Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Versi Lain, Cerita Lisan Reyog

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Sejarah Reyog versi lain merupakan cerita perlawanan Demang Surukubeng, yaitu Ketut Suryangalam/Ki Ageng Kutu kepada Majapahit. Ia menganggap bahwa raja tidak tegas karena kebijakannya banyak dipengaruhi oleh sang Permaisuri yang beragama Islam. Meskipun ia mengasingkan diri, ia membuka padepokan olah kanuragan di Surukubeng. Ia juga menganggap bahwa pasukan Majapahit lemah, tidak sekuat dan segagah dulu.

Ki Ageng Kutu sangat kecewa dengan keadaan tersebut sehingga ia menciptakan Reyog yang merupakan sindiran atas kondisi Majapahit. Ia menciptakan topeng dengan kepala harimau yang di atasnya bertengger merak yang berbulu indah. Harimau ini merupakan simbol raja dan merak merupakan simbol permaisuri, hal ini melambangkan ketundukan raja pada permaisuri dalam kebijakan-kebijakannya.

Ia juga menciptakan tarian kuda dengan anak muda tampan sebagai pemainnya, mereka dirias cantik layaknya seorang perempuan dan menari dengan gerakan feminin serta gemulai seperti perempuan. Hal ini merupakan sindiran bagi prajurit Majapahit. Tarian-tarian ini diiringi dengan bende, angklung, gong, kendang, slompret, dan bunyi-bunyian dengan suara yang gemuruh sehingga menarik banyak orang untuk menontonnya.

Para warga pun senang dan selalu ingin menonton kesenian tersebut jika dimainkan. Merasa banyak orang yang menyaksikan tarian sindiran tersebut, muncullah kegelisahan Ki Demang jika prajurit Majapahit akan menyerang dan membumihanguskan mereka. Karena Ki Ageng Kutu ini merupakan orang yang sakti mandraguna, sehingga ia memutuskan mengajari para pengikut di wilayah kekuasaannya dengan berbagai ilmu kesaktian.

Orang-orang yang sudah paruh baya dan tua diajari dengan ilmu-ilmu kadigdayan dari dalam, kasepuhan, dan kasampurnan, sehingga memiliki kesaktian yang luar biasa tinggi. Sedangkan yang muda dilatih ilmu-ilmu kanuragan dan fisik, sehingga kebal terhadap senjata apapun. Mereka juga dibekali ilmu-ilmu tua dalam khasanah Jawa dengan berbagai retret panjang, sehingga lengkaplah kesaktian mereka luar dan dalam. Akhirnya mereka mendapat julukan warok, yang berasal dari kata “wara” yang berarti priyagung atau orang besar.

Mereka semua dibekali senjata berupa kolor sakti yang diikatkan di pinggang masing-masing, yang digunakan sebagai adu ketangkasan dalam berlatih dan senjata saat berperang. Kolor ini konon dulunya merupakan pilinan dari kulit ari pohon kelor, sehingga mampu untuk merontokkan ilmu kanuragan lawan. Sehingga selain menyerang lawan dengan kekuatan fisik dan ilmu-ilmu kadigdayan, mereka juga menggunakan kolor sebagai senjata untuk melumpuhkan lawan.

Menurut keterangan Kang Jenggo, budayawan Ponorogo, Reyog ini lahir bukannya nir hubungan dengan lingkungan sekitar, ia justru lahir untuk mengakomodir satwa endemik lokal sebagai bagian properti dari kesenian tersebut. Kesenian ini menggunakan satwa yang ada di sekitar komunitas kesenian dan itu biasanya dianggap sebagai hewan suci, mistis, dan sakral. Di Kalimantan misalnya menggunakan burung Enggang dan di Papua menggunakan burung Cendrawasih.

Jika dihubungkan dengan versi Surukubeng nampaknya gagasan ini bisa diterima mengingat Wengker (Ponorogo dan sekitarnya) dulu masih memiliki hutan lebat dan masih banyak ditemukan harimau dan merak. Bahkan sampai pada tahun 80an masih ditemukan harimau di daerah hutan wilayah Timur Ponorogo, untuk merak masih bisa ditemukan di hutan daerah Saradan, Madiun. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme