Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Jaranan Safitri Putro

Imam Safi’i [] Peneliti muda IJIR []

Imam Safi’i [] Peneliti muda IJIR []

Kito wargo seni jaranan dangdut kreasi; Keparingan asmo Turonggo Safitri Putro; Ngaturaken sugeng pinanti rahayu; Lir ing sambikolo amangke yuwono; Mugi pinayungan mring Yang Moho Agung; Kerso paring pasuki yuwono mugi; Safitri Putro tetep joyo salaminyo.

Inilah sepenggal lirik lagu yang dengan mudah sekali diingat para pecinta kesenian Jaranan. Lirik tersebut merupakan pambuko dalam setiap penampilan Turonggo Safitri Putro, salah satu kelompok Jaranan yang pernah melegenda di Tulungagung pada masanya. Lagu pambuko ini sejatinya merupakan doa para senimannya agar tetap eksis di tengah masyarakat pendukungnya.

Kejayaan yang pernah mereka capai serasa belum ada pembandingnya. Turonggo Safitri Putro telah melahirkan seniman-seniman Jaranan yang kreatif. Kelompok ini dapat memikat kelompok-kelompok Jaranan lainnya untuk selalu melirik padanya. Kreativitas para anggotanya telah menghasilkan dan menampilkan ciri khasnya sendiri.

Tentu saja semua itu tidak didapatkan dengan mudah. Proses perjalanan yang melelahkan telah mereka rasakan. Pasang surut pementasannya juga tidak luput Safitri Putro alami, mulai penampilan dari panggung ke panggung sampai harus berhenti sejenak dari jagad pertunjukan jaranan sekitar tahun 2015.

Setidaknya, jerih payah mereka terbayar. Selama karirnya, nomor 1265 menjadi identitas kebanggaan mereka. Para senimannya atau bahkan penikmatnya masih mengingat jelas nomor induk kesenian kelompok itu. Pamor mereka juga masih saja menyisakan kenangan tidak ada habisnya bagi banyak orang. Kerinduan akan pertunjukannya tetap membekas pada setiap pecinta Safitri Putro di manapun mereka berada.

Kelahiran Awal Jaranan Safitri Putro

Semua berawal dari kegelisahan yang dirasakan oleh beberapa seniman Jaranan. Mereka berusaha memikirkan kelanjutan Jaranan yang ada di desanya, Gedangsewu, Boyolangu. Ada dua kelompok jaranan jenis Sentherewe yang lebih awal berkiprah, yakni Turonggo Muda dan Turonggo Jati. Nasib kedua kelompok Jaranan tersebut sedang berada di ujung tanduk.

Kedua Jaranan itulah yang menjadi cikal bakal Turonggo Safitri Putro karena mayoritas pemainnya berasal dari kedua kelompok Jaranan pendahulu tersebut. Pertunjukan Jaranan ataupun seni tradisi lainnya akan terus berjalan jika penampilannya disukai para penonton. Sepinya penonton menjadi kendala serius yang sedang mereka hadapi. Hampir seluruh kesenian Jaranan mendapati situasi sama. Tak heran bila para senimannya mencari jalan keluar atas masalah ini.

Dari musyawarah di kedai kopi mereka akhirnya sepakat membentuk kelompok baru. Tokoh-tokoh seperti pak Soekarno, Handoko, Mashuri menjadi tokoh kunci penggeraknya. Kurang lebih sekitar 20 orang terlibat langsung dalam proses kelahiran kelompok ini. Tidak hanya dari desa Gedangsewu saja tetapi proses kelahirannya juga melibatkan pihak dari luar desa. Meskipun demikian, pemainnya tetap didominasi dari desa tersebut.

Kepengurusan akhirnya terbentuk dan pak Soekarno terpilih sebagai ketua kelompoknya. Tepat pada tahun 1998 Turonggo Safitri Putro berdiri. Kehidupan kelompok ini ditopang dari hasil iuran swadaya para pemainnya. Tidak ada paksaan harus berapa jumlah iurannya, semua dilandasi niat tulus dan kecintaan mereka pada seni jaranan.

Setelah terbentuk, pertunjukan pertamanya dilakukan di desanya sendiri. Ini semakin menegaskan Safitri Putro merupakan Jaranan asli milik Desa Gedangsewu. Jenis Jaranan yang mereka gunakan ialah Sentherewe. Mereka memilih jenis ini karena relatif terbuka atas pengaruh budaya luar. Selain itu, ia juga didasarkan pada Jaranan pendahulu di desanya. Dasar penampilannya berbeda dengan Jaranan yang berkembang lebih dulu seperti Pegon atau Jaranan Jawa.

Nama Safitri sendiri terilhami dari cerita dalam tokoh pewayangan yang sering dilakonkan di Jawa. Tokoh tersebut ialah Savitri atau Sawitri, anak Prabu Asmapati. Ia dikenal dengan perempuan suci karena kesetiaan dan cintanya. Curahan kesetiaannya ia limpahkan pada kekasihnya, Setiawan.

Kisah kesetiaan Sawitri dan Setiawan sedang diuji. Kekasih idaman yang ia temui pertama kali di hutan diketahui segera menemui ajalnya dalam waktu dekat, tetapi Sawitri tidak peduli dengan keadaan yang melandanya. Meskipun Setiawan mati, cintanya tak padam oleh perkara apapun. Mungkin, kisah kesetiaan cinta inilah diambil sebagai pesan yang mengiringi nama Safitri Putro.

Karena nama adalah harapan, maka Safitri Putro memakainya untuk mewakili semangat Sawitri. Ikatan cinta sebagai harapan mereka agar para penonton juga mewarisi rasa yang sama. Apapun makna yang ada, setidaknya Safitri Putro ingin menyuguhkan diri dengan caranya sendiri dan terhubung erat dengan para penontonnya.

Agar diingat, Safitri Putro harus berbeda dengan penampilan Jaranan lainnya. Jika tidak, nasib yang sama akan terulang kembali, sama persis dengan Jaranan yang ada di desanya, hilang karena minim penonton. Kelompok ini terus membuka obrolan-obrolan dengan seniman lainnya untuk menemukan celah.

Para seniman berupaya mencari formula yang cocok sehingga sesuai dengan keinginan pasar. Di Gondang, ada Jaranan pimpinan bapak Isman yang sudah menggunakan rekaman dalam bentuk kaset pita. Safitri Putro pun tertarik dan terinspirasi ntuk membuat rekaman sebagai bagian dari pemasaran mereka.

Lewat toko kaset Mawar yang ada di jalan Teungku Umar Tulungagung mereka bertemu dengan bapak Hambiyanto. Ia memiliki relasi yang cukup baik dengan CHGB Record Surabaya. Beliau menjadi medium antara studio rekaman tersebut dengan Safitri Putro sehingga mampu menjalin kerjasama.

Melalui kerjasama inilah, rekaman dalam kaset pita dapat terselesaikan di tahun 2000 dan dapat dipasarkan. Tanpa disangka, perjualan kasetnya laku keras. Dengan modal ini, Turonggo Safitri Putro semakin dikenal khalayak umum dengan kasetnya. Semoga Turonggo Safitri Putro tetap jaya selamanya, sama seperti lagu pambuko yang dinyanyikan setiap awal kasetnya. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme