Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kisah Omah Gajah

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Inilah kisah tentang omah gajah. Bangunan eksotik itu masih tegak berdiri. Usianya sudah seabad lebih, tetapi pesonanya belum terkikis zaman. Dibangun oleh pemiliknya pada tahun 1916, bangunan sekaligus menandai kejayaan kerajinan batik Desa Simo, Kedungwaru, Tulungagung, pada masanya.

Pendiri omah gajah adalah Arjokoir. Seorang pengusaha batik paling sukses di kawasan tersebut. Meski bukan saudagar batik satu-satunya, tetapi nama Arjokoir-lah yang paling melegenda. Kesuksesan itu bahkan ia pahat di dinding depan bangunan kuno tersebut. Diwujudkan dalam relief gajah yang berhadapan, mengapit jendela angin-angin.

Gajah melambangkan kejayaan dan kekuatan. Dalam konteks industri batik, simbol itu sekaligus digunakan untuk menggambarkan kekuatan produksinya. Relief ini pula yang diacu oleh masyarakat umum untuk menamai bangunan kuno tersebut dengan sebutan omah gajah. Sepertiga abad lamanya, bangunan telah menandai kemasyhuran Batik Simo sebagai batik paling berkelas di zamannya.

Konon, segmen utama pelanggan batik Simo adalah para pejabat pemerintahan Hindia-Belanda di seluruh wilayah Jawa Timur. Distribusi batik Simo juga tersebar luas ke luar wilayah Tulungagung. Batik Simo bahkan menjadi peletak dasar lahirnya motif batik Gadjah Mada yang identik dengan Tulungagung hingga hari ini.

Batik dan Ragam Seni Tradisi

Keberadaan omah gajah juga menyimpan kenangan indah tentang kemegahan seni tradisi di masa lalu, di kawasan tersebut. Semua saudagar batik di wilayah Simo juga bagian dari ekosistem yang menghidupi seni tradisi. Pada periode 1916 hingga 1940an, bisa dipastikan setiap saudagar batik berperan penting dalam menghidupi semua seni tradisi.

Semua hari besar Islam dan Jawa, terutama Muludan (maulid Nabi Muhammad), dirayakan dengan menggelar semacam festival seni tradisi. Seorang aktivis kebudayaan, ramah dipanggil Pak Karno, menjadi penggerak even-even kebudayaan tersebut. Dalam semua festival, setidaknya selalu tampil seni tradisi wayang wong, drama, andhé-andhé lumut, kethoprak, jaranan pégon, senthéréwé dan jaranan Jawa. Komunitas-komunitas seni tradisi hidup berdampingan dengan keberadaan produksi batik Simo.

Kegairahan seperti itu lahir karena saudagar-saudagar batik telah menjadi tulang punggung bagi semua even kebudayaan. Dana terus mengalir dan dikelola secara kolegial oleh Pak Karno demi menjaga ekosistem seni tradisi yang hidup mewarnai keberadaan produksi batik. Bisa dikatakan, Simo pada saat itu menjadi salah satu rumah bagi semua jenis seni tradisi yang hidup di Tulungagung.

Pak Karno sendiri dikenal sebagai pedagang batik yang ikut mengambil berkah mendistribusikan batik Simo. Begitu juga dengan para pelaku seni tradisi. Kebanyakan mereka adalah para pekerja batik, hidup makarya sebagai seniman batik sekaligus pelaku seni-seni tradisi lainnya. Arjokoir dan para saudagar lain dengan begitu bukanlah pengusaha batik biasa, mereka sekaligus berperan sebagai jangkar bagi ekosistem kebudayaan yang begitu lestari di kawasan tersebut.

Batik dan Kebangsaan

Sejak kapan sesungguhnya Simo menjadi sentra industri batik sekaligus rumah kebudayaan di Tulungagung? Kelahiran para pengrajin batik di Simo sesungguhnya tidak penah bisa dilepaskan dari keberadaan warga Tionghoa di Desa tersebut. Setidaknya satu dekade sebelum tahun 1916, ada seorang filantropis berdarah Tionghoa yang sangat tekun mengajari warga Simo seni membatik.

Sebagian warga Tionghoa di daerah tersebut adalah pedagang, tetapi di antara mereka ada juga yang memainkan peran pendidikan bagi senegap warga. Para tetua Simo mengenang seorang tokoh filantropi yang paling berpengaruh dengan panggilan akrab Kek Lhǔ. Saya tidak bisa memastikan itu nama asli atau panggilan akrab, yang pasti nama ini masih termasyhur hingga hari ini.

Kek Lhǔ menyelenggarakan pendidikan gratis bagi para warga untuk belajar membatik. Ia sendiri adalah saudagar batik. Menariknya, Kek Lhǔ sekaligus mengajari sebagian warga yang memiliki talenta untuk mengembangkan managemen pemasaran batik. Dari tangan dinginnya, lahirnya tokoh-tokoh seperti Arjokoir, Haji Sopingi, Haji Zaelani, dan belasan saudagar batik lainnya. Kek Lhǔ adalah mentor sekaligus partner dagang bagi pengusaha-pengusaha baru yang bertumbuh di Simo.

Tokoh ini pula yang mendorong berdirinya koperasi batik pada masa itu. Pedangan dan para pengrajin dilibatkan dalam pengelolaan koperasi, sehingga kesejahteraan menjadi merata dan dinikmati semua warga. Kek Lhǔ tidak sendirian. Ia juga dibantu oleh tokoh lain yang akrab dipanggali Bio (tidak terang nama panjangnya) di dalam merintis dan mengelola koperasi miliki warga.

Angka orang naik haji di kawasan tersebut meningkat drastis sejak ada koperasi, dan pengusaha-pengusaha batik baru bermunculan. Meskin begitu, Arjokoir dan omah gajahnya tetap tercatat sebagai pengusaha didikan Kek Lhǔ yang paling sukses. Batik Simo makin terkenal dan jaungkauan pasarnya makin luas. Seluruh batik yang beredar di Tulungagung dan kawasan sekitar saat itu distok dari Simo. Perdagangan batik juga menjangkau hampir semua wilayah Jawa Timur.

Kunci kesuksesan batik Simo sesungguhnya bersumber dari jiwa filantropi para pioneer pengrajin batik yang berdarah Tionghoa. Juga semangat gotong royong yang diwujudkan melalui koperasi maupun dalam sistem pengelolaan produksi dan managemen pemasaran. Simo sekaligus menjadi situs paling penting untuk menggambarkan kembali bagaimana spirit gotong royong itu menjelma menjadi kesejahteraan dan hidupnya ekosistem kebudayaan.

Di masa lalu, etnis-etnis dan suku-suku di Simo dan di berbagai kawasan di Tulungagung bisa bekerja sama dan berbagi pengetahuan demi menciptakan kebahagiaan dan kesentosaan. Meski fenomena itu terjadi sebelum periode kemerdekaan, akan tetapi kita semua menjadi tahu bahwa gotong royong seperti itulah sesungguhnya jiwa Indonesia. Spirit yang mendasari lahirnya Republik.

Omah Gajah dan Neyama

Kisah kemewahan gotong royong tersebut harus berakhir di tahun 1942, tepatnya pada 17 November 1942. Akibat gejolak alam, sungai Brantas menguap dan tembus ke sungai Ngrowo, hingga menenggelamkan seluruh kawasan tersebut. Menurut catatan, fenomena alam itu telah merendam tidak kurang dari 150 desa dan 9000 rumah di seluruh Tulungagung. Simo termasuk kawasan yang paling parah, tenggelam bersama dengan desa-desa di sekitarnya.

Banjir sekaligus menenggelamkan industri batik dan kemewahan seni tradisi di kawasan tersebut. Mbah Salam, sesepuh Desa Simo bercerita, semua orang tidak terkecuali Arjokoir dan para pengusaha batik meninggalkan desanya dan tidak sempat menyelamatkan kekayaan dan properti yang dimilikinya.

Simo menjadi kawasan tak bertuan. Beberapa wilayah lain yang berada di hilir ikut tergenang. Banjir telah mengubah Tulungagung saat itu menjadi kawasan berawa, ngrowo. Lahan pertanian hancur berantakan, kawasan industri juga tenggelam bersama dengan derasnya aliran sungai Brantas.

Banjir baru bisa diatasi ketika pemerintah Karesidenan Kediri membangun terowongan melalui wilayah perbukitan Tulungagung untuk menguras air, langsung tembus Samudra Hindia. Historia menuliskan, pembangunan itu ditangani langsung oleh Residen Enji Kihara. Ia merupakan Residen Kediri jebolan Akademi Militer Jepang. Pembangunan terowongan telah dimulai pada Februari 1943 dan berakhir pada Juli 1944.

Terowongan itu sendiri menjadi cerita kelam penjajahan di masa lalu. Tidak kurang 20 ribu romusha dikerahkan oleh Residen Kediri untuk menyelesaikan kerja yang sesungguhnya tidak layak dilakukan manusia dengan teknologi yang tidak memadai. Sebagian besar romusha meninggal di tempat. Warga menamai terowongan dengan sebutan Tumpak Oyot (akar gunung). Dicarikan kesamaan nama itu dalam bahasa Jepang menjadi Neyama, ne adalah akar dan yama adalah gunung. Orang Tulungagung sering menyebutnya Neyama romusha.

Tahun 1944 sebenarnya genangan rawa sudah mulai surut dari Tulungagung, akan tetapi Simo tetap merupakan kawasan yang belum bisa disinggahi. Baru pada tahun 1986 banjir baru benar-benar menghilang dari Simo ketika Orde Baru mencanangkan pembangunan Neyama II. Pada tahun 1987, warga Simo dan para pengusaha batik baru benar-benar bisa kembali ke kampung halaman mereka.

Meski begitu, Simo kali ini sudah merupakan kawasan yang tampak baru. Masyarakat kembali membangun desanya mulai dari nol. Semua modal dan aset rumah sudah hancur berantakan. Di antara rumah dan properti yang sudah hancur itu, omah gajah termasuk satu dari sedikit bangunan yang mampu bertahan menghadapi banjir yang terjadi selama puluhan tahun.

Pak Arjokoir sendiri meninggal pada tahun 1957, memiliki tiga putra. Akibat banjir, ia tidak sempat mewariskan keahlian membatik kepada anak-anaknya. Meski warga Simo memilih kembali ke rumah pada 1987, akan tetapi anak-anak Pak Arjokoir memilih untuk menetap di kampung baru mereka. Kerajinan batik masih bertumbuh di kawasan tersebut, akan tetapi tidak pernah bisa mengulang kejayaan di masa lalu.

Omah gajah sendiri telah menjadi bangunan tak berpenghuni sejak 1942, meski begitu, bangunan ini tergolong masih relatif utuh hingga hari ini.

Omah Gajah dan Festival Permainan Tradisional

Setelah seabad lebih, nama omah gajah dan seluruh memorinya baru mengemuka kembali ketika Camat Kedungwaru, Anang, dan Karang Taruna berinisiatif untuk menjadikan omah gajah sebagai spot Festival Permainan Tradisional. Festival sendiri merupakan rangkaian acara kemah Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Aliansi Masyarakat Sipil dan Relawan Jawa Timur. Dirjen Kebudayaan RI mendukung penuh kegiatan yang dihelat pada 23-24 Februari 2019 tersebut.

Festival berhasil dihelat dengan sangat meriah berkat kerja keras semua pihak. Tidak tanggung-tanggung, 250 partisipan dari 19 Desa di Kecamatan Kedungwaru terlibat aktif dan memainkan tidak kurang dari 21 jenis permainan tradisional. Pada Minggu, 24 Februari 2019, kawasan tersebut menampung bukan hanya warga Kedungwaru, tetapi juga kerinduan mereka terhadap kampung mereka dulu yang pernah menjadi rumah kebudayaan.

Lima kelompok seni tradisi jaranan dan reyog kendang yang ikut memeriahkan Festival tersebut, telah menyulap Simo kembali ke masa lalunya. Dirjen Kebudayaan RI, Hilmar Farid, Ph.D., yang hadir langsung dan bermain bersama dengan anak-anak, ikut merasakan Festival itu tak ubahnya perayaan kebudayaan yang melibatkan segenap warga Simo dan Kedungwaru.

Omah Gajah sendiri disulap menjadi tempat memamerkan batik dan produk-produk kerajinan unggulan warga Simo dan Karang Taruna. Semua tampak bahagia bukan hanya karena kesuksesan Festival tersebut, tetapi juga karena keberhasilan mengembalikan pamor Simo dan omah gajah sebagai rumah bagi ragam seni tradisi dan permainan tradisional.

Festival tersebut sekaligus menjadi momentum bagi Pemerintah Kedungwaru dan masyarakat Simo untuk mendorong agar omah gajah yang sudah berusia seabad lebih itu ditetapkan sebagai cagar budaya. Dirjen Kebudayaan RI sangat mendukung usulan tersebut, akan tetapi bagaimanapun proses pengurusannya harus melalui mekanisme pengajuan oleh Pemerintah Daerah Tulungagung.

Perlu ada good will dari Bupati Tulungagung untuk segera membentuk tim cagar budaya, lalu tim inilah yang akan bekerja, melakukan studi dan melengkapi berbagai syarat administrasi agar ikhtiar menjadikan omah gajah sebagai situs penting kebudayaan bisa diwujudkan. Inilah ikhtiar yang harus dilakukan agar memori-memori kemewahan ekosistem kebudayaan di masa lalu, tetap bisa diletarikan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme