Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Melestarikan Tradisi Megengan

Anma Muniri [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester IV; Staf magang di IJIR []

Anma Muniri [] Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester IV; Staf magang di IJIR []

Megengan merupakan suatu tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan  masyarakat Jawa. Karena pada dasarnya megengan telah mendarah daging sejak dahulu hingga sekarang. Tradisi ini tetap utuh tidak mengalami sebuah perubahan meskipun zaman telah berganti.

Istilah megengan berasal dari bahasa Jawa, megeng berarti menahan. Maksudnya yaitu menahan dari dari hawa nafsu. Bagi masyarakat Jawa, hawa nafsu merupakan perkara yang wajib untuk dihindari karena kedekatannya dengan keburukan. Hal ini juga tidak dapat dilepaskan dari konteks masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi tradisi sufistik atau kemurnian hati dari hawa nafsu.

Masyarakat Jawa menyebut hawa nafsu ini dengan nama “babahan hawa songo” (keinginan sembilan hawa nafsu). Sembilan hal yang dimaksud yaitu, 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, 1 mulut, 2 lubang pembuangan.  Contoh hawa nafsu yang harus dihindari berkaitan dengan mata, yaitu melihat hal-hal maksiat. Telinga dilarang mendengarkan orang yang sedang menggunjing. Lubang hidung dilarang menghirup hal-hal yang tidak baik. Mulut dilarang meminum alkohol dan menggunjing orang lain. Dua lubang pembuangan dilarang digunakan untuk berzina.

Tradisi megengan dilakukan masyarakat Jawa untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, yang mana di dalam bulan tersebut umat Islam diwajibkan menahan diri dari hawa nafsu. Oleh sebab itu, sebelum datangnya bulan Ramadhan masyarakat Islam Jawa melakukan tradisi megengan sebagai tanda bahwa bulan puasa akan tiba sekaligus memulai berniat menahan hawa nafsu dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Selanjutnya, megengan dalam masyarakat Islam Jawa selain sebagai simbol menahan diri, juga merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas  datangnya bulan yang penuh ampunan dan keberkahan tersebut.

Biasanya masyarakat mengekspresikan megengan dengan membuat makanan. Terdiri dari makanan pokok berupa nasi dengan lauk pauk yang bermacam-macam, mulai dari ayam, telur, sayur-sayuran, tempe dan lain-lain. Menu tambahan yang tidak boleh dilewatkan adalah apem.

Seperti yang telah kita ketahui, apem merupakan simbol permintaan maaf. Permintaan maaf dalam megengan lebih ditekankan kepada tetangga apabila ada salah dan dosa. Maka, makanan yang dibuat dalam tradisi megengan dibagikan kepada tetangga, kerabat dekat dan orang yang kurang mampu.

Bila ditinjau secara historis, menurut Prof. Dr. Nur Syam, tradisi megengan ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Pendapat ini dikuatkan dengan peran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam melalui proses kultural, yang secara bersamaan membentuk nilai-nilai etis kemasyarakatan yang bersumber dari ajaran Islam (Agus Sunyoto, 2017: 278).

Akulturasi yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga ini menyebar hampir ke setiap daerah di Jawa untuk turut melakukan tradisi megengan, tidak terkecuali di Dusun saya, Dusun Wonogondo, Kabupaten Trenggalek. Tradisi megengan ini masih sangat kental dan kuat terasa di wilayah ini. Hampir semua perempuan disibukkan memasak hidangan megengan di rumahnya masing-masing.

Dalam membuat makanan ada aturan tersendiri yang dikhususkan untuk megengan. Hidangan harus berupa makanan yang sudah jadi berupa makanan pokok yang dimakan dalam kehidupan sehari-hari. Makanan seperti jajanan toko tidak diperkenankan dan harus dihindari karena tidak sesuai dengan ketentuan tradisi yang berlaku.

Setelah makanan untuk megengan jadi, makanan tersebut biasanya diantarkan ke tetangga. Biasanya antara satu tetangga dengan yang lainnya bisa saling menerima masakan tersebut. Bahkan satu keluarga bisa menerima 8 sampai 10 masakan yang berbeda-beda  sesuai yang dikirimkan oleh tetangga.

Selanjutnya, dalam hal mengantar, terdapat dua cara yang berbeda dalam mengantarkan makanan megengan, yaitu bisa diantar ke rumah tetangga dan bisa di antar ke mushola atau masjid. Kedua cara yang berbeda tersebut juga mempengaruhi waktu dan cara menyajikan makanan megengan.

Bila diantar kerumah tetangga, cara menyajikan megengan biasanya diantar dengan menggunakan piring, waktu yang digunakan biasanya menjelang magrib. Waktu tersebut merupakan simbol indahnya berbagi makanan menjelang berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Bila diantar ke masjid ataupun mushola, maka harus berbondong-bondong membawa makanan tersebut dari rumah ke masjid bisa menggunakan piring ataupun dengan menggunakan daun pisang. Waktunya biasanya habis magrib agar dimakan bersama-sama oleh masyarakat selepas sholat berjamaah. Hal ini menyimbolkan kerukunan antar sesama masyarakat.

Tradisi megengan ini menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa memiliki ekspresi sosial dalam merayakan datangnya bulan Ramadhan. Sesungguhnya tradisi ini mengajarkan arti indahnya berbagi kepada sesama, yang dalam Islam biasa disebut shadaqoh. Selain itu, tradisi ini juga menjauhkan masyarakat dari sifat pelit dan kikir. Dengan melestarikan tradisi megengan ini, diharapkan  dapat membangun kerukunan dan kesejahteraan masyarakat Jawa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme