Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Santri-Abangan dalam Ritual Bersih Desa

Syafik Saifulloh F. [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Syafik Saifulloh F. [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf Magang IJIR []

Bersih deso adalah bentuk slametan bercorak Jawa kuno. Ritual ini berbeda-beda di tiap kampung, namun memiliki tujuan sama seperti slametan. Menurut pandangan orang Jawa, bersih deso merupakan ritual Jawa yang bertujuan untuk memohon perlindungan kepada Tuhan yang Maha Esa dari pengaruh mistis.

Pengaruh mistis yang dimaksudkan adalah kekuatan makhluk halus yang bersifat negatif (membahayakan atau mengganggu ketentraman desa). Oleh sebab itu, masyarakat percaya bahwa dengan melakukan ritual bersih deso mereka akan terbebas dari malapetaka yang disebabkan makhluk halus.

Hal yang memberikan corak tersendiri dari tradisi bersih deso adalah tata cara pelaksanaannya. Corak tersebut masih menggunakan sistem tumbal sebagai persyaratannya. Ini masih dilakukan di daerah Gondang, Tulungagung. Selain itu, ritual ini bertujuan untuk menghormati penjaga desa (danyangan).

Di setiap daerah, kriteria danyangan itu bermacam-macam. Sebagaimana contoh, daerah Gondang dalam melaksanakan bersih deso memiliki persiapan yang unik namun jarang ditemui. Persiapan yang mereka lakukan adalah sebuah kambing untuk ditumbalkan. Jenis kambing ini adalah wedus kendhit (kambing hitam dengan lingakaran putih diperutnya). Kambing jenis ini nantinya akan disembelih dan diambil beberapa bagian tubuh untuk dijadikan tumbal untuk danyangan dan sebagai penolak hal negatif yang ingin masuk ke daerah desa tersebut.

Masyarakat daerah tersebut memilih wedus ini dalam tradisi karena dianggap sebagai kambing yang sulit dicari dan dianggap sakral karena ketaklaziman bentuk jasmaninya.

Bagian-bagian yang dikhususkan untuk pelaksaanaan bersih deso berupa kepala dan keempat kaki yang akan dikuburkan dengan urutan yang tepat. Pertama, orang Gondang menguburkan bagian kepala terlebih dahulu di tengah atau pusat desa. Kepala merupakan organ vital, karena itu dikuburkan di pusat desa. Bertujuan untuk melindungi induk desa (pusat desa). Selanjutnya menguburkan keempat kaki di setiap perbatasan desa, bertujuan untuk menjadikan tolak balak masuknya makhluk gaib yang memiliki kekuatan negatif. (Sudarminto, 2018)

Selain bertujuan untuk perlindungan, masyarakat Gondang. bersih deso juga tujuan bertujuan memberikan ketentraman kepada masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari agar tidak diganggu makhluk gaib, seperti dalam bidang pertanian. Dikarenakan keseluruhan masyarakatnya memiliki pekerjaan bertani maka mereka berharap agar tidak terjadi gagal panen. Tidak hanya tentang pertanian, tetapi juga kesejahteraan masyarakat desa.

Pelaksanaan bersih deso juga ditentukan berdasarkan tanggalan Jawa. Bersih deso sering diadakan tiap tahun pada bulan Sela bulan ke-11 tahun Qamariyah. Pelaksanaan bersih deso ini memiliki kesamaan dengan argument Geertz. (Clifford Geertz, 1985: 110). Dilakukan pada bulan Sela karena sistem penanggalan orang Jawa yang mengatakan bulan tersebut merupakan bulan paling tepat untuk ritual Jawa. Gondang sebagai daerah yang masih menyimpan ajaran mistis sering melakukan ritual ini pada Rabu legi.

Dalam pelaksanaan ritual bersih deso, selalu dibarengi dengan kendhuren. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan di rumah kepala desa. Kendhuren dilangsungkan untuk tujuan syukuran atas limpahan anugerah yang diberikan kepada desa.

Kendhuren mewajibkan bagi setiap kepala keluarga yang sudah dewasa untuk mengikuti acara ini, baik seorang abangan maupun santri. Sering kita jumpai bahwa kendhuren selalu dilaksanakan ba’da magrib atau menjelang malam. Biasanya dipimpin oleh Modin (orang yang pintar dalam agama), namun ada beberapa daerah yang dipimpin oleh kepala desa sekaligus.

Kegiatan tersebut masih bersangkutan erat dengan slametan, sehingga selalu diawali dan diakhiri dengan doa. Doa menyebut nama-nama leluhur dan danyangan sebagai rasa hormat kepada leluhur. Doa selalu merupakan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan rezeki pada desa tersebut. Masyarakat Gondang, biasanya menambahkan beberapa doa dan surat pendek Al-Qur’an. Penambahan amalan tersebut ada sejak datangnya Islam ke Tanah Jawa. Dengan begitu, bersih deso khususnya daerah Gondang merupakan kegiatan yang terus mempertemukan kalangan abangan dan santri menjadi satu. Keduanya memiliki peran yang sama dalam pelaksanaan hajatan tersebut.

Hal ini menunjukan bahwa tradisi Jawa juga memiliki karakteristik yang berdampak pada hal positif. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi Jawa mulai pudar dengan perkembangan zaman disertai dengan doktrin-doktrin agama yang membuat seseorang menjauhi tradisi-tradisi Jawa seperti bersih deso.

Kesakralan tradisi yang seharusnya dipelihara dan dikembangkan menjadi terkikis dan menghilang dengan perlahan akibat arus purifikasi agama. Padahal dalam dialektika kehidupan, sebagian tradisi Jawa juga mengandung sifat keagamaan yang kental, sehingga sepatutnya tetap dipelihara dan dilestarikan.[]

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme