Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Mengenang Sakralitas Alun-Alun Blitar

Rina Dewi Umayah [] Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir Semester IV; Staf Magang IJIR []

Rina Dewi Umayah [] Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir Semester IV; Staf Magang IJIR []

Masyarakat Blitar dahulu menjadikan alun-alun sebagai tempat yang sakral. Karena di tempat ini upacara keagamaan biasanya dilakukan. Alun-alun juga merupakan pusat pemerintahan masa lalu.

Pada dasarnya alun-alun merupakan sebuah halaman depan rumah seorang penguasa dengan ukuran yang luas. Kediaman penguasa dianggap sebagai miniatur makrokosmos. Karena itu wilayah ini biasanya dianggap sakral. Hal ini merupakan perwujudan dari pusat orientasi atau pusat kota dalam konsep kota di Jawa (Handinoto, 2010: 219).

Dalam kosmologis tata letak kota di Jawa, alun-alun berada di tengah. Penguasa Blitar zaman dahulu telah merancang penataan tersebut secara tradisional, yaitu alun-Alun berada di tengah, Masjid di sebelah Barat, pendopo (kediaman Bupati) di sebelah Utara, sel tahanan di sebelah Timur, dan struktur pusat kota di sebelah Selatan. Hal ini sesuai dengan pendapat W.F. Wertheim (Tjandrasasmita, 1993: 218; Tjandrasasmitha, 2009: 258).

Alun-alun Blitar terletak di Jalan Merdeka. Dibangun kisaran tahun 1875 bersamaan dengan pembangunan kediaman Bupati Blitar KPH. Warsoekoesomo di sebelah Utara. Pembangunan tersebut terjadi karena peralihan pusat pemeritahan yang sebelumnya terletak di pinggir kali Pakunden terkena erupsi Gunung Kelud.

Ruang publik ini memiliki dinamika fungsi dari generasi ke generasi. Fungsi awal alun-alun Blitar adalah sebagai tempat dilakukannya kegiatan-kegiatan sakral seperti upacara keagamaan dan penobatan jabatan pemerintahan. Selain itu juga digunakan sebagai perayaan-perayaan tahunan ataupun pesta rakyat.

Pada masa Kolonial Belanda alun-alun Blitar juga mendapat pengaruh. Dibuktikan dengan adanya bangunan sel tahanan di Timur Alun-alun. Pengaruh yang lain yaitu mulai terjadi pergeseran fungsi, yang sebelumnya digunakan sebagai kegiatan sakral lebih banyak digunakan sebagai kegiatan masyarakat. Bahkan juga dijadikan tempat penyambutan pejabat asisten Residen ataupun Gubernur Jendral.

Kini alun-alun Blitar lebih difungsikan sebagai kegiatan peringatan hari-hari besar, seperti karnaval 17 Agustus, Grebek Pancasila, Blitar Tempo Dulu (peringatan hari jadi Blitar) dan perayaan lainnya. Alun-alun juga difungsikan sebagai tempat pariwisata yang menarik wisatawan lokal maupun manca negara.

Penampilan fisik alun-alun Blitar kini telah mengalami banyak perubahan. Tidak ada lagi pohon beringin kembar yang menjadi simbol utama alun-alun tersebut. Yang ada hanya satu pohon beringin yang diberi kurung di tengah alun-alun. Selain itu di pinggir alun-alun juga telah ditanami berbagai macam tanaman seperti pohon palem yang lebih menggambarkan alun-alun masa kini. Dan di sebelah timur telah dibangun fasilitas olah raga permanen dari besi yang dapat digunakan masyarakat untuk melakukan aktifitas olah raga setiap akhir pekan.

Di balik keindahan alun-alun Blitar, orang banyak yang tidak mengetahui siapa arsitek alun-alun tersebut, ialah Bawadiman Djojodigdo. Beliau lahir di Kulon Progo pada tanggal 29 Juli 1827. Beliau merupakan Patih Blitar sebagai administratrur tertinggi di bawah seorang Bupati. Dan beliaulah yang mewariskan budaya rampogan macan di alun-alun Blitar.

Ritual rampogan macan di alun-alun Blitar biasanya dilaksanakan pada hari raya ke-7 (hari raya ketupat). Tujuannya sebagai tolak balak agar terhindar dari erupsi gunung Kelud. Adanya ritual rampogan macan ini dibuktikan dengan adanya bekas kandang macan yang terletak di sudut alun-alun Utara, dan adanya bekas cakaran pada sebuah batu yang dapat memperkuat argumen bahwa macan tersebut memang sengaja dipelihara sebelum diadu. Namun setelah adanya larangan, rampogan macan hanya dilaksanakan secara simbolis.

Menjadi ironi apabila seluk-beluk sejarah alun-alun Blitar tidak digali dan dipelajari. Karena alun-Alun sendiri telah termaktub dalam kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca, yang mana masyarakat tani saat itu mempunyai kepercayaan bahwa sebelum melakukan cocok tanam haruslah meminta izin kepada Dewi Tanah dengan membuat sebuah lapangan atau tanah sakral yang kemudian dikenal sebagai alun-alun.

Alun-alun Blitar dari masa ke masa mengalami peralihan fungsi. Dulu, ruang publik ini merupakan tempat sakral yang dibanjiri dengan ritual dan upacara-upacara keagamaan. Kini telah bergeser menjadi ruang publik masyarakat modern. Di mana masyarakat modern bisa melakukan wisata, parade, pertunjukan band, ataupun berkumpul dalam acara formal.

Setelah menyelami sejarah alun-alun Blitar, selayaknya warga daerah harus bisa mengeksplore produk budayanya dengan sebaik-baiknya. Kenali dirimu, leluhurmu, daerahmu, dan budayamu. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme