Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Filosofi Paes Pengantin Jawa

Anggun Sintya [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR []

Anggun Sintya [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR []

Paes ageng dalam tradisi orang Jawa dikenal sebagai tradisi rias manten. Namun, masuknya Islam ke tanah Jawa mengikis paes ageng sebagai tradisi pengantin Jawa.

Sejak dulu, paes ageng merupakan simbol kecantikan dan kedewasaan perempuan Jawa. Tradisi ini menjadi simbol dimulainya hidup baru dan tanda dewasanya seorang perempuan Jawa. Di samping itu, hal tersebut menyimbolkan kewibawaan mereka.

Makna kedewasaan yang terkandung mewakili transformasi seorang perempuan Jawa menjadi hidup bermartabat. Dengan menjalani kehidupan baru dan mempunyai gelar perempuan yang bersuami. Karena perempuan yang menikah dengan ritual adat jawa, salah satunya paes ageng memberikan kesan perempuan yang terhormat.

Secara umum, paes ageng terbagi menjadi dua pakem, paes Solo dan paes Yogja. Paes Solo terdiri dari Solo Basahan dan Solo Putri. Solo Basahan menggunakan warna paes hijau sedangkan solo putri paesnya berwarna hitam. Sedangkan paes Yogya terdiri dari Yogya paes ageng dan Yogya Putri. Yogya paes ageng berwarna hitam dengan ditambah payet-payet emas (prada) yang mengikuti alur paes. Sementara itu Yogya putri juga berwarna hitam tetapi tidak menggunakan payet emas.  Perbedaan ini tidak mengubah makna filosofis pada paes ageng.

Makna paes ageng ini bukan hanya untuk mempercantik diri, tapi juga membuang jauh perbuatan buruk. Paes ageng terdiri dari penunggul, pengapit, penitis, dan godheg. Penunggul merupakan lekukan yang berada di tengah dahi berbentuk seperti setengah telur bebek. Ini bermakna harapan kalau perempuan akan dihormati dan ditinggikan derajatnya.

Pengapit merupakan lekukan yang berada di samping kanan dan kiri penunggulbermakna mengontrol jalannya penunggul agar selalu lurus. Penitis, lekukan yang lebih kecil ini melambangkan segala sesuatu harus mempunyai tujuan yang efektif. Godheg, lekukan yang berbentuk cabang melambangkan agar kedua mempelai bertindak bijaksana dan selalu instropeksi diri. Paes terbuat dari pidih berupa campuran malam (lilin) tidak meleleh juga tidak padat.

Sebelum merias pengantin perempuan Jawa, perias mempunyai ritual yang sudah turun-temurun dilaksanakan. Pertama, melakukan puasa. Tujuannya riasan pengantin Jawa terlihat lebih cantik. Serupa dengan sang pengantin Jawa. Melakukan ritual puasa sebelum dirias dengan tujuan sebagai pembersihan diri dan menguatkan batin, juga terhindar dari malapetaka dan si pengantin suci saat melakukan ritual manten.

Kedua, menyiapkan sesajen berupa beberapa bunga hingga dupa yang diletakkan di sudut kamar yang nantinya akan digunakan tempat merias. Saat dirias, pengantin Jawa diminta duduk di atas tikar yang terbuat dari daun pandan dan sudah dialasi dengan kain putih. Sesajen disiapkan oleh perias dan diletakkan di penjuru kamar yaitu meliputi kelapa kuning, kemiri berkulit tiga biji, keluwak tiga biji, kacang-kacangan, jagung, beras, kain letrek, bedak, kaca kecil, minyak wangi, telur ayam kampung, gula jawa sepasang, benang lawe, kendi air, jodhog, seperangkat sirih, kembang boreh, pisang raja sepasang yang ditaruh pada satu tampah. Ketiga, sembaga. Setelah riasan selesai, membacakan do’a dan meniup ubun-ubun pengantin Jawa sebanyak tiga kali.

Dalam tata cara menggambar paes tidak boleh sembarangan, tapi menggunakan cara yang pakem. Sebelum menggambar paes, perias membuat cengkorongan dahulu yaitu menggambar pola paes dengan pensil alis sesuai dengan unsur paes. Supaya pola yang sudah pakem tidak berubah.

Tradisi ini masih dilestarikan sampai sekarang. Namun, tradisi ini sudah didominasi dengan budaya Islam, juga karena sedikitnya peminat untuk dirias dengan tata rias Jawa. Meski begitu, hal ini tidak menghilangkan ataupun mengubah unsur tradisi Jawa namun menggabungkan antara budaya Jawa dengan Islam.

Tradisi Jawa tetap dipegang teguh pada orang yang berprinsip hidup sebagai orang Jawa. Tujuan untuk pelestarian budaya dan tradisi yang sudah turun temurun. Sebagai tradisi yang mengakar pada masyarakat, meskipun pada akhirnya terjadi akulurasi dengan Islam.

Kebudayaan dan tradisi di Jawa memiliki karakteristik sendiri bagi masyarakatnya, sampai keberadaannya masih lestari hingga sekarang. Seperti Rias penganten Jawa tak ubahnya sama dengan tata rias modern. Hal ini, seharusnya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Karena, adat pengantin Jawa adalah salah satu kekuatan budaya Indonesia. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme