Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Menelusuri Jejak Dakwah Sunan Sendang Duwur

Noviya Anggreani N [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Noviya Anggreani N [] Mahasiswa Sosiologi Agama Semester II; Staf Magang IJIR []

Sunan Sendang Duwur merupakan salah satu dari sekian sunan yang ada di Lamongan. Ia menjadi tokoh penyebar Islam yang juga berkawan dengan Sunan Drajat. Keduanya, menyiarkan ajaran Islam dengan mengakulturasikannya dengan budaya Jawa. Menariknya, akulturasi semacam ini, masih dihayati dan dilestarikan oleh masyarakat hingga saat ini. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui seluk beluk mengenai salah satu tokoh yang berjasa di daerah Lamongan tersebut.

Sunan Sendang Duwur, lahir di Desa Sedayulawas, Brondong, Lamongan pada tahun 1520 M. Nama aslinya adalah Raden Noer Rahmat.  Ia adalah seorang wali berdarah keturuan Bagdad dan Jawa. Meski demikian, ia menghabiskan seluruh umurnya di Lamongan.

Mulanya, Raden Noer Rahmat menetap di Sedayulawas. Namun, semenjak ayahnya meninggal dunia, ia dan ibundannya pindah ke Dukoh Tunon. Awalnya, Dukoh Tunon masih berupa hutan yang sangat lebat.  Hingga suatu waktu, Ia ditemani ibundanya, membabat hutan tersebut dan menamainya dengan Dukoh Tunon.

Pada saat ia membabat Desa Dukoh Tunon, masyarakat yang tinggal di dekat hutan Tunon (Desa Suto dan Desa Lebak) mayoritas menyembah tempat-tempat keramat, meletakkan sesajen di lereng gunung dan membakar kemenyan di dekat pohon besar. Namun, semenjak adanya beliau masyarakat mulai berubah mengikuti tradisi yang dilakukan Sunan Sendang Duwur. Salah satu tradisi yang diikuti oleh masyarakat setempat adalah slametan, karena slametan itu sebagai simbol wujud bakti orang Jawa. Slametan juga bisa dijadikan untuk ungkapan rasa syukur.

Sunan Drajat mendengar akan kehebatan Sunan Sendang Duwur. Beliau langsung mendatangi ke desanya. Ketika tiba di Desa Dukoh Tunon, Sunan Drajat merasa kehausan dan berjumpa dengan Raden noer Rahmat. Ia meminta izin kepada Raden Noer Rahmat untuk meminta buah siwalan, lalu ditepuk tiga kali, buah itu berjatuhan semuanya.

Melihat kejadian itu Raden Noer Rahmat mengingatkan Sunan Drajat bahwa cara seperti itu akan menjadikan buah yang belum masak akan mati. Melihat kejadian itu Ia kagum akan kepandaian dan kesaktian yang dimiliki oleh Sunan Sendang Duwur.

Semenjak kejadian itu mereka semakin akrab. Mereka mempunyai tujuan yang sama ingin memyebarkan agama Islam yang berbasis akulturasi budaya Jawa di Desa Sendang Duwur. Ssetelah itu, Sunan Drajat memerintah Raden Noer Rahmat untuk pergi ke Mantingan Jepara, Jawa Tengah untuk menemui Mbok Randa Mantingan untuk membeli masjid miliknya. Mbok randa menolak masjidnya untuk dibeli, tetapi ia harus memindahkan masjid itu ke tempatnya tanpa bantuan orang lain

Mengetahui hal tersebut, ia bertirakat dan berdo’a kepada Allah supaya bisa memiliki masjid sebagai pusat penyiaran agama di Desa Sendang, akhirnya setelah kurang lebih 40 hari berdo’a kepada Allah, mereka berdua memperoleh petunjuk untuk menghentakan kakinya ke tanah kemudian masjid itu pindah sendirinya ke Desa Sendang, tempatnya tinggal. Keberadaan masjid yang secara tiba-tiba itu diberi nama Masjid Tiban, Sendang Duwur.

Masjid Sendang Duwur sekarang tidak hanya dijadikan tempat ibadah saja akan tetapi bisa dijadikan sebagai tempat perkumpulan berbagai akktivitas agama. Masjid Sendang juga bisa sebagai tempat untuk melestarikan tradisi budaya yang mempererat kebersamaan antar sesama.

Di dalam masjid Sendang juga terdapat bedhug dan kentongan yang usianya sudah sejak 1414 M. Bagi masyarakat Jawa bedhug merupakan salah satu benda yang dikeramatkan. Bedhug dalam seni karawitan Jawa merupakan salah satu alat umat Hindu Budha, bedhug digunakan untuk seni tabuhan dan tambur pada ritual keagamaan. Namun pada masa Sunan Sendang Duwur bedhung hanya di gunakan sebagai pertanda untuk sholat

Sunan Sendang Duwur juga membudayakan masyarakatnya untuk bersedekah. Tradisi sedekah sebagai salah satu ritual yang bersifat sakral, tradisi dilaksanakan dengan berbagai keperluan sebagai tanda solidaritas yang tinggi antar sesama

Hingga saat ini juga ketika merayakan hari-hari besar Islam bahkan pada saat haulan Sunan Sendang Duwur masyarakat selalu berpartisipasi untuk bersedekah dan menyerahkan beraneka makanan khususnya menyajikan makanan khas Sendang Duwur untuk mengingat dan meneladani Sunan ketika beliau tirakat dan riyadah.

Ia juga membudayakan masyarakatnya untuk mengadakan tradisi bancaan, acara tersebut terjadi karena untuk merayakan kemenangan atas terpenuhinya apa yang sudah diberikan oleh Allah untuk masyarakat setempat,

Tradisi bancaan berupa tumpengan nasi yang dikelilingi beraneka macam lauk pauk. Ada juga yang bancaan mengunakan bentuk persis gambar garuda lengkap dengan hiasan warna-warni. Bancaan disajikan tumpengan dimaksud untuk menyatakan hasrat dan keinginan supaya hidup makmur dan sejahtera. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme