Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Pranata Mangsa Jawa

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Jawa memang membanggakan. Jawa bukan sekadar gudangnya kebudayaan, namun juga surganya pengetahuan. Hal ini tergambar dari salah satu sistem kalender Jawa yang disebut sebagai ‘pranata mangsa’.

Pranata mangsa adalah sistem kalender tradisional Jawa. Sistem kalender ini digunakan oleh masyarakat Jawa untuk menandai perubahan musim, khussnya oleh para petani dan nelayan. Agar lebih efektif, pranata mangsa dipadukan dengan ‘palintangan’ atau ilmu perbintangan (Daldjoeni, 1984: 2).

Dalam pranata mangsa, orang Jawa mengenal 12 jenis mangsa yang memiliki sifat dan karakteristik berbeda beda (Wisnubroto, 1999: 9). Kedua belas mangsa dan karakteristiknya merupakan hasil pengamatan dari kejadian berulang-ulang atau ‘ilmu titen’. Nama masing-masing mangsa itu adalah Kasa, Karo, Katelu, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kasadasa, Dhesta, dan Saddha.

Pranata mangsa tak hanya menggambarkan keakraban orang Jawa dengan alam sekitar, tapi juga menegaskan tingginya nilai estetika Jawa. Hal ini terlihat dari cara orang Jawa mengungkapkan pranata mangsa dengan bahasa Kawi dan metafora yang disebut sebagai ‘panyandra’. Tiap-tiap mangsa meliki panyandra yang disesuaikan dengan keadaan alam di masa itu.

Mangsa Kasa, candranya adalah “Sotya murca saking embanan” yang berarti mutiara terlepas dari tempatnya. Ha ini menggambarkan banyaknya daun yang berguguran sebab berkurangnya air karena terik matahari. Dulu, pada mangsa ini para petani membakar dami (batang padi yang sudah mengering) dan mulai menanam palawija karena binatang sejenis belalang mulai masuk ke tanah.

 Mangsa Karo, candranya adalah “Bantala rengka”. Bantala berarti tanah, sedangakan rengka berarti pecah. Panyandra ini merupakan gambaran tekstur tanah membelah (pecah-pecah). Gambaran ini memberi tanda kepada masyarakat bahwa pada mangsa ini tidaklah sesuai menanam padi.

Mangsa Katelu, dicandrakan “Suta manut ing bapa” yang berarti anak patuh kepada bapaknya. Saat ini juga menandai datangnya mangsa ketiga. Penciri alamnya adalah tanaman lung-lungan (umbi-umbian jalar), seperti gadung, wi, gembili mulai merambat. Pada Musim ini banyak lahan yang tidak ditanami karena cuaca yang sangat panas, sedangkan palawija mulai dipanen dan berbagai jenis bambu mulai tumbuh.

Mangsa Kapat, candranya adalah “Waspa kumembeng jroning kalbu” yang berarti airmata memenuhi hati. Maksudnya pada mangsa ini masyarakat petani sedang berada pada titik terendah penderitaaanya. Penciri alamnya adalah sawah tidak ada (jarang hampir tidak ada) tanaman dikarenakan musim kemarau, para petani mulai menggarap sawah untuk ditanami padi gaga, pohon kapuk mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bertelur.

Mangsa Kalima, memiliki candra “Pancuran emas sumawur ing jagat”, artinya pancuran emas tersebar di bumi. Emas merupakan penggambaran air hujan. Penciri alamnya ditandai mulai adanya hujan yang lebih sering dengan curah hujan yang rendah, selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah. Para petani mulai menggarap lahan persawahan sebagai persiapan untuk menebarkan benih padi, pohon asem mulai tumbuh daun muda, serta ulat-ulat mulai keluar.

Mangsa Kanem, masyarakat Jawa menggambarkannya dengan candra “Rasa mulya kasucian”, maksudnya  rasa ini akan muncul ketika orang berbuat baik. Pada mangsa ini, buah-buahan seperti mangga mulai berbuah. Curah hujan semakin banyak dan tumbuh-tumbuhan telah bersemi. Para petani mulai menyebar bibit tanaman padi di pembenihan.

Mangsa Kapitu, candranya adalah “Wisa kéntir ing maruta”. Wisa berarti racun atau penyakit, kéntir berarti hanyut, sedangkan maruta berarti angin. Penciri alam masa ini adalah banyak penyakit bermunculan, sehingga banyak orang yang sakit. Benih padi mulai ditanam di sawah karena kuantitas curah hujan tinggi sehingga banyak sungai yang banjir.

Mangsa Kawolu, memiliki candra “Anjrah jroning kayun”. Anjrah berarti tersebar, sedangkan kayun berarti keinginan atau hati. Maksudnya, pada mangsa ini masyarakat Jawa memiliki banyak keinginan/pengharapan. Pada mangsa ini para petani berharap banyak dari hasil pertanian karena padi membeludak.

Mangsa Kasanga, candranya adalah “Wedharing wacana mulya”. Wedhar berarti keluar, wacana berarti ucapan atau suara, sedangkan mulya berarti mulia, atau indah.  Maksudnya pada masa ini banyak suara yang nikmat didengarkan, misalnya Garengpung, Gangsir, Jangkrik di mana semuanya beriringan bernyanyi menyambut alam.

Mangsa Kasadasa, dicandrakan dengan “Gedhong mineb jroning kalbu” yang berarti pintu gerbang tertutup dalam kalbu. Penciri pada mangsa ini adalah banyaknya binatang yang mulai bunting/bertelur. Karakter hewan-hewan seperti kucing sibuk mencari pasangan, demikian juga burung-burung.

Mangsa Dhesta, candranya adalah “Sotya sinarawedi”. Sotya berarti mutiara, sedangkan sinarawedi berarti sangat disayangi. Maksudnya adalah mangsa seperti ini diibaratkan bak mutiara yang sangat disayangi. Pada mangsa mareng ini binatang unggas seperti burung mulai menyuapi.

Mangsa Saddha, candranya adalah “Tirta sah saking sasana”. Tirta berarti air, sah berarti lenyap, sedangkan sasana berarti tempat. Pada mangsa ini orang-orang sulit berkeringat karena bedhidhing (cuaca sangat dingin). Inilah pertanda berakhirnya mangsa mareng. Para petani menjemur padi dan memasukkannya ke lumbung. Sedangkan sawah hanya menyisakan dami.

Sungguh disayangkan, kini pranata mangsa nyaris tak berbekas. Seandainya masih ada pun, mungkin hanya diketahui oleh para generasi tua. Mungkin kita bisa berdalih bahwa pranata mangsa tak lagi relevan untuk diterapkan. Namun, bagaimanapun pranata mangsa tetap merupakan warisan adiluhung leluhur Jawa. Pranata mangsa menegaskan tingginya peradaban Jawa, tak hanya dalam bidang pengetahuan, namun juga dalam estetika. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme