Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Enthik dan Punahnya Permainan Tradisional

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Enthik atau gatrik merupakan permainan tradisional yang masyhur di Jawa. Di beberapa daerah, permainan ini memiliki nama yang beragam. Ada yang menamkannya benthik’ atau ‘patil lele’, namun di daerah saya, juga wilayah Tulungagung dan sekitarnya, permainan ini dinamakan dengan ‘enthik’.

Pada masanya, enthik merupakan permainan populer dan digandrungi. Selain menghibur, permainan ini bisa dikatakan tidak memerlukan biaya. Hanya dibutuhkan ranting yang kemudian dipotong 2 bagian. Satu bagian merupakan tongkat pendek yang panjangnya kurang lebih (±) 10 cm, sedangkan bagian lain disebut tongkat panjang yang ukurannya 3 kali lipat dari tongkat pendek.

Enthik dapat dimainkan minimal oleh 2 orang. Namun seringkali enthik dimainkan secara berkelompok atau beregu. Pembagian anggota kelompok atau regu, ditentukan oleh hompimpa atau suit (Jawa; sut). Si pemenang akan berkumpul dalam satu tim dengan pemenang lainnya, begitu juga sebaliknya. Tim pemenang berkesempatan bermain lebih dulu, sedangakan tim yang kalah harus berjaga.

Untuk memainkan enthik dibutuhkan sebuah ‘uwok’, yaitu sejenis lubang luncur horizontal yang dibuat dengan cara melubangi tanah. Panjang dan lebar uwok bisanya disesuaikan dengan ukuran tongkat pendek, sedangkan kedalamannya bisa beragam sesuai keinginan para pemain. Uwok inilah yang nanti menjadi titik tumpu dalam memainkan enthik.

Terdapat tiga sesi dalam permainan enthik, yaitu ‘nuju’, ‘nangan’ dan ‘thokdher’. Pada tahap nuju, tim pemain meletakkan tongkat pendek secara melintang di atas uwok. Kemudian tongkat pendek diluncurkannya menggunakan tongkat panjang. Di saat itu pula, tim penjaga mengatur formasi untuk berupaya menangkap tongkat pendek yang diluncurkan oleh pemain.

Jika tongkat pendek berhasil ditangkap, tim yang berjaga akan mendapatkan poin. Jika tidak, si pemain akan meletakkan tongkat panjang di atas ‘uwok’ secara melintang. Saat seperti ini, tongkat panjang berfungsi sebagai sasaran tembak tongkat pendek yang dilempar salah seorang dari regu penjaga.

Jika lemparan tepat mengenai sasaran, dengan sendirinya pemain dianggap gugur dan harus mengehentikan permainannya, kemudian kesempatan bermain berpindah ke teman satu timnya. Jika tidak, maka permainan akan berlanjut ke tahap selanjutnya, yaitu nangan. Penamaan ‘nangan’ mungkin karena pada tahap ini, si pemain dituntut untuk memainkan kedua tongkat enthik di tangannya, karena poin dihitung dari jarak terlemparnya tongkat kecil sampai uwok.

Pada tahap ini, pemain meletakkan tongkat pendek di atas tongkat panjang dan dipegang dengan satu tangan, mirip seperti bentuk pedang. Dengan satu tangan itu, pemain akan sedikit melempar tongkat pendek untuk kemudian dipukul dengan tongkat panjang. Jumlah pukulan pemain sangat menentukan jumlah poin yang akan diperolehnya.

Jika si pemain hanya melakukan satu kali pukulan, jarak dihitung dengan tongkat panjang. Jika 2 kali pukulan, jarak dihitung menggunakan tongkat pendek. Jika 3 kali pukulan, jarak dihitung dengan setengah panjang tongkat pendek, jika empat kali, jarak dihitung 1/3 dari panjang tongkat pendek, begitu juga seterusnya.

Jumlah pukulan tidak hanya menentukan poin bagi pemain, namun juga bagi penjaga. Saat menangkap tongkat pendek dari 1 kali pukulan, tim penjaga akan mendapatkan 10 poin, 2 kali pukulan berarti 20 poin, dan seterusnya. Pada tahap ini, tak ada kesempatan bagi penjaga untuk melumpuhkan pemain, kecuali dengan menangkap tongkat pendek. Jika tidak tertangkap, pemain akan menghitung poin dan melanjutkan permaianan ke tahap ‘thokdher’.

Pada tahap thokdher, tongkat pendek diletakkan selaras lubang luncur dengan posisi jomplang. Salah satu ujung berada dalam lobang luncur, sedangakan ujung yang lain berada di luar. Ujung yang berada di luar akan dipukul dengan tongkat panjang, sehingga tongkat kecil akan mengudara. Saat itulah, si pemain akan memukul tongkat kecil yang mengudara itu.

Sama seperti tahap sebelumnya, penghitungan poin sangat ditentukan oleh jarak dan jumlah pukulan. Sejauh mana tongkat kecil terlempar, itulah jarak yang harus dihitung dengan kelipatan seperti tahap ‘nangan’. Namun, jumlah pukulan baru dihitung saat tongkat kecil mengudara, bukan pukulan pertama saat berada di lubang luncur.

Pemain akan dinyatakan gugur saat tak berhasil memukul tongkat kecil yang mengudara itu. Begitu juga saat hasil pukulannya tertangkap oleh pihak penjaga. Jika tidak, pemain akan mendapatkan poin sesuai dengan jarak yang dihitung selaras dengan jumlah pukulan yang ia lakukan.

Tak ada durasi waktu khusus untuk sesi-sesi permaian enthik. Semakin lihai seseorang memainkan tongkat enthik, semakin lama pula durasi permainnannya. Begitu juga sebaliknya, semakin lihai penjaga untuk menembakan dan menangkap tongkat pendek, semakin cepat pula ia mengakhiri perannya sebagai penjaga kemudian berganti peran sebagai pemain.

Begitulah kira-kira gambaran permainan tradisional enthik yang saya ingat. Itu semua adalah hanyalah gambaran enthik dahulu kala, saat ia masih banyak digemari dan digandrungi. Masa di mana saat dunia belum penuh sesak dengan teknologi. Sedangkan kini, enthik telah sekarat, begitu juga dengan pemaianan tradisonal lainnya.

Di era yang serba teknologis ini, enthik tak banyak atau bahkan sudah tak diminati.  Kini, anak-anak lebih suka bermain berbasis teknologi, baik gadged, video game, play station, atau yang lainnya. Jika pun masih ada yang bermain enthik atau permainan tradisional lainnya, hal itu mungkin hanya terjadi di bagian kecil wilayah pedesaan. Itupun dengan jumlah yang sangat sedikit.

Padahal, jika kita kita mau merenung, banyak hal dan manfaat yang bisa diperoleh dari permainan tradisional seperti enthik. Hampir semua permainan tradisonal diakukan dengan berkelompok. Hal ini berarti, permainan tradisonal menyimpan beberapa nilai budaya seperti, gotong royong, kerjasama, juga sportivitas dalam bermain. Sangat berbeda dengan gadged yang tanpa disadari telah mengarahkan anak pada sikap individualistik.

Kejadian seperti ini tentu bukan hanya karena gerusan arus modernitas saja, namun juga karena kurangnya kesadaran tentang pentingnya permainan tradisonal sebagai warisan budaya. Sehebat apapun serangan modernitas, hal itu tak akan berpengaruh bagi bangsa yang memiliki kebanggaan dan andarbeni terhadap budayanya sendiri. Modernitas hanya mampu menggerus bangsa yang tak memegang erat nilai budaya dan tardisi yang ia miliki.

Di sisi lain, meredupnya permainan tradisional juga berbanding lurus dengan hilangnya kesadaran untuk menjaganya. Sungguh tidak banyak orang yang memiliki kesadaran untuk mewariskannya sebagai produk budaya. Hal ini juga diperparah dengan kekhawatiran berlebih dari para orang tua terhadap anaknya. Mereka lebih merasa tenang saat anak-anaknya berdiam diri di rumah dengan gadgednya, daripada harus bermain di luar rumah yang disangka penuh dengan risiko.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka sudah barang tentu permainan tradisonal akan punah. Jika hal itu terjadi, maka turut punah jugalah nilai budaya dan kearifan lokal yang disimpan oleh permainan tersebut. Akibatnya, bangsa ini akan kehilangan akar budaya, sehingga terombang ambing dan menjadi pengekor. Lantas, akankah kita hanya  berpangku tangan? []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme