Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kendurian Bagi Sapi

Khusnul Khotimah [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Khusnul Khotimah [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Sapi perah sangat dihormati oleh masyarakat Geger, Sendang, Tulungagung. Hal ini tampak dalam perayaan kendurian wuyenan dan berokohan. Kendurian ini menjadi perayaan besar untuk para sapi. Karena menurut keyakinan masyarakat Geger keberadaannya melimpahkan banyak manfaat bagi masyarakat.

Di antara manfaat sapi perah yakni menghasilkan susu dan daging. Tetapi di desa Geger, Sendang, sapi juga dimanfaatkan susunya untuk mendapatkan penghasilan. Setiap harinya susu diperah untuk disetor ke pengumpul.

Karena hasil susu yang melimpah, masyarakat desa Geger mempunyai kendurian/ perayaan ulang tahun sapi. perayaan ini diperingati setiap wuku wuye, oleh masyarakat  dinamakan kenduri wuyenan.

Nama wuyenan sendiri diambil dari nama wuku Jawa. Wuye menempati urutan ke-22 dari penanggalan Jawa. Wuye merupakan bulan baik untuk memperingati ulang tahun sapi. Tradisi ini dirayakan tepatnya pada hari kamis pon wuye. Perayaan tersebut masih dilestarikan sampai sekarang.

Perayaan ini diadakan oleh para peternak sapi. Para peternak ini meyakini bahwa perayaan tersebut sebagai rasa syukur, karena diberikan hasil susu sapi yang melimpah. Mereka juga menganggap, jika tidak dilakukan bisa menimbulkan turunnya hasil susu sapi, karena kepercayaan mayarakat masih kental terhadap nenek moyang.

Saat perayaan wuyenan ini, harus ada yang namanya asahan, sejenis tumpeng.  Keberadaanya sebagai simbol ungkapan syukur. Asahan berisi makanan yang bersumber dari hasil bumi, berupa sego gureh, sayuran, jenang sengkolo, wedang kopi, uker dan ayam ingkung.

Simbol ini mempunyai makna tersendiri. Jenang sengkolo merupakan perhitungan dari weton Jawa. Sego gureh dan sayuran sebagai tanda bahwa Geger memiliki tanah yang subur dan bisa ditanami berbagai macam tanaman. Ingkung melambangkan binatang yang dapat dipelihara. Sedangkan uker di dalamnya berisi sirih, tembakau dan uang sebagai bentuk sedekah.

Namun, dengan berkembangnya zaman isian dalam asahan semakin sedikit. Hanya ada ingkung, nasi gureh dan sayuran untuk pelengkap asahan. Hal ini, karena praktik isian asahan berbeda sesuai orang tua yang mengajari.

Dalam menyediakan asahan harus ditempatkan pada lengser besar dan ditata rapi. Sego gureh diletakkan pada bagian bawah. Kemudian di tasnya diletakkan ayam ingkung dan di kanan-kirinya diletakkan sayuran.

Setelah semua asahan selesai tuan rumah ondhang-ondhang atau mengundang tetangga. Hanya laki-laki dalam satu rumah yang boleh mengundang. Dan yang pertama kali diundang adalah orang yang merapalkan do’a, dilanjutkan  tetangga yang lain.

Di rumah warga tersebut, acara dimulai dengan doa, dipimpin oleh salah satu orang yang dituakan. Pemimpin do’a adalah orang yang memiliki trah merapal. Perapalan do’a ini dinamakan kendurian.

Setelah selesai berdoa, tetangga yang hadir mendapat asahan kenduri. Mereka bersantai sambil bercengkrama dan menikmati kopi yang disediakan tuan rumah. Saat dirasa cukup, para tamu undangan tersebut berpamitan dengan mengucapkan terimakasih dan berdo’a agar terkabul hajat tuan rumah. Slametan ini dilaksanakan secara bergantian oleh para pemilik sapi

Tradisi tersebut biasa dilakukan oleh para laki-laki. Karena ada anggapan, hal tersebut tidak baik dan tidak sopan jika dilakukan oleh perempuan baik anak-anak ataupun orang tua. Para perempuan hanya bertugas memasak dan menyiapkan keperluan perayaan

Setelah melaksanakan kendurian, malam harinya perayaan diteruskan dengan pawai oyen. Pawai ini menampilkan hasil bumi, arak-arakan obor, tumpeng. Arak-arakan dimulai dari Sendang dan berakhir di lapangan Sendang.

Arakan ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan karena telah dianugerahi daerah yang subur, serta sapi yang dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan susu yang melimpah. Sehingga menyebabkan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Sendang. Dalam arakan ini petani dan peternak berkumpul dalam satu tempat.

Tidak hanya wuyenan, kendurian sapi yang lain yaitu berokohan. Berbeda dengan wuyenan acara ini dilakukan sebagai rasa syukur atas kelahiran sapi. Pelaksanaannya  beberapa hari setelah sapi lahir. Dan hanya dilakukan oleh peternak yang sapinya baru melahirkan.

Peternak mengundang para tetangga berkumpul di rumahnya untuk melakukan kenduri. Dalam slametan ada asahan yang berisi nasi, sayuran dan ingkung saja. Kemudian mereka memanggil tetangga untuk kendurian. Tetangga yang hadir mengucapkan selamat kepada tuan rumah.

Dalam kendurian di desa Geger, asahan adalah simbol wajib. Hanya isian dalam asahan yang membedakan perayaan yang diperingati. Seperti berokohan dan wuyenan yang membedakan adalah uker dan jenang sengkolo. Perbedaan tersebut biasanya berdasarkan perhitungan weton atau pasaran dalam Jawa.

Selain perbedaan weton, ketidaksamaan isian dalam asahan adalah proses belajar yang turun menurun pula. Nenek moyang mengajarkan secara lengkap, kemudian generasi selanjutnya mengurangi satu persatu sehingga tinggal beberapa isian yang masih ada.

Bentuk rasa syukur ini merupakan bukti kedekatan manusia dengan hewan peliharaannya. Manusia juga akan lebih menghargai hewan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, sehinga manusia memperlakukan hewan dengan selayaknya. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme