Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Falsafah Wedang Kopi

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester VI, Peneliti Muda IJIR []

Orang Jawa menjadikan kopi sebagai cara pandang hidup. Tentu saja, jika hal ini ditinjau dari makna filosofisnya.  Landasan filosofis ini mengendap dalam kebudayaan Jawa. Meski bukan dalam pemahaman yang detail, setidaknya, pemahaman itu mewujud dalam tradisi musyawarah.

Musyawarah menjadi salah satu model penting untuk memahami basis moral orang Jawa. Membahas moral, sama halnya dengan membicarakan konsep hidup orang Jawa. Dalam khazanah Jawa, manusia ideal adalah mereka yang mampu mengabdi kepada Tuhan, juga menghargai sesama.

Intinya,  manusia harus bisa menyelaraskan hidupnya, antara hubungannya kepada Tuhan dan terhadap makhluk/sesamanya. Apabila ditelaah dengan saksama, pemahaman ini merujuk pada kesatuan yang harmonis. Berbuat baik kepada makhluk, sama halnya dengan berlaku baik kepada Tuhan. Lebih jauh lagi, keharmonisan-keselarasan itu menunjukkan bahwa orang Jawa sangat berwawasan teleologis.

Kurang lebih, teleologi mengandung maksud bahwa manusia senantiasa melalui proses dialektika yang mengarah pada tujuan akhir tertentu (Budi Hardiman, 2007:178). Secara umum, manusia mengawali hidupnya dari ketidaktahuan menuju-menjadi subyek berpikir, berbudaya dan berbudi pekerti. Salah satu aktualisasi itu, dapat kita temukan dalam konsep Jawa mengenai minuman dalam sesajen. Ada 3 jenis minuman dalam sesajen, air bening, teh (manis-pahit) dan kopi (manis-pahit) (Lucky Hendrawan dkk., 2015: 38).

Air bening menyiratkan bahwa manusia pada asal kelahirannya adalah insan yang bersih, bening dan masih suci. Mereka masih polos, kosong dari pengetahuan. Kemudian, teh, bermakna bahwa manusia memasuki usia dewasa. Di saat inilah, manusia mulai mengenal beragam pengetahuan. Bahkan di masa inilah manusia mulai mencecap manis-pahitnya kehidupan.

Ketika kita dewasa dan menerima banyak pengalaman hidup, tibalah kita di masa tua. Masa tua diaforismekan dengan wedang kopi (manis-pahit). Masa tua adalah tahapan ketika manusia telah ditempa banyak hal dengan pengetahuan yang lebih banyak dibanding masa muda. Pada masa inilah, pengetahuan manusia layaknya bubuk kopi yang mengendap padat. Pengalaman yang banyak, akan mengarahkan manusia pada kematangan berpikir dan kebijaksanaan.

Seluruh tahapan itu, merupakan rangkaian alur metaforis dalam kehidupan orang Jawa. Tujuan akhir dari proses panjang itu adalah kematangan berpikir yang dianalogikan dengan wedang kopi. Jika hal ini kita kaitkan dengan relasi sosial, kematangan seseorang, juga harus senantiasa bernegosiasi dengan tiap pikiran manusia. Pada level yang sederhana, perwujudan negosiasi gagasan sebagai proses pematangan, tergambar dalam tradisi rembug (musyawarah).

Rembug mencerminkan keadaan bahwa manusia harus mengendalikan dirinya untuk mencapai pemahaman yang utuh. Dengan itulah, manusia dapat mencapai kematangan berpikir sekaligus kematangan moral. Dalam praktik, rembug, menampilkan potret kecil orang Jawa dalam bermoral. Moral itu terpampang nyata dalam praktik rembug sehari-hari. Lazimnya, masyarakat selalu menyuguhkan jamuan. Wedang kopi, menjadi suguhan  yang hampir tak ketinggalan. Ini sebagai tanda bahwa orang Jawa gemar menyituasikan harmoni dalam bermasyarakat karena, dengan wedang kopi, orang bisa santai dan berbincang soal banyak hal.

Sekali lagi, wedang kopi/ngopi telah menjadi tradisi orang Jawa. Entah di bilik-bilik pedesaan, perkotaan bahkan di kalangan pesantren. Hemat saya, Fenomena merupakan konstruk budaya Jawa yang kaya akan makna filosofis.  Rupanya, Ekspresi tradisi ini menunjukkan kesaling-terkaitan antara dasar filosofis wedang kopi dengan rembug. Selain itu, titik temunya terletak pada tujuan dasar rembug dan nilai filosofis wedang kopi di sisi lainnya.

Rembug kita menyebutnya, dan syawir (di kalangan pesantren), selalu mengandaikan adanya simpulan yang memadai, sebagai bentuk kematangan individual dalam bersosial. Senada dengan itu, falsafah wedang kopi mengajarkan kita untuk matang-dewasa berbekal pengalaman yang cukup.

Musyawarah adalah hal penting bagi pematangan berpikir karena, setidaknya ia selalu disokong oleh pitutur Jawa. Pitutur itu adalah “rukun agawe santosa, crah agawe brubah”.  Capaian penting dalam kegiatan musyawarah adalah kerukunan dan harmoni sosial. Merendahkan egoisitas individu guna saling legowo untuk mencapai mufakat.

Mufakat dengan demikian, menuntut agar seluruh orang yang terlibat di dalamnya harus matang dalam pikiran serta tindakan. Mereka  harus saling menghormati dan menghargai di antara sesama. Terlebih lagi, terdapat adagium Jawa yang berbunyi “ngelmu pari, soyo isi soyo tumungkul”. Secara harfiah, maknanya adalah semakin matang pengetahuan seseorang, seharusnya menjadikannya lebih santun. Kematangan berpikir bukanlah soal kecerdasan melainkan soal moral.

Kematangan berpikir yang disimbolkan dengan wedang kopi hingga disuguhkannya dalam berbagai kegiatan rembug, mengimplisitkan bahwa terdapat basis fondasional orang Jawa, logo dalam bahasa Levi-Strauss (Madan Sarup, 2011:52). Kita bisa menyebut dasar kebudayaan orang Jawa adalah kematangan berpikir. Hal ini  mengejawantah  dalam segenap simbol dan tata laku orang Jawa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme