, kekehan, wok-wokan/gendiran, enthik, sepur-sepuran/slepdure, bedil-bedilan/selontopan, sepringan, tarik tambang, empol-empolan, cirak, engrang, balap karung, balap bangkiak, balap bathok, balap ban.

Sekali lagi, di dalam semua jenis permainan itu, setiap anak akan dengan mudah menemukan nilai-nilai patriotisme, harmoni, toleransi dan gotong royong. Biarkanlah anak-anak terus bermain, karena saat mereka bermain, mereka akan belajar menjadi pribadi pemberani sekaligus belajar hidup harmonis. Mereka akan terus belajar berkompetisi sekaligus tetap dididik menanamkan jiwa toleransi.

Semua permainan tradisional sebagaimana disuguhkan dalam Festival Permainan Tradisional ini, akan menghantar anak-anak mampu mengenal dan mempraktikan gotong royong. Itulah pondasi Indonesia, dan dengan begitu festival juga menghantar mereka untuk mengenal dan merayakan Indonesia.

 

Akhol Firdaus [] Kemah Kebangsaan dan Festival Kesenian Tradisional

Tulungagung, 24 Februari 2019

 

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme