Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Aspek Magis Ketupat

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II [] Staf magang di IJIR []

Dini Damayanti [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II [] Staf magang di IJIR []

Masyarakat Jawa mengenal ketupat sebagai salah satu kudapan khas Idhul Fitri. Di samping itu, ketupat bagi orang Jawa juga dikenal sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur. Hal tersebut diwujudkan dengan menggantung beberapa ikat ketupat di atas pintu depan rumah.

Ketupat yang digantung di atas pintu rumah dapat disebut sebagai sajen. Sejian keramat ini dalam pandangan orang Jawa merupakan bentuk sesembahan kepada arwah leluhur. Kata sajen berakar dari kata saji yang berarti menghidangkan sesuatu, dan berubah maknanya dengan akhiran -en yang berarti menghidangkan sesuatu berupa makanan (Mukhlas, 2013: 212).

Sajen sendiri kerap ditemui dalam beberapa ritual dan kesenian di Jawa. Fungsi sajen sebagai wujud kesungguhan doa yang dipanjatkan oleh masyarakat Jawa.  Sajen juga kerap ditujukan bagi para arwah leluhur. Dalam sajen, hidangan yang ditujukan bermacam-macam mulai dari kembang, pisang, ayam, dan tak terkecuali ketupat.

Dalam pandangan umum, ketupat selama ini dikenal sebagai simbol saling maaf-memaafkan dalam hari raya Islam. Namun, ketupat juga dikenal sebagai simbol penghormatan terhadap arwah leluhur atau arwah keluarga yang telah meninggal. Leluhur bagi orang Jawa merupakan figur yang semasa hidup memiliki sifat luhur dan setelah meninggal akan terus melakukan kontak batin dengan orang-orang yang masih hidup (Clifford Greetz, 2013: 105). Arwah keluarga juga dianggap masih terus berada dalam lingkup anggota keluarga yang masih hidup.

Kepercayaan ini sebenarnya tidak lepas dari sejarah ketupat sendiri. Sunan Kalijaga dalam menyiarkan Islam di pedalaman Jawa, menggunakan pendekatan budaya dalam sektor agraris. Ketupat menjadi bentuk akulturasi budaya Islam dengan Hindu-Buddha. Sebelum mengenal Islam, orang Jawa terlebih dahulu mengenal kepercayaan terhadap Dewi Sri yang dianggap penting dan mampu memberikan kesuburan bagi tanaman. Penghormatan terhadap Dewi Sri diwujudkan dalam sajian sajen yang serupa dengan ketupat dalam Islam (I Made Krida, 2003: 10).

Fungsi ketupat yang awalnya untuk penghormatan terhadap Dewi Sri berubah menjadi simbol rasa syukur yang dipanjatkan kepada Tuhan. Hasil akulturasi budaya ini, tidak serta merta menjadikan orang Islam Jawa meninggalkan bentuk penghormatan terhadap Dewa. Bentuk sesembahan berupa ketupat justru dialihkan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan arwah-arwah keluarga.

Praktik seperti ini masih dapat dengan mudah dijumpai di berbagai daerah. Salah satunya di Desa Bago, Tulungagung. Letak desa yang masih berada dekat dengan pusat kota ini nyatanya tetap menjaga kelestarian tradisi ketupat sebagai bentuk penghormatan terhadap  leluhur keluarga.

Menurut pemaparan Mbah Harianto, salah satu sesepuh di Desa Bago, tradisi ketupat sebagai sajen dalam penghormatan terhadap leluhur keluarga dilakukan selepas perayaan Idul Fitri atau selesainya puasa syawal. Dibarengi dengan tradisi lebaran ketupat atau kupatan, yang masing-masing rumah memberikan sajian ketupat pada tetangga dan sanak saudara sebagai bentuk permintaan maaf.

Sedangkan fungsi lain ketupat sebagai penghormatan terhadap leluhur keluarga dipraktikan dengan menggantungkan beberapa ikat ketupat di atas pintu rumah. Pemasangan ini dalam pandangan orang Jawa memiliki setidaknya dua aturan yang berbeda. Pertama, berkaitan dengan tradisi kupatan cilik atau kupatan kecil yang mana pemasangan ketupat tidak berlaku bagi seluruh keluarga. Keluarga yang diperbolehkan melakukan praktik ini adalah keluarga yang memiliki anak yang sudah meninggal dalam keadaan belum baligh. Sedangkan aturan kedua membolehkan seluruh keluarga untuk mempraktikan pemasangan ketupat ini kepada anggota keluarga yang telah meninggal tanpa mengenal batas usia.

Mayoritas orang Jawa menggunakan aturan yang kedua. Pemasangan ketupat ditujukan bagi seluruh leluhur keluarga. Sajen ketupat yang digantungkan di atas pintu memiliki alasan tersendiri. Sama halnya dengan sajen yang banyak diletakkan di tempat-tempat yang memiliki kedekatan dengan Dzat yang memiliki kekuasaan, seperti di atas pohon.

Di dalam rumah, pintu menjadi akses pertemuan sekaligus akses keluar masuknya anggota rumah. Bagian atas pintu dipilih agar ketupat aman, dan tidak dilangkahi orang, sekaligus dipercaya memudahkan leluhur keluarga untuk mencarinya.

Ketupat yang digantung pun tidak memiliki aturan khusus mengenai jenisnya. Artinya, segala jenis ketupat boleh digunakan dalam tradisi ini. Terkait jumlah ketupat yang dipasang, disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang telah meninggal. Hal ini berarti masing-masing leluhur keluarga mendapatkan satu bagian.

Dalam praktiknya di Desa Bago, ketupat yang digantung pun semula dalam kondisi matang, lama kelamaan dapat habis. Orang Jawa percaya bahwa leluhur keluarga telah datang dan menghabiskan ketupat tersebut. Aturan lain dalam pemasangan ini adalah ketupat yang digantung tidak diperkenankan untuk diambil atau dibuang sebelum habis. Ketupat akan benar-benar dibiarkan sampai mengering, dan baru diganti saat lebaran tiba di tahun berikutnya.

Selain dalam rangka untuk terus melestarikan tradisi ini, ketupat yang diganti sekali pada setiap tahunnya dimaksudkan agar memberikan kebebasan bagi leluhur keluarga untuk menghabiskan ketupat yang menjadi bagiannya untuk dimakan.

Penghormatan terhadap leluhur keluarga bagi orang Jawa yang salah satunya diwujudkan dalam sajen berupa ketupat, dimaksudkan untuk tetap menjaga hubungan antara anggota keluarga yang masih hidup dengan anggota keluarga yang telah meninggal. Orang Jawa percaya bahwa leluhur keluarga akan datang setiap hari raya ketupat datang, dan akan memakan ketupat bagiannya. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme