Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Permainan Tradisional untuk Terapi Anak

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Terapi bermain merupakan bentuk konseling, yakni psikoterapi yang menggunakan sarana permainan untuk berkomunikasi dan membantu seseorang menyelesaikan masalah. Plato dianggap orang pertama yang memperkenalkan nilai praktis  permainan. Berbasis permainan, masyarakat Jawa memiliki banyak permainan tradisional. Memainkannya seperti menjadikannya sebagai media terapi, terutama bagi anak-anak.

Seiring perkembangan ilmu jiwa, para ahli mencoba menjawab keberadaan bermain bagi manusia. Teori klasik tentang bermain, menyatakan bahwa manusia bermain disebabkan  surplus energi, untuk rekreasi, rekapitulasi dan kegunaan praktis. Perkembangan selanjutnya teori tersebut menjelaskan bahwa bermain memiliki manfaat bagi perkembangan anak-anak (Tedjasaputra, 2008: 2).

Pentingnya permainan menjadi salah satu sarana mengajarkan kepada anak untuk mengatasi tantangan psikososial yang mempengaruhi kepribadian. Menurut Erik H. Erikson bahwa lingkungan sosial mempengaruhi kepribadian, disebut sebagai teori psikososial. Setiap tahapan perkembangan memunculkan konflik sosial yang khas. Kemampuan menyeimbangkan konflik di setiap tahapan perkembangan menjadi penentu keberhasilan anak-anak menghadapi konflik di tahapan berikutnya (Alwisol, 2014: 89).

Tidak hanya itu, menurut Jean Piaget, permainan mempengaruhi terbentuknya intelegensi anak. Karena intelegensi terbentuk dari keadaan equilibrium (seimbang) dan adaptasi organisasi dengan lingkungan agar dapat hidup. Permainan menyediakan lingkungan agar tercapainya keharmonisan dengan struktur kognitif anak (Suparno, 2012: 20).

Permainan juga memegang peranan penting bagi perkembangan emosi anak. Melalui permainan, anak belajar mengatasi kejadian tidak menyenangkan. Hal tersebut dijelaskan Psikoanalisa, bahwa bermain sama halnya dengan berfantasi atau melamun. Melalui hal tersebut, seseorang mampu memproyeksikan konflik di dalam diri. Permainan menjadi semacam katarsis, memindahkan perasaan negatif ke objek lain, sehingga meredam emosi negatif (Tedjasaputra, 2001: 7).

Bermain dan permainan bagi anak adalah segalanya. Bermain merupakan dunia bagi anak-anak. Sedangkan permainan adalah aturan dunia anak-anak. Memisahkan hal tersebut dengan kehidupan anak, sama halnya menempatkan anak tidak memiliki kemampuan yang cukup menghadapi tantangan kelak ketika dewasa.

Sayangnya, semakin pesatnya perkembangan teknologi, melahirkan pula permainan berbasis digital. Keberadaan permainan ini lebih diminati, karena menawarkan banyak hal baru dan tantangan bagi para penggunanya.

Tidak hanya itu, ketika permainan tersebut digabung dengan teknologi internet, jadilah game online. Keberadaan permainan ini semakin menarik, sebab pemain dapat berinteraksi dengan pemain lain. Akibatnya, anak lebih nyaman berinteraksi secara virtual dan terus-menerus berada di dunia maya.

Permainan seperti ini, terutama bagi anak-anak, tidak banyak memberikan sarana bagi tumbuh kembangnya. Karena permainan digital hanya mengkondisikan anak duduk menghadap layar atau gadget untuk bermain. Padahal saat masa perkembangan, anak membutuhkan stimulus bagi perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Dampak paling buruk permainan seperti itu adalah efek kecanduan bagi penggunaanya. Potensi kecanduan ini sama seperti penggunaan alkhohol dan obat-obatan. Kecanduan seperti ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga menjadi bagian gangguan klinis yang membutuhkan perawatan serius.

Terutama bagi seorang anak, kecanduan menyebabkan gangguan perkembangan emosi. Ketika seseorang kecanduan, otak menghasilkan hormon bernama dopamine. Hormon ini semacam sistem hadiah di dalam otak manusia, berupa efek menyenangkan. Keberadaannya, stimulus bagi seseorang untuk melakukan hal yang sama terus menerus. Jika tidak terpenuhi, seseorang merasakan kecemasan, gelisah, marah dan berbagai gangguan emosi lainnya.

Hal tersebut tentu berbeda dengan permainan tradisional. Menurut Iswinarti, manfaat psikologis permainan tradisional, misalnya, gobak sodor, adalah adanya aturan pada permainan ini yang menuntut pemain meloloskan diri, dapat melatih perkembangan motorik. Permainan ini juga membutuhkan kerjasama, secara langsung melatih perkembangan sosial anak (Iswinarti, 2017: 113).

Fungsi lainnya permainan tradisional, yaitu menjadi sarana untuk membangun karakter anak. Salah satunya permainan dam-daman, permainan ini seperti catur, tetapi hanya memiliki satu langkah, depan, belakang, kiri dan kanan. Permainan ini bagi anak mengajarkan kemampuan mengambil keputusan dan tanggungjawab (Iswinarti, 2017: 69).

Permainan tradisional menyimpan apa yang kita sebut sebagai local wisdom, sehingga keberadaannya memberi identitas kepada anak. Pentingnya identitas ini nantinya sebagai basis kepercayaan diri kelak ketika dewasa.

Sebagai negara yang memiliki bonus demografi penduduk, Indonesia layaknya melestarikan permainan tradisional menjadi salah satu jalan, memperkuat generasi yang akan datang. Jika berbagai terobosan tidak dilakukan, bangsa ini harus menyediakan banyak terapi anak. Karena perkembangan teknologi permainan modern yang terus menguasai kehidupan anak-anak dewasa ini. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme