Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Cerita Lisan Reyog Ponorogo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Dikisahkan sang Prabu Kelana Sewandana berkedudukan di Bantarangin. Kerajaan ini berdiri di tanah bekas Wengker Purba (986-1037 M) yang telah ditaklukkan oleh Erlangga setelah 3 kali penyerangan.

Sang Prabu merupakan penganut Tantrayana yang pantang berhubungan dengan perempuan. Sang Prabu mempunyai adik yang sekaligus patih bernama Bujangganong (Pujangga Anom), berbeda dengan kakaknya yang mempunyai paras tampan, ia justru memiliki rupa yang jelek namun dianugrahi kekuatan dan kesaktian  (Purwowijoyo: 1990, 14).

Sang patih menganjurkan kepada Sang Prabu untuk mencari seorang permaisuri. Akhirnya Sang Prabu memilih Sri Sanggramawijaya atau Dewi Kili Suci (dalam cerita Reyog disebut Dewi Songgolangit), penasehat muda Prabu Jayanegara di Pangjalu. Di sisi lain Prabu Lodaya, yaitu Singabarong pun juga menginginkan Sanggramawijaya (Moelyadi: 1986, 81-85). Dalam cerita Klana Wuyung, Prabu Singabarong adalah manusia berkepala singa.

Untuk menyiasati lamaran tersebut, Dewi Kili Suci meminta bebana yaitu berupa jalan bawah tanah yang menghubungkan antara Bantarangin dan Pangjalu (Kediri) selama semalam, hewan yang mempunyai kepala dua dan kesenian yang belum pernah dibuat oleh siapapun sebelumnya. Dengan bantuan patih Bujangganong, syarat pertama terpenuhi dengan membuat jalan bawah tanah dari Goa Bedhali (Ds. Tajug, Siman, Ponorogo) sampai ke Selomangleng Kediri.

Kemudian Sang Prabu Kelana Sewandana menuju Kediri dengan membawa 144 pasukan berkuda (jathil), pasukan kolor sakti (warok) dan diiringi musik gamelan berupa gong, kenong, kempul, angklung, kendang.

Di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh pasukan Prabu Singabarong. Prabu Singabarong selalu membawa burung merak di atas kepalanya untuk mencari kutu di kepalanya. Akhirnya peperangan di antara dua kerajaan pun tak terelakkan. Sang Prabu Kelana Sewandana akhirnya mengeluarkan senjata pamungkasnya, yaitu Pecut Samandhiman. Pecutnya disabetkan ke kepala Singabarong dan tubuhnya menjadi singa seutuhnya serta burung meraknya tetap menempel di atas kepalanya.

Peperangan dimenangkan oleh Prabu Kelana Sewandana dan prajurit Singabarong takluk serta ikut dalam arak-arakan Kerajaan Bantarangin menuju Kediri. Syarat kedua tentang hewan berkepala dua terpenuhi. Akhirnya arak-arakan ini ke Kediri diiringi musik gamelan. Terciptalah sebuah kesenian baru yang belum ada sebelumnya dan syarat ketiga terpenuhi. Mereka sampai ke Kediri namun lamaran ini tetap ditolak oleh Dewi Kili Suci. Sang Putri tetap memutuskan untuk menjadi pertapa sesuai keinginannya di dekat Candi Belahan, Kepucangan di lereng Gunung Penanggungan.

Untuk mengurangi kesedihannya, Sang Prabu mengambil anak lelaki dan dijadikan kekasihnya (gemblak). Sang Prabu inilah raja warok pertama kali, dan yang pertama kali memulai tradisi nggemblak (memelihara gemblak). Tradisi ini kemudian diteruskan oleh para petinggi-petinggi dan tokoh-tokoh di Ponorogo sampai akhir tahun 80-an. Gemblak sebenarnya disiapkan sebagai warok muda. Namun jika mereka gagal dalam menjalani ujian maka para gemblak ini dijadikan jathilan (penari jathil).

Sesudah peristiwa raja Bantarangin, Ponorogo mempunyai peninggalan berupa seperangkat gamelan (musik) terbuat dari bambu dan diwariskan kepada rakyat lalu diperagakannya. Seperangkat gamelan ini disebut Gong Gumbeng. Hingga tahun 1985 Gong tersebut masih ada dan terawat baik oleh seorang warga di Kecamatan Sambit Ponorogo (Soemarto: 2014, 14). Mencontoh perjalanan rajanya seperti itu lalu masyarakat Bantarangin membuat kesenian yang dinamakan Reyog, lalu dikenal dengan nama Reyog Ponorogo (Purwowijoyo: 1990, 8). []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme